Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Internasional

Cerita Eksis Adelindo Angklung di Negeri Kanguru

Diaspora
13 Mar 2018
Cerita Eksis Adelindo Angklung di Negeri Kanguru

hariansuara.com, Jakarta -   Akhir 2010 Ferry Chandra  teringat, ibu mertua menghibahkan beberapa set angklung untuk dibawa ke Adelaide. Ya, angklung, lantas kenapa alat musik ini dibawa?

Jika dirunut dari Ferry bertutur, Angklung sepertinya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan Ferry dan Istrinya, Yenni. Maklum saja, Ferry yang  dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta semenjak tahun 1988 sudah mulai aktif bermain angklung beserta istri.

Mereka bersama Ibu mertua, istri dan kakak ipar bermain angklung untuk menghibur para lansia di perkumpulan Tua Sama Tua (TST) di Jakarta. Tahun 1999, Ferry dan istri beserta kedua anaknya pindah ke negara bagian selatan Australia dan tinggal di kota Adelaide, Australia.

Kebiasan menghibur para orang tua (Lanjut Usia) terbawa Ferry ke negeri Kangaru. Awalnya dengan alat seadanya, dia  bersama grupnya wara wiri ber-angklung ria menghibur orang Indonesia di South Australia. Bagaimana cerita Ferry dan Yenni "mengembara" bersama angklung, berikut obrolan santai bersama hariansuara.com beberapa waktu lalu. 

Bisa diceritakan latar belakang dibentuknya kelompok angkung Adelindo di Australia? 

Pada mulanya kami hanya ingin menghibur para Lansia Indonesia di Adelaide dengan angklung dimana kami sudah biasa menghibur para lansia (di Yayasan Tua Sama Tua di Jakarta). Jadi sebagian angklung angklung tersebut (milik ibu mertua saya) dihibahkan ke saya untuk dipergunakan dalam hal menghibur Lansia di Adelaide. Sekarang grup kami sudah mulai dikenal bukan saja di Adelaide tapi di seluruh bagian Australia bahkan grup kami sudah berkunjung ke Auckland (New Zealand) di acara Wonderful Indonesia dan juga di Hawaii (AS).

Pada saat orang orang Hawaii mendengar suara angklung, merekapun meminta kami kembali untuk perform di acara Thanksgiving Festival 11 November 2018 nanti. Grup angklung kami berdiri bulan Maret tahun 2011

Mengapa memilih Angklung dan bukan jenis musik tradisional Indonesia lainnya? 

Kebetulan sekali alat musik traditional lainnya sudah ada komunitasnya di Adelaide seperti Gamelan Jawa, Gamelan Sundagroup Kendang dan lain sebagainya.

Adakah suatu misi tertentu dalam membentuk kelompok ini? 

Misi kami adalah  dengan angklung kami bisa mempersatukan semua lapisan yang ada di Australia dengan bermain bersama dalam harmoni. Tidak ada kekesalan maupun hati yang jahat, semua bermain dengan tersenyum dan hati lapang dan mereka bisa menerima perbedaan, bahkan mereka merasa berbeda itu suatu anugerah yang sangat indah. Yang kedua, kami ingin menyatakan kepada Australia bahwa Indonesia adalah suatu tempat yang baik dan nyaman. Jangan hanya hal-hal kecil dibesar-besarkan sehingga bisa memperuncing dikedua negara tersebut yang sebenarnya mereka saling tergantung satu sama lainnya.

Untuk anggotanya sendiri berasal dari mana sajakah? Dari Indonesia atau kah campur?

Tentu saja 'Saung Adelindo Angklung' terbuka untuk semua orang di Australia. Saung kami telah diresmikan oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia di Sydney. Jadi setiap orang boleh datang dan belajar angklung tentunya. Pemain ada yang dari Australia, Malaysia, dan lain sebagainya. Namun sebagian besar yang menjadi pemain inti adalah orang orang dari Indonesia yang menetap di Adelaide. Plus latar belakang dari anggotanya? Latar belakangpun sangat beragam ada dari kalangan anak anak dimana kami memulainya dari usia sangat dini yaitu 3 tahun dan yang tertua sudah berumur 78 tahun. Ada yang perrofesi sebagai guru, professional dan lainnya. 

Keunikan apa yang dimiliki oleh Adelindo?

Adelindo selalu mencari jalan yang sangat mudah untuk dipahami oleh setiap pemain, maka dari itu mulai dari umur 3 tahun sampai 78 tahun mereka bisa memainkannya dengan baik. 

Memainkan angklung belajar secara otodidak ataukah formal?

Pada awalnya kami belajar angklung secara otodidak dan tidak pernah ada pendidikan angklung sebelumnya. Namun setelah kami bermain lebih serius, kami pun belajar ke Saung Udjo dan kami menjadi distributor angklung Saung Udjo.

Lantas bagaimana latihannya? Adakah kesulitan tertentu?

Latihan diadakan setiap hari Jumat pukul 6 sore sampai selesai. Kesulitan pasti ada seperti tempat latihan yang kurang memadai sehingga bisa menggangu lingkungan dengan suara yang tidak nyaman pada saat kami berlatih karena harus di ulang terus menerus.

Untuk pentasnya sendiri sudah dimana sajakah?

 Seperti apa yang kami sebutkan diatas,kami pentas disetiap acara besar di Adelaide seperti Indofest, OZAsia dan sebagainya. Kami pun pernah bermain bersama dengan menggunakan angklung dengan jumlah angklung sebanyak 6041 (atas perhitungan dari Guiness World Record) pada tahun 2014. Kami juga mengajar dan mengajak perform sekolah-sekolah di acara Wonderful Indonesia yang diadakan di Australia. Dalam satu tahun biasanya kami perform sekitar 70 kali per tahun. Dalam hal ini tidaklah menjadi kebanggaan kami karena dengan banyaknya permintaan maka kami kekurangan hari untuk berlatihan sehingga penambahan lagu baru sangatlah lambat. Jadi kami mencoba untuk membatasi performance kami di tahun 2018 ini.   

Bisa diceritakan plus suka duka mengurus kelompok angklung ini? 

Banyak sekali suka dukanya dalam mengurus kelompok angkung kami. Sukanya kami senang sekali kalau pada saat kami bermain mereka bisa menangis mendengar suara angklung yang sangat merdu. Bahkan diantara orang Indonesia sekalipun ada yang menyatakan kalau mereka juga baru pertama kali bermain angklung bersama-sama. Ini adalah suatu kesenangan luar biasa dimana kami bisa share melalui angklung. Dukanya, disini tidak ada pembantu yang bisa disuruh membantu mengangkat dan menurunkan angklung set kami yang cukup besar.

Untuk lagunya sendiri, lagu seperti apa yang biasa dibawakan?

Lagu yang kami bawakan cukup banyak ragammya, mungkin secara garis besarnya saja dimana angklung zaman sekarang bisa memainkan lagu lagu dengan irama Jazz, Clasic, Pop Barat/Indonesia, Dangdut, Keroncong, jadi semua irama bisa dimainkan. 

Bagaimana respon dari masyarakat luar dengan keberadaan kelompok ini selama pentas? 

Dengan banyaknya performance yang kami lakukan sampai 70 kali pertahun, bisa dibayangkan antusias warga Australia terhadap angklung tentunya. Acara Singapore Independence juga mereka minta dimainkan dengan angklung. Acara Malaysia, Africa, Italy, dan lainnya mereka juga selalu minta kami main diacara mereka. Belum lagi di Nursing home dan juga di retirement village.

Bagaimana dengan harapan kelompok angklung ini di kedepannya?

Harapan kami adalah agar pemerintah Indonesia dan Australia bisa menggunakan Adelindo sebagai sarana untuk menjalin hubungan diantara kedua negara tersebut menjadi lebih baik lagi.(*)

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X