Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Internasional

Forum Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Indonesia – Belanda

Internasional
29 May 2024
Forum Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Indonesia – Belanda

hariansuara.com - Negeri Belanda adalah satu-satunya Negara Eropa yang memiliki hubungan historis yang erat dengan Indonesia, sekaligus menjadi pintu gerbang utama bagi Indonesia di bidang perdagangan ke Eropa. 

Lebih dari itu negeri Belanda secara konsisten berada di antara Top 10 sumber investasi asing langsung yang masuk ke Indonesia secara global. Untuk meningkatkan investasi, perdagangan dan pariwisata antara kedua negara diselenggarakan acara “Indonesia–the Netherlands Trade, Tourism and Investment Forum” di Hotel Okura, Amsterdam pada 28-29 Juni 2024.

Forum ini didedikasikan untuk membahas strategi dalam meningkatkan kinerja investasi bilateral, khususnya pada tiga sektor prioritas: infrastruktur, transportasi berkelanjutan, dan energi terbarukan dan pariwisata berkelanjutan. 

Berikut kupasan Widoyoko, aktivis Diaspora Indonesia di Nederland:

Forum ini mengundang para Menteri, Duta Besar, pejabat senior, pakar, dan komunitas bisnis dari Indonesia dan Belanda. Diharapkan, terfasilitasi dialog lintas pemangku kepentingan dan jaringan bisnis antara Indonesia dan Belanda untuk meningkatkan investasi dan kerja sama di bidang perdagangan dan pariwisata kedua negara. 

Acara forum perdagangan, pariwisata dan investasi ini diorganisir oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, bekerja sama dengan Kementerian Investasi/ Badan Koordinasi Penanaman Modal, melalui Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC) London dan Bank Indonesia melalui kantor perwakilannya di London.

Diawali dengan sajian tarian tradisional Bali yang menawan, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Mayerfas, menyampaikan perkembangan menarik tahun-tahun terakhir dengan kian meningkatnya hubungan bilateral Indonesia–Belanda di segala bidang.

Apresiasi dan terima kasih disampaikannya kepada pemerintah dan dunia usaha Belanda yang berkontribusi besar terhadap hubungan baik ini. Diketahui, Belanda menduduki posisi nomor satu untuk “direct investment” dari Eropa. 

Pun, di bidang pariwisata, turis Belanda termasuk penyumbang terbesar ketiga dari Eropa. 

Usai sambutan pembukaan, tampil keynote speech dari Menteri Perdagangan dan Pengembangan Kerjasama Luar Negeri Kerajaan Belanda, Ny. Liesje Schreinemacher. Ia menyampaikan kesan-kesan positif tentang budaya kuliner Indonesia yang juga populer di Belanda. Ditekankannya, bagi pengusaha Belanda yang berniat untuk berinvestasi di Indonesia yang patut dinilai dan dicermati adalah kestabilan ekonomi dan politik. 

Walaupun kondisi dunia saat ini sedang tidak menentu, secara umum Schreinemacher menilai iklim berinvestasi di Indonesia masih cukup baik. Ia juga mendorong stake holder di negeri Belanda untuk meningkatkan investasinya.

Harapan Kerjasama Bilateral Kian Saling Menguntungkan

Keynote speech kedua datang dari Menteri Koperasi dan UMKM RI, Teten Masduki. Ia menyampaikan fakta-fakta tentang kondisi mikro ekonomi di Indonesia. Yang menarik, sektor UMKM di Indonesia menyerap 97% tenaga kerja dan menyumbang 61% produk domestik brutto di Indonesia. Jadi, potensi UMKM di Indonesia sangat besar.

Diharapkan Teten Masduki, investor Belanda bersedia berinvestasi di sektor UMKM ini. Diimbuhkannya, perusahaan retail Belanda Ahold, yang mengelola jaringan supermarket Albert Hijn, telah menjalin joint venture berwujud jaringan supermarket Superindo. Disebutkannya, sektor UMKM telah banyak menyuplai kebutuhan Superindo.

Setelah coffee break, dua pejabat penting perbankan Indonesia-Belanda tampil sebagai keynote speakers. Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung memaparkan kondisi perekonomian Indonesia sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Dipaparkan angka-angka yang menjanjikan terkait perekonomian Indonesia.

Dilanjutkan oleh Deputi Gubernur De Nederlandse Bank, Olaf Sleijpen, yang mengupas hal unik tentang sejarah celengan. Zaman dulu di Belanda, ujarnya, menabung di rumah di wadah berbentuk babi. Namun, sebetulnya ini bukan hal baru, sebab tradisi Jawa telah lebih dulu diturunkan nenek moyang berupa wadah dari tembikar berbentuk babi yang disebut 'celengan'. Hingga kini masih digunakan masyarakat, dan bentuknya variatif seperti ayam jago.

Diibaratkan Sleipen, Bank Sentral berfungsi sebagai celengan dari sistem finansial di suatu negara. Serupa dengan Deputi BI Juda Agung, ia mengupas kondisi perekonomian di Belanda. Sesi pagi usai ditutup dengan makan siang bersama sambil melakukan networking.

Sesi siang berupa panel diskusi membahas tema “Indonesia-Nethelands Economic Relation: How to move forward?”. Diharapkan terkupas kiat meningkatkan kerjasama Indonesia-Belanda yang saling menguntungkan di tengah kondisi dinamis ekonomi global saat ini.

Panelis terdiri atas Dirjen Hubungan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Djatmiko Bris Witjaksono, yang mengupas topik “What’s to Expect for Indonesia-Netherlands Trade Relations”. 

Disusul oleh Duta Besar Belanda di Indonesia, Lambert Grijns, yang membawakan topik “Dutch Economic Diplomacy in Indonesia Post Transition”.

Dirjen Hubungan Ekonomi Luar Negeri dan Koordinator Kebijakan Pasar Asia Afrika, Kementerian Luar Negeri Belanda, Pieter Blussé mengupas tentang Indonesia-Netherlands: quo vadis its economic relations?

Pihak-pihak yang aktif mendiskusikan adalah Irwan Habsjah dari KADIN, Michel Maas dari Clingendael Institute, dan Dr. Akhmal Rizal Shidiq dari Leiden University.

Selesai panel diskusi, acara ditutup dengan One on One/ One to Many, business meeting. Para pemegang kebijakan dan pelaku bisnis dapat saling berdialog. Pelaku bisnis juga dapat bernegoisasi untuk menyukseskan investasinya. 

Acara kedua berlangsung hari ini, Rabu (29/5/2024) di Indonesia House Amsterdam. Acara lebih mempertemukan antara penjual Indonesia dan pembeli Belanda dalam Trade Business Matching, serta dialog dengan UMKM Indonesia dan pameran Trade and Tourism.

Pemerintah Indonesia telah merancang Proyek Investasi Siap Ditawarkan (IPRO) dengan potensi nilai investasi sebesar USD16 miliar. Pemerintah mengundang investor Belanda dan Eropa untuk kemitraan dan berinvestasi di sektor-sektor prioritas seperti manufaktur, infrastruktur, energi terbarukan, kawasan industri, makanan, pertanian, dan kawasan industri. Lebih dari separuh proyek berlokasi di Kalimantan Timur untuk mendukung pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN). (*) Teks: Widoyoko               Foto: Widoyoko & KBRI 

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X