Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Dr Connie Rahakundini Bakrie Menyoal AW 101 Agusta: DARI PERANG INDHAN SAMPAI KESELAMATAN RI I

Nasional
31 Dec 2016
Dr Connie Rahakundini Bakrie Menyoal AW 101 Agusta: DARI PERANG INDHAN SAMPAI KESELAMATAN RI I

Belakangan, kembali media diramaikan oleh pemberitaan simpang siur tentang penting-tidaknya pengadaan Heli Angkut Berat untuk penguatan TNI Angkatan Udara. Berita hoax pun dilempar ke masyarakat untuk mengaburkan realita yang semestinya dikemukakan demi mewujudnya Indonesia yang maju dan sejahtera.  

 

Diketahui, TNI Angkatan Udara menjadi andalan bangsa ini, khususnya tatkala terjadi bencana alam. Pesawat TNI AU menjadi sarana transportasi udara dalam mengirimkan bantuan logistik, melaksanakan SAR (search and rescue), sampai mengevakuasi korban untuk pertolongan medis. Adalah mutlak jika TNI Angkatan Udara mengembangkan kekuatan dan kemampuan operasi udaranya.

 

Terlebih jika kita sadari letak Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik dengan banyaknya gunung berapi. Indonesia termasuk wilayah yang  sangat rentan terhadap bencana alam. Tercatat, dalam 15 tahun terakhir, Bumi Pertiwi kita terus menghadapi letusan gunung berapi, gempa bumi, banjir dan tsunami yang menelan ratusan ribu manusia dan kerugian material dan immaterial.

 

Mengantisipasi hal tersebut, TNI Angkatan Udara pun berinisiatif untuk meningkatkan sarana transportasi udara dengan mengadakan alat utama sistem pertahanan (alutsista) berupa helikopter angkut berat militer serba guna yang berdaya angkut besar, berjarak jangkau jauh, handal serta mampu beroperasi di segala medan dan cuaca. Pilihan TNI Angkatan Udara selaku lembaga jatuh pada AW 101 Agusta, karena heli ini mampu memenuhi kebutuhan tersebut, berdasarkan analisis dan kajian historis serta berkoordinasi dengan stake holders terkait.

 

Diajukanlah pada rencana strategis 2015-2019 tentang pengadaan 6 helikopter angkut berat dan 2 Helikopter VVIP. Namun, sesuai arahan Presiden dan Panglima TNI, pada Desember 2015, pengadaan pesawat helikopter untuk VVIP ditunda. TNI Angkatan Udara pun tunduk pada kebijakan tersebut, dan membatalkan semua rencana pembelian pesawat VVIP itu.  

 

Namun, pada 2015 TNI Angkatan Udara mendapat DIPA UO TNI AU TA 2016, dan usulan membeli pesawat heli angkut berat militer disetujui dengan memakai APBN 2016. Sesuai prosedur dan aturan yang berlaku serta diketahui semua pihak, pada 29 Juli 2016, TNI Angkatan Udara mengajukan pembelian 1 helikopter angkut berat militer baru yang memenuhi spesifikasi kebutuhan Indonesia, yaitu AW 101 Agusta. Apa yang terjadi?  

 

Seiring bergulirnya waktu, hingga tulisan ini ditayangkan, pengadaan heli AW 101 Agusta tak kunjung terwujud. Sebaliknya beredar berbagai komentar spekulatif. Dini hari tadi, hariansuara.com mewawancarai pengamat pertahanan DR Connie Rahakundini Bakrie, yang tengah berada di London, Inggris. Berikut petikan wawancaranya:   

 

HS (Hariansuara.com): Mohon komentar Ibu mengenai simpang siur pemberitaan terkait usulan TNI Angkatan Udara tentang pengadaan Heli Angkut Berat AW 101 Agusta.  

 

CRB (Connie Rahakundini Bakrie): TNI AU, dalam hal ini KASAU, telah memenuhi Protap dan UU dalam melaksanakan Buku DIPA 2015. Surat KASAU saat mengubah peruntukan VVIP Skadron 45 menjadi ke Heli angkut Skadron 6, saya yakini sudah melalui tahapan kebijakan.  

 

Bukan arahan dari KASAU semata, karena TNI AU adalah sebuah lembaga. Saat KASAU bilang A, pasti karena lembaga bilang A. Jadi, adalah sangat ngawur kalau KASAU dianggap nekat melawan Panglima Tertinggi yaitu Presiden, Panglima dan juga Menteri Pertahanan (Menhan). Saya lebih melihat di sini adanya Perang Indhan dunia (industri pertahanan—RED).    

 

HS: Bisa Ibu jelaskan lebih jauh mengenai ‘Perang Indhan’ ini…

 

CRB: Kalau nggak Perang Indhan, siapa juga iseng banget bayar paparazzi ke kota kecil di Inggris sana untuk memata-matai AW 101 TNI AU? Beritanya palsu pula. Dibilanglah ini AW eks India.  

 

Menurut saya, ini perang monopoli Airbus atas PT DI (Dirgantara Indonesia—RED) yang sudah 30 tahun yang tidak mau terganggu dengan akan lahirnya BUMNIS terkait pengadaan AW (AgustaWestland), lalu yang terjadi adalah gerakan politis dibenturkannya antara Menhan, Panglima dan Presiden terhadap KASAU.  

 

Nggak bisa gitu, dong. Media massa nasional beberapa waktu lalu saja mengangkat judulnya sudah tendensius. Kita bicara common logic saja, masakah KASAU nekat mempertaruhkan jabatan dan kehormatannya untuk 1 heli?!   

 

Sekarang ada data palsu beredar tentang AW versus Cougar. Dan saya tertawa bacanya, karena banyak ngawurnya, alias tanpa akurasi data penunjang yang valid. Tapi dibuat sangat niat, seperti proposal dan disebar lewat WAG dan medsos. Ke media juga dikirimkan. Saya malah dapat dari sebuah media grup. Di  antaranya disebutkan serial code AW adalah eks India. Saya sampai cek langsung, dan beroleh jawaban dari LEONARDO ITALIA bahwa itu sangat tidak betul. Saya selalu bicara berdasarkan data yang valid.  

 

Pengajar di SESKOAU dan SESKOAL serta Dosen Hubungan Internasional di President University ini meyakini di balik semua ini adalah jelas Perang Indhan dunia. Dijelaskannya lagi, PT DI masih memiliki kontribusi kemampuan yang sangat terbatas dan sebenarnya belum mampu membuat Super Puma.  

 

Alumnus Asia Pacific Centre for Security Studies (APCSS) di Honolulu, Hawaii, dan Birmingham University, Inggris sebelum kemudian menuju Tel Aviv ini tak menyangkal adanya keharusan untuk mematuhi Pasal 43 Undang-undang Industri Pertahanan, di mana wajib menggunakan produksi industri pertahanan dalam negeri.

 

Permohonan KASAU untuk pengadaan AW 101 Agusta tentu berdasar, dan sesuai prosedur. Peneliti di INSS (Institute of National Security Studies), Tel Aviv, Israel, yang sempat mengikuti pendidikan militer di Fu Xing Kang War College, ROC, mengomentari keberadaan PT DI di industri dirgantara:  

 

CRB: PT DI 30 tahun ini dikuasai oleh Airbus. Yang dilakukan PT DI adalah lebih melakukan perakitan. Satu yang betul dari PT DI dan saya benarkan sebagai kerjasama produksi adalah dalam pembuatan CN235 dan NC212. Sementara selebihnya adalah merakit saja. Sekarang, di mana EC275 Cougar bukti kalau ini demi indhan dalam negeri?

 

Pertanyaannya, adakah heli sekelas AW 101 yang sudah dibuat di dalam negeri? Airbus menciptakan C295 yang kemudian dirakit di Indonesia, lalu diakui sebagai CN295, padahal pihak Airbus sendiri tidak pernah secara lisan atau tertulis menyebutnya sebagai CN295. Begitupun dengan EC725 Cougar yang sekarang bernama H225M. Kok bisa disebut produksi dalam negeri? Malu ah, ngaku-ngaku. Ini miss leading info kepada Presiden. Itu namanya berniat agar terjadi penyesatan kebijakan. KASAU ‘kan Komisaris PT DI, sehingga dia tahu betul PT DI seperti apa ‘sebenarnya’.  

 

Saya pribadi menuntut PT DI untuk mengakui saja, bahwa memang belum mampu membuat sendiri heli Cougar. Masalahnya adalah PT DI ingin tetap survives menjadi pemasok heli hasil pembeliannya dan perakitannya.   Masa dibiarkan terus ada kebohongan dan ada monopoli di sana? 

 

Pernah ada nggak laporan keuangan dan transparansi PT DI ke DPR sejak 2011? Dan pernahkah ada transparansi teknologi PT DI terhadap publik? Kok malah jadinya KASAU yang dianggap melanggar? Sebagai end user, KASAU jelas ingin yang terbaik bagi pasukannya dan AW 101 urgently needed untuk ganti Puma kita di Skadron 6 yang harus segera grounded next 2018.   

 

HS: Bagaimana sebetulnya realita pesawat Superpuma Cougar di luar negeri?

 

CRB: Saya sedang di Inggrís sekarang, dan saya tahu betul di beberapa negara Eropa, Cougar dilarang terbang dan sertifikasinya dicabut oleh EASA. Saya punya bukti konkret. Trust me.  

 

Kalau kita nekat tetap pakai Superpuma Cougar, saya beri beberapa link betapa bahayanya pesawat itu:

http://www.bbc.com/news/business-37005459

http://www.wsj.com/articles/u-k-investigates-airbus-1470600436.

http://www.theborneopost.com/2011/12/22/new-rm34-million-eurocopter-helis-gathering-dust-new/

http://youtu.be/jYaj51-F7-c.   

 

HS: Jadi, menurut Ibu, tidak beralasan untuk menolak pengadaan AW 101 Agusta ini?

 

CRB: Sangat tidak beralasan. Sebagaimana saya sampaikan, Puma di Skadron angkut harus grounded 2018. Lah kalo nggak diganti sekarang, secepatnya, terus tunggu Puma-nya mencelakai Presiden jika harus pakai heli yang hampir grounded, habis masa pakainya? Atau memang ini jadi diramaikan, karena ada rencana mencelakai/ membunuh Presiden saat tugas dan memerlukan terbang dengan heli Cougar yang akan dipaksakan untuk mengganti AW 101 tersebut? 

 

Banyak data terbuka menjelaskan Cougar atau Superpuma bermasalah di mana-mana, karena gearbox problem. Ini link tentang dilarang terbangnya Superpuma di luar negeri: 

https://www.flightglobal.com/news/articles/more-bad-news-for-airbus-helicopters-super-puma-fami-427644/

https://www.oilandgaspeople.com/news/8709/super-pumas-face-global-grounding-after-damning-report-ban-extended-to-sar/

http://defense-update.com/20160602_h225_crash.html

 

Hal serupa terjadi juga dengan helikopter yang diserahkan ke Basarnas adalah jenis Douphin AS365N3+ di mana main rotor gearbox-nya bocor akibat kegagalan produksi. Yang baru diserahkan oleh PT DI adalah 2 unit Cougar atau EC725 buatan Eurocopter, baru seminggu langsung grounded, karena main rotor gearbox-nya bocor dan vibrasi bergetar sampai semua badan penumpang ikut bergetar mengkhawatirkan. Sekarang dua pesawat itu tidak bisa terbang karena masalah gearbox!!!  

 

HS: Dengan kata lain, apakah dapat dikatakan pengadaan AW 101 Agusta sebuah keharusan untuk Indonesia?

 

CRB: Super MUST, karena heli Puma kita sudah habis masa pakainya pada 2018. Ini gimana coba, baru beli 1 heli seharga sekian sudah ramai. Kan ada yang aneh.  Menurut saya malah harus beli 12 atau 20 lagi dari AW.

Mengapa? Sebab Superpuma/ Cougar ‘kan di-banned, karena celaka-celaka terus. Semua negara tetangga sudah stop terbangkan dulu pesawat ini, mengikuti Inggris dan Eropa. Kok kita malah beli? Superpuma yang notabene helikopter Kepresidenan di Indonesia justru adalah helikopter yang oleh seluruh otoritas penerbangan Eropa dan Amerika dilarang terbang, karena mengalami kecelakaan beruntun, dengan permasalahan main rotor gearbox yang terus berulang-ulang. Jadi, saya malah berpikir, yang ngotot minta beli Superpuma/ Cougar mungkin niatnya mau celakakan RI 1.  

 

Bagaimana akhir dari polemik ini? Waktu yang akan menjawabnya. (*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU