Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Ketua PGRI Sambut Gagasan Bupati Jember Terpilih H Hendy Uji Coba Belajar Tatap Muka

Politik
23 Feb 2021
Ketua PGRI Sambut Gagasan Bupati Jember Terpilih H Hendy Uji Coba Belajar Tatap Muka

hariansuara.com, Jember - Bupati Terpilih Jember H Hendy Siswanto terus mengikuti sistem belajar daring (dalam jaringan—Red) di masyarakat, dari semenjak Pandemi COVID-19 bermula hingga kini. Mencermati plus minusnya.

Menurutnya, sistem daring bukan sesuatu yang buruk. Hanya ada kelemahannya, terutama dalam menanamkan nilai luhur budi pekerti, sopan santun dan dalam membangun karakter yang prima. Pendidikan tersebut hanya bisa diberikan melalui sistem pembelajaran luring (luar jaringan). 

Mengingat entah sampai kapan Pandemi COVID-19 berakhir, tentu akan sangat menyedihkan bila anak kita kehilangan momentum membangun karakter luhur. Untuk itulah, Haji Hendy, sapaan karibnya, menggagas untuk melakukan uji coba menerapkan sistem belajar tatap muka.

Baca jugaBupati Jember Terpilih Hendy Siswanto: 1 Maret Bisa Dimulai Pilot Project Pembelajaran Tatap Muka

Haji Hendy ingin berharap, per 1 Maret 2021 sistem belajar tatap muka itu dapat dilakukan. Tentu penerapannya dengan memenuhi sejumlah persyaratan. Dari disiplin menjaga protokol kesehatan sampai keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Ketua PGRI Sangat Menyambut 

Supriyono, sebagai Ketua PGRI Jember, sangat sepakat dengan gagasan Bupati Jember Terpilih, H Hendy Siswanto untuk mulai coba terapkan sistem belajar tatap muka. Meski baru parsial sebagai pilot project, tetapi dari sini bisa dievaluasi hal-hal yang kiranya akan menyempurnakan sistem belajar tatap muka untuk ke depannya. 

Dikatakan Supriyono kepada hariansuara, bahwa benar tujuan mencetak anak berpengetahuan luas dan berkepribadian baik itu tidaklah tampak. Bahkan ia menerima banyak keluhan dari para guru, mulai dari pengajar kelas I hingga XII. 

“Sejumlah siswa dari selama setahun daring ini terlihat lebih berani, mengikuti tren yang viral di dunia maya. Pelajar tidak akan berani mewarnai rambut mereka kalau belajar dengan guru di sekolah,” ujar Pak Pri, begitu ia kerap disapa.

Sama seperti yang disampaikan Bupati Jember Terpilih H Hendy Siswanto, Supriyono juga mengingatkan pentingnya penegakan protokol kesehatan selama proses belajar tatap muka.  

“Untuk teknis belajarnya, sesi belajar lebih singkat, cukup dua jam. Siswa SD kelas 1-3 belajar dua jam, mulai dari pukul 07 s.d 09. Kemudian kelas 4-6 mulai pukul  09.30-11.30. Siswa SMP dibagi menjadi rombongan belajar (rombel). Tiga rombel belajar pukul 07-10 dengan jeda istirahat 15 menit. Jika ada 6 rombel, maka tiga rombel masuk pagi belajar 2 jam, sedangkan rombel berikutnya dua jam berikutnya.

Pada prinsipnya, tandas Supriyono, pengaturan siswa belajar disesuaikan dengan kebutuhan sekolah masing-masing, baik di kota maupun desa. Yang terpenting, siswa paham akan bahaya COVID-19, lalu melindungi diri dengan menerapkan prokes. Guru juga mengontrol dengan ketat. 

Sebelum menutup pembicaraan, Supriyono mengingatkan pentingnya mempelajari dan mengindahkan standard operation procedure (SOP) sistem belajar tatap muka:

1. Izin dari Bupati selaku Ketua Gugus COVID-19

2. Pelaksanaan PROKES yang sangat ketat

3. Persetujuan wali murid. Bila ada wali murid yang tidak mengizinkan putranya ke sekolah. Tidak boleh dipaksa, tapi wajib daring

4. Untuk tatap muka waktunya relatif cepat bisa 1-2 jam

5. Harus bergantian antarrombongan belajar untuk menghindari kerumunan yang lebih besar

6. Interaksi belajar-mengajar campuran, yaitu bisa tatap muka, online (daring) dan off line.

7. Dukungan stakeholders pendidikan (guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah dan masyarakat atau wali murid) (*) mel/mel      Foto: UGM.ac.id & Dok Pri

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X