Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Universitas Flores, NTT Bekali Mahasiswa Kecakapan Melalui Studi Luaran

Nasional
28 May 2026
Universitas Flores, NTT Bekali Mahasiswa Kecakapan Melalui Studi Luaran

hariansuara.com - Universitas Flores (UniFlor), Nusa Tenggara Timur terus giat menyiapkan lulusan terbaik agar siap terjun ke masyarakat, meniti karir, sekaligus mengukir prestasi. Selain pembekalan materi kuliah di kelas, mahasiswa juga diasah potensi dirinya melalui studi luaran.

Baru lalu 112 mahasiswa dari Prodi Sastra Inggris, Ekonomi Pembangunan, Akuntansi dan Agroteknologi mengikuti kunjungan ke Rumah Tenun Ikat di Roworeke dan Wolotopo, lalu ke Produsen Kosmetik Herbal di Manulondo, serta mengunjungi Rumah Adat di Nualolo dan Radaara.

Mahasiswa ditugaskan untuk mengajukan pertanyaan kepada para Ketua Rumah Tenun dan Ketua Adat sesuai platform kolaboratif mata kuliah Kewarganegaraan dan Teknologi Budaya. Selesai observasi, mereka ditugaskan membuat laporan tertulis, serta reportase audiovisual yang ditayangkan di YouTube.   

"Terjun langsung ke lapangan ini merupakan kolaborasi Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK), Kewarganegaraan dan Teknologi Budaya. Kegiatan yang sangat bagus, karena mahasiswa dapat memetik ilmu pengetahuan tentang masyarakat adat dan budaya," ujar Maria A Liza Q, S.H., M.Hum yang ditunjuk oleh Kordinator MKWK menjadi dosen pengampu bersama rekan Katarina Dhiki, SST.Par., M.Par, dan Zaenab Jamaludin, S.Pd., M.Pd, serta Petrus Vincentius Parera, S.Ars., M.Ars.

Mahasiswa Dibekali Kecakapan 

Menarik sekali program studi luaran yang dipersiapkan UniFlor bagi peningkatan kecakapan mahasiswanya. Didampingi dosen, mahasiswa mengunjungi Rumah Tenun Ikat di Roworeke, lalu menggali keterangan dari Ketua Rumah Tenun Ikat, seperti Mama Anastasia Nia.

Animo mahasiswa begitu besar. Mereka banyak bertanya. Seperti Siti Aidah dari Prodi Ekonomi Pembangunan penasarannya ingin tahu ihwal lahirnya selembar kain tenun Nusa Tenggara Timur (NTT) yang indah dan sangat disukainya. 

Wastra Flores punya khazanah seni tenun yang bernilai. Ada songket, selendang, maupun kain sarung yang disebut Lawo dan Ragi, serta beraneka corak dan warna yang khas. Selembar kain tenun yang berkualitas baik ditentukan dari benang yang digunakan, proses pencelupan warna, serta teknik tenun pengrajin yang mumpuni. Tidak mudah, memang, tetapi juga bukan hal yang mustahil untuk dipelajari. 

Selain mengunjungi Rumah Tenun Ikat, mereka pun ke Sanggar Seni dan produsen kosmetik herbal di Manulondo, serta ke Rumah Adat Nualolo dan Radaara. Di sana mereka melakukan observasi dengan melakukan wawancara.

Dari pertanyaan mahasiswa, seperti diajukan Nobertus Klemens Begu Lagu dari Ekonomi Pembangunan, misalnya, terungkap betapa cara pemasaran di Rumah Tenun perlu ditingkatkan. Tidak lagi seperti selama ini, wastra tradisional yang selesai dibuat, lalu dipajang dan dijual di tempat. Bila dijual ke pasaran, tentu akan menjangkau pasar yang lebih luas.

Pun, pertanyaan dari Brigita Candra Fransisca Erang, mahasiswi dari prodi yang sama, yakni terkait pemanfaatan teknologi digital untuk kegiatan promosi. 

"Kami tidak punya media sosial. Biasanya para tamu yang datang, lalu memfoto dan menyebarkannya di media sosial mereka. Dari situlah masyarakat tahu, lalu tertarik berkunjung ke sini," jelas Ketua Rumah Tenun Mama Anantasia Nia.

Ke depannya, berpromosi dengan mengaplikasikan teknologi digital melalui media sosial, wastra tradisional Flores bisa mendunia, sekaligus akan berkelanjutan dan melestari, serta bisa jadi sumber pemasukan andalan bagi para pengrajin dan masyarakat NTT pada umumnya.  

Berlanjut kunjungan ke Sanggar Tari Mesu Mera di Wolopo yang diketuai oleh Albertus Ndewi. Putri Nurhalizah dari Prodi Akuntansi menanyai tentang tarian, alat musik dan atribut khas NTT yang dipakai para penari. 

"Awalnya, para penari masih menari sendiri saja. Tetapi pada masa Gubernur Ben Mboi barulah didirikan Sanggar Tari Mesu Mera, kerja sama antara para penari dengan Kepastoran Paroki Wolotopo. Latihan jadi terkoordinir, terus berkembang hingga kini. Pun, musik pengiring tarian, Nggo dan lamba, bisa tetap didengar, juga atribut tari berupa Tumba, Sau dan Mbaku ternyata menuangkan semangat heroisme leluhur saat berperang," ujar Ndewi. 

Kunjungan menarik lainnya ke Kampung Nualolo, wilayah dengan masyarakat adatnya masih konsisten memegang teguh warisan leluhur, hukum adat, dan pranata sosial tradisional. Namun, karena letak geografis dan interaksi ekonomi dengan dunia luar maka arus digitalisasi pun tak luput memengaruhi masyarakat Nualolo. Bagaimana masyarakat setempat tetap menjaga ketahanan nilai-nilai kewarganegaraan lokal dari pengaruh teknologi budaya?

Mosa atau pemimpin adat tertinggi di Kampung Adat Nualolo, Safrudin Resi, menjawab dengan lugas, "Masyarakat adat tidak mutlak menolak atau menyerap total arus digitalisasi, melainkan menerapkan pola adaptasi selektif. Alat-alat komunikasi berteknologi modern, seperti ponsel pintar, internet, atau mesin pertanian tetap diadopsi sebatas instrumen pendukung aktivitas praktis dan komunikasi, tidak menggantikan nilai spiritual, gotong royong, dan hukum adat yang berlaku."

Ditambahkannya, untuk menentukan jenis teknologi yang boleh masuk dilakukan secara kolektif melalui musyawarah adat bersama dengan pemuka/tokoh adat. Tak lupa dibuat juga sanksi moral yang mengikat bagi pelanggar. Ini bertujuan untuk menjaga struktur sosial masyarakat adat tetap stabil dan terhindar dari komodifikasi budaya yang merusak.

Indonesia punya kekayaan alam dan budaya yang sangat beragam dengan potensi besar. Salah satunya, kekayaan herbal yang bisa diolah menjadi produk kosmetika yang digemari masyarakat. 

Itulah buah tangan yang dibawa mahasiswa Akuntansi Kelas B dari kunjungan ke produsen kosmetika tradisional, PT IKM PUTO GRUP di Desa Manulondo, Ndona.

Narasumber, Maria Febrianti Wolo, S.Ak., menguraikan, "Berbagai herbal alami dari daun kelor, madu, kunyit, minyak kelapa, dan beras  bisa diolah jadi produk perawatan kecantikan. Sebut saja, Virgin Coconut Oil (VCO), body oil, face oil, minyak kemiri, dan sabun herbal." 

"Jadi, selain manfaat ekonomis, usaha ini juga melestarkian budaya lokal, dan menjaga identitas budaya daerah."

Sementara itu mahasiswa Akuntansi B  juga menemui Ketua Sanggar Seni, yang juga seorang mosalaki (pemimpin tertinggi)!di sana, Herman Tei,  serta Kepala Dusun Paulus Mikus. 

Catharine Delicia Ngga'a dan Salsa Putri Anggrani mencari tahu alat musik tradisional khas NTT yang disebut  nggolamba

"Alat ini bisa dimainkan siapa saja secara otodidak, warisan nenek moyang, ketika membuat rumah adat dan acara adat pire teu. Hanya saat acara sakral, hanya pemusik profesional dan lihai saja yang boleh memainkannya, " jelas Herman Tei. 

Universitas Flores terus melakukan pembekalan kognitif, intelektual dan konseptual kepada mahasiswa agar kelak mereka lulus sudah siap terjun ke masyarakat. (*) Melia Hapsarani/MTS           Foto: Dok Universitas Flores

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X