
hariansuara.com - Dr. Hj. Yasmine Yessy Gusman, SH., MBA nama lengkapnya, yang popular dengan sapaan Yessy Gusman. Ia aktris senior yang menjadi ikon perfilman Nasional bertema Percintaan Remaja, dengan teman akting Rano Karno (Wakil Gubernur DKI Jakarta--Red). Pada akhir era '70-an hingga '80-an film mereka mendominasi bioskop di Tanah Air.
Sebut saja, Romi & Yuli, Puspa Indah Taman Hati, Buah Terlarang, Neraca Kasih, dan Tali Merah Perkawinan. Bahkan hingga kini, film “Gita Cinta dari SMA” (1979) sebagai Galih dan Ratna masih terus melegenda.
Chemistry antara Rano dan Yessy begitu kuat, sehingga remaja Indonesia kala itu menyebut mereka sebagai 'couple goals'. "Saya sangat bersyukur kepada Allah untuk kebahagiaan, kehidupan, kesehatan dan kemampuan yang diberikan-Nya," ujar Yessy kepada hariansuara.com.

Selulus SMA, Rano dan Yessy, sama-sama alumnus SMAN 6 Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tak lagi intens bareng main film. Yessy kuliah di Amerika Serikat, lulus Cum Laude dari University of San Fransisco dengan gelar Bachelor of Arts (1985). Dua tahun kemudian, menyelesaikan program magisternya di Golden Gate University of San Fransisco dan berhak atas titel Master of Business Administration (MBA).
Sekembali di Indonesia, Yessy kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Pancasila dan menjadi Sarjana Hukum dengan Cum Laude pada 1998. Sudah berputra, pada 2015, ia diwisuda sebagai Doktor di bidang Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Negeri Jakarta.
Komit Jadi Pendidik
Yessy Gusman menorehkan corak baru dalam perjalanan hidupnya dengan menggeluti passion-nya di dunia pendidikan dan giat sosial. Desember 1999, ia membangun Taman Bacaan Anak dan Sanggar Kreativitas Anak di bawah naungan Yayasan Bunda Yessy yang tersebar di pelosok Indonesia, serta bekerja sama dengan lebih dari 300 mitra taman bacaan. Anak-anak setempat pun bisa mengakses buku, dan memperluas cakrawala.
"Saya bahagia dalam syukur dan keindahan bersama anak-anak. Yah, berusaha memaknai arti kehidupan ini agar tak berlalu dengan sia-sia sebagai makhluk," ujar pehobi melukis, membaca, menulis dan melakukan perjalanan itu, penuh haru.

Adapun ketika kemudian datang apresiasi dari berbagai pihak atas kepeduliannya mencerdaskan anak-anak melalui taman bacaan itu semata bukanlah prioritas baginya. Kendati ikhtiarnya sangat layak diapresiasi.
Penghargaan-penghargaan datang dari berbagai pihak, di antaranya dari Penerbit MIZAN (3/5/2003), disusul dari Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, A. Malik Fadjar (16/12/2003). Kemudian, pada 28 Oktober 2005 menerima Anugerah Kepemudaan dari Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, H. Adhyaksa Dault, SH. MSi, sebagai tokoh yang mencurahkan segenap tenaga, pikiran dan waktunya dalam mengembangkan minat baca generasi muda.

Kepala Perpustakaan Nasional RI, Dady P. Rahmanta, juga memberinya Anugrah Jasadarma Pustaloka (20/12/2005) saat peringatan seperempat abad Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Kemudian Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional RI, Fasli Jalal, Ph.D., menganugerahkan penghargaan atas jasa Yessy Gusman meningkatkan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Pendidikan Non Formal (14/8/2006). Di lembaga ini ia berkarya dua periode (2006–2012 dan 2012-2017).
Pun, penghargaan dari IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) (28/6/2008) yang diserahkan oleh Gubernur DKI Jakarta, H. Fauzi Bowo, atas prestasinya meningkatkan minat baca masyarakat.
Kecintaan pada dunia pendidikan kian membawa Yessy Gusman jauh melangkah. Ketua I di Ikatan Doktor PAUD Indonesia (IKAD PAUDI) ini diisinya dengan berbagi ilmu dan kegiatan yang mencerdaskan. Dosen di London School of Public Relations (LSPR) sejak 2009 itu aktif sebagai narasumber di banyak seminar, webinar pendidikan dan perfilman, maupun In House Training (IHT).

Di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi LSPR itu, Yessy juga berprestasi. Sejumlah penghargaan didapatnya, mulai dari First Runner-Up Expertise Lecturer Campus B (10/10/2010), lalu Best Expertise Lecturer-LSPR (2011), Best Dedicated and Experience Lecturer in Introduction of Performing Arts - LSPR (2021) dan Top 10 Highest LPE Lecturers (2nd Place) with 3,87 LPE-LSPR (2025). Ia juga mendapatkan "Lifestyle Awards" Viewer's Choice for Social Category on MNC Lifestyle 1st Anniversay (25/7/2011).
"Niatnya, tak lain agar ilmu titipan dari Allah ini dapat membawa manfaat bagi meningkatnya kualitas pendidikan," imbuh Yessy yang kerap mengupas berbagai topik seperti memberikan advokasi bagi program Belajar 13 Tahun di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi DKI, juga tentang pentingnya PAUD dalam menyiapkan pondasi bagi Generasi Emas. Kali lain, membahas tentang “Peningkatan Kompetensi Guru dan Tendik: Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Melalui Kecerdasan Jamak”.
Seni Akting Tetap Kecintaannya
Terjun ke dunia seni peran dilakukan Yessy Gusman sejak usia belia, 12 tahun. Tentu, sulit baginya meninggalkan bidang seni yang digelutinya lebih dari 52 tahun. Karenanya, ia sangat bahagia ketika didapuk menjadi Komisaris Utama Produksi Film Negara (PFN) sejak 2025 lalu.

"Saya menikmati kegiatan di PFN, sebab masih berkaitan dengan pekerjaan saya selama ini. Tugas saya mendampingi adik-adik direksi yang masih muda dan berkarya agar terus istiqomah menjalani amanah di jalan yang lurus, serta melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang banyak," paparnya.
Selain itu, PFN ternyata punya arti khusus bagi Yessy. "PFN itu penuh memori. Saya main film pertama Romi dan Juli (1974) ada adegan di gua yang dibuat di sana. Rasa syukur saya kepada Allah yang Maha Baik, Maha Sayang, dan telah memberikan sesuai dengan yang kita butuhkan," lanjutnya, yang selalu ada saja gagasannya menuangkan talenta seni peran, semisal memadukannya dengan dunia pendidikan.
Bagaimana Yessy didapuk tampil di teater untuk memerankan tokoh CEO LSPR, @pritakemalgani pada peringatan ke-33 ulang tahun kampusnya. "Saya menerima tantangan itu, sekaligus sebuah kehormatan memerankan sahabat saya @pritakemalgani," katanya.

"Teater salah satu cara berkomunikasi yang membutuhkan totalitas untuk bisa menghidupkan suatu karakter. Observasi itu kunci, jadi harus mempelajari cara berbicara, bahasa yang biasa digunakan, gerakan tubuh, ekspresi wajah dan senyuman, style dan kostum serta tata rias tokoh. Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan."
Bermain peran atau Role Play, seperti diutarakannya dalam webinar Film Acting bertajuk 'Temukan Panggungmu, Temukan Karaktermu', berkolaborasi dengan Dr. Satrio Pamungkas, S.Sn., MSn, CEO iVOLKS Creative dan juga dosen di President University, sangat penting untuk menunjang karier atau apa pun jenis pekerjaannya. Tidak melulu mau menjadi aktor atau aktris.

Di usia kepala 6, menariknya lagi, Yessy Gusman masih terus berkarya di film. Ia belum lama menuntaskan pembuatan film layar lebar berjudul 'Menang untuk Kalah' (masih tentatif) bersama aktor-aktris lintas generasi, seperti Surya Saputra, Lulu Tobing, Putri Ziani, dan masih banyak lagi. Film yang disutradarai Hasto Broto dan diproduseri Panca Rahayu Kreasindo Production ini mengangkat tema penyakit sosial seperti pinjol dan judol.
Keluarga Sumber Bahagia
Bincang dengan sosok Yessy Gusman sangatlah menyenangkan. Pribadi yang hangat, lembut, sekaligus kaya akan ilmu. Di usianya yang 64 tahun pada 12 Juli esok, parasnya tetap cantik dan segar. Sorot matanya teduh, meski berbinar tanda bahagia.
"Kalau ada yang bertanya, arti kebahagiaan buat saya, pada fase kehidupan ini saya bisa bersama keluarga, anak-anak, menantu dan cucu-cucu. Bertemu manusia-manusia kecil yang disebut cucu. Melihat kepolosan mereka, bagaimana mereka tumbuh, what a blessings. Terima kasih Allah," ujar Yessy yang dianugerahi sepasang cucu yang menggemaskan.

Ditambahkannya, "Selain itu, untuk saya, bangun pagi dengan badan sehat, bisa makan, lihat bunga di samping rumah, main-main dengan cucu, bisa mengajar mahasiswa, minum kopi sama temam-teman sambil ngobrol, masih bisa ngantor di PT Purnama Bara Global untuk memikirkan hal kebaikan bagi banyak orang, itu bahagia. Jadi, bahagia itu tidak harus sesuatu yang wah atau harus dikagumi orang. Tidak. Bahagia itu sesuatu yang membuat kita bahagia menurut versi kita sendiri."
Yessy mengaku masih menganut paham Ki Hajar Dewantoro, Tut Wuri Handayani. Di depan memberi contoh, di samping memberi masukan, dan di belakang memberi dukungan. Selain itu konsep Khalil Gibran, bahwa anak bukan milik kita. Dia akan punya hidup sendiri, masa depan sendiri, maka agar anak siap menghadapi masa depan, orang tua menjadi platform atau pijakan bagi anaknya.
"Sharing saja ya, saya punya anak dari generasi Milenial dan Gen Z, lalu cucu Gen Alpha. Perbedaan pasti ada. Tetapi sebagai orang tua, kita lihat sesuatu yang baru dan berbeda itu bukan untuk dihindari, tapi untuk dipelajari. Yang terpenting dalam parenting, kita memberi rasa aman kepada anak, bahagia dengan dipeluk dan disayang. Anak yang bahagia jiwanya akan kuat, dan kelak ini bermanfaat bagi dirinya, lingkungan dan masyarakat."

Bagi Yessy Gusman, keluarga adalah supporting system yang membahagiakan. Kumpul saat weekend atau hari libur, tidak bisa ditawar.
"Sekarang cucu saya dua. Kami buat 'Hari Cucu' sekali seminggu. Mereka main di rumah. Barbeque-an, happy. Berenang, happy. Nonton TV bareng, happy. Nggak harus jalan-jalan ke luar. Yang penting semua gembira. Makin seru ya, insyaaAllah ke depannya cucu tambah lagi."
Yang membuat Yessy bahagia penuh adalah istiqomah menjaga silaturahmi dengan para sahabat. Entah mereka ACR (Artis Cilik Remaja), artis semasanya dalam komunitas CNior, maupun para pendidik di IKAD PAUDI, hingga para pecintanya, @yessy_gusman_lovers dan keluarga besar Dutiers yang telah 20 tahun membersamainya di Taman Bacaan Anak (BA) Yayasan Bunda Yessy.
Itulah kehidupan bahagia seorang Yessy Gusman. (*) MTS Foto: @yessy_gusman
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU