Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Lifestyle

Terdampak Corona, Industri Fashion Global Terjun Bebas

Fashion
02 Apr 2020
Terdampak Corona, Industri Fashion Global Terjun Bebas

hariansuara.com, Jakarta - Dampak terhadap penjualan fesyen dan produk mewah akibat pandemi virus corona atau Covid-19  diperkirakan akan jauh lebih parah dibanding krisis finansial 2008. Pasalnya, menurut Boston Consulting Group, pendapatan di industri ini diperkirakan akan turun antara 25 persen dan 35 persen tahun ini sebagai akibat langsung dari penutupan toko dan lockdown.

Dampak pada industri fashion dimana ini mencakup  pakaian dan aksesoris, jam tangan dan perhiasan, dan parfum dan kosmetik diperkirakan akan lebih parah  daripada resesi satu dekade lalu, dengan total penjualan turun antara 450 miliar dollar AS menjadi  650 miliar dollar AS.

"Ini lebih buruk dari 2008," kata Sarah Willersdorf, head of luxury BCG. "Tidak ada keraguan kita akan memiliki kurva V yang pasti. Pertanyaannya adalah apakah ia bergerak ke huruf U atau L.”

Seperti resesi tahun 2008, pandemi telah menyebabkan goncangan finansial yang telah merusak sentimen dan permintaan konsumen.

"Anda memiliki ketidakpastian tambahan di pasar tentang krisis ini, penutupan toko yang lama yang tidak Anda miliki di tahun 2008, dan gangguan pada manufaktur."

"Beberapa daerah akan lebih terpengaruh daripada yang lain, tergantung pada kekuatan ekonomi mereka, tingkat keparahan wabah dan seberapa besar mereka bergantung pada wisatawan untuk penjualan fesyen dan produk mewah."

Eropa Selatan diperkirakan akan mengalami penurunan terbesar, dengan penjualan turun antara 85 hingga 95 persen antara Maret dan Mei. Ekonomi kawasan itu tidak sekuat AS atau China dan pembatasan perjalanan yang terus-menerus akan membuat hambatan lebih lanjut pada pemulihan ekonomi.

Namun di China, setelah mencapai titik terendahnya (turun 75 hingga 85 persen) di puncak krisis pada Februari, pendapatan diperkirakan akan turun hanya 5 hingga 10 persen dibandingkan dengan 2019.

Perusahaan induk Gucci, Kering,  minggu ini mengatakan bahwa pihaknya sudah mengamati tanda-tanda yang membesarkan hati di China daratan dengan adanya penurunan ini. Kering berharap penurunan penjualan sebesar 15 persen pada kuartal pertama dibandingkan dengan tahun lalu.

Sementara penjualan di Amerika Utara diperkirakan turun di antara 75 hingga 85 persen dibandingkan dengan tahun lalu selama Maret dan April. Langkah-langkah pemerintah AS untuk menghentikan penyebaran pandemi kurang agresif daripada negara-negara seperti China dan Singapura, yang cepat menerapkan jarak sosial dan pencegahan lainnya. 

"Sementara beberapa daerah diperkirakan akan pulih dengan cepat, dampak pada kebiasaan konsumen kemungkinan akan dirasakan dalam jangka panjang," kata Willersdorf, dengan konsumen yang lebih banyak belanja online dan merangkul teknologi baru seperti augmented reality, yang memungkinkan  mencoba pakaian dan aksesoris di rumah.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X
X