Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Lifestyle

Bramanta Wijaya Hadirkan Koleksi "Tresno" Yang Penuh Cinta

Fashion
09 Dec 2018
Bramanta Wijaya Hadirkan Koleksi "Tresno" Yang Penuh Cinta

hariansuara.com, Jakarta - Sebanyak 24 koleksi Bramanta Wijaya  bertajuk Tresno digelar di Rafles, Jakarta, Jumat (7/12). 

Tresno menjadi bagian terakhir dari trilogi rangkaian koleksi Bramanta Wijaya yang miliki esensi hidup manusia, lman, pengharapan dan kasih. Tresno yang berarti cinta dalam bahasa Jawa, menjadi tali yang saling mengaitkan dua esensi lainnya, iman dan pengharapan.

Bersama Tresno, Bramanta Wijaya ingin merayakan cinta,  cinta kepada Tuhan, keluarga, sahabat dan tentu saja akar budaya. "Meskipun saat ini kita berada ditengah dunia yang sedang bergejolak dengan benci dan amarah, kasih datang saat kita percaya akan harapan."katanya.

Kecintaan Bramanta Wijaya pada akar budayanya terefleksi lewat simbol yang diterjemahkan dalam motif dan potongan baju. Budaya Jawa di mana dia mengakar, peranakan Cina dan Eropa, di mana dua hal ini menjadi pengaruh  unik dalam koleksi kali ini. Ketiga budaya itu menjadi paduan bahasa yang kaya dan menjadi mudah untuk dipadukan karena cinta yang mendalam terhadap akar budayanya. 

Tresno sebagai koleksi yang sarat akan cinta terhadap budaya Indonesia yang majemuk. Bramanta Wijaya memberikan sentuhan kontemporer dalam potongan kain yang mampu merekam jejak ketiga budaya bangsa Indonesia yang terinspirasi tewat motif motif batik Peranakan Cina dan Jawa.

Dalam balutan gaya kontemporer, siluet koleksi musim semi 2019 terlihat tetap klasik dengan sentuhan emosi tradisional namun masih dalam garis rancang rumah mode Bramanta Wijaya.

Terinpirasi oleh klan Manchu dari Dinasti Qing yang merayakan kebebasan perempuan dalam strata sosial, Bramanta Wijaya menerjemahkan koleksi Tresno ke dalam siluet anggun jubah perempuan bangsawan dari Dinasti Qing. Potongan kain yang melebar dan membebaskan gerak dituangkan menjadi gaun midi berpotongan trapeze.

Jubah Manchu dengan 4 belahan diberi twist sedikit untuk menjadi gaun panjang yang dihiasi detail kancing yang dipadukan dengan celana panjang. Dominasi kerah Shanghai dapat terlihat hampir di setiap gaun.

Bustier hadir sebagai sentuhan klasik nan elegan yang dipadukan bawahan kain sarung khas kebaya Encim. Sesekali, rok dengan potongan flare akan terlihat silir berganti dengan gaun berpotongan cheongsam, suatu manifestasi dari era ekspresi kebebasan perempuan Tiongkok tahun 1930-an.

Dalam koleksi ini, teknik bordir menyuarakan ekspresi peranakan dengan paduan kebudayaan Eropa. Teknik ini diguratkan pada kain linen yang dihiasi motif bunga krisan dan bunga bunga Eropa.Tak hanya bunga, motif awan yang mengingatkan pada Mega Mendung dan garis geometris menjadi representasi basil perpaduan budaya di pesisir utara Jawa. (*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X
X