hariansuara.com, Islamabad - Mengisi liburan musim panas di Pakistan, sejumlah WNI yang terdiri dari Pejabat dan Staf KBRI Islamabad, Ibu-Ibu DWP, dan para Mahasiswa Indonesia, menggelar diskusi dalam format Indonesian Community Club (ICC) di Aula Budaya Nusantara KBRI Islamabad. Tema diskusi mengenai “Pemimpin Ideal Bangsa Perspektif Mahasiswa” dengan narasumber dari perwakilan komunitas mahasiswa yang memiliki afiliasi organisasi di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyyah, Pondok Modern Gontor (IKPM), Lembaga Tahfidz al-Qur’an dan Purna Prakarya Muda Indonesia (PPMI).
Dalam sambutannya, Ketua PPLN-Islamabad, Muladi Mughni menyampaikan bahwa acara ICC terlaksana atas dukungan penuh KBRI Islamabad dan kerja sama dengan PPMI serta seluruh Ketua-ketua Komunitas di Islamabad. “ICC kali ini mengangkat tema politik, ke depan dapat diangkat tema kontekstual yang lain seperti ekonomi, budaya, keragaman, isu agama atau lainnya yang terkait ke Indonesiaan,” ujar Ketua PPLN.
Sementara Ketua PPMI, Adnin Dzahir, selain menyampaikan terima kasih atas fasilitasi acara diskusi, juga menyinggung persoalan Temus (Tenaga Musiman) Haji baru pada 2018 berhasil diisi kembali oleh mahasiswa yang kuliah di Pakistan. “Kami berterima kasih kepada Dubes RI Islamabad dan semua pihak yang telah berhasil mengembalikan kuota Temus haji bagi mahasiswa di Pakistan setelah 9 tahun terhenti,” ucap Ketua PPMI.


Selama berjalannya diskusi, para hadirin terlihat antusias dan bersemangat, mengikuti pembahasan yang dipaparkan oleh para narasumber dan dipandu oleh moderator dari PPLN. Beberapa permasalahan yang disampaikan antara lain tentang definisi pemimpin, kriteria atau parameter pemimpin yang ideal serta beberapa kasus persoalan bangsa yang ditangani oleh seorang pemimpin ideal.
Duta Besar RI Islamabad, Iwan Suyudhie Amri, mengapresiasi pelaksanaan acara diskusi dan menurutnya sangat baik untuk diteruskan sebagai ajang pembelajaran para mahasiswa dalam melihat masalah kebangsaan melalui perspektif yang komprehensif.
“Presentasi yang disampaikan oleh para narasumber semuanya baik karena yang disampaikan adalah nilai ideal yang semua kita sepakat,” ucap Dubes Iwan dalam catatan akhir diskusi. “Namun yang terpenting selanjutnya bagaimana penjelasan dari nilai ideal tersebut memiliki nilai fungsional sehingga tidak bergerak dalam ruang hampa."
Persoalan unik lainnya, menurut Dubes Iwan adalah pada realitas kondisi satu negara yang berbeda dengan negara lain, sehingga suatu nilai ideal pun pada tataran operasional harus disesuaikan dengan kondisi faktual masing-masing teritorial yang meniscayakan pemahaman pemimpin, baik segi potensi, kapasitas maupun persoalan. “Seorang pemimpin pada akhirnya dilihat dari tekad kuat dan kemampuannya menyelesaikan masalah (determinasi),” lanjut Dubes.


Pada akhir diskusi Dubes Iwan mengingatkan tentang cita-cita terbentuknya NKRI dengan konsesus dasar Pancasila dan UUD 1945 yang menampung semua aspirasi dan entitas, baik kelompok, etnik, budaya dan agama. Narasi yang harus dikembangkan dalam konteks interaksi kebangsaan baik oleh pemimpin maupun rakyat, tanpa harus mengetengahkan isu minoritas ataupun mayoritas yang berpotensi merusak keutuhan bangsa. “Keutuhan dan kemajuan bangsa kita akan tercapai jika narasi dan pendekatan kita adalah merangkul semua orang, embracing all," tutup Dubes Iwan.
Indonesian Community Club (ICC) tema politik ini dihelat oleh PPLN-Islamabad dalam rangka sekaligus menyosialisasikan Pemilu Serentak 2019. Diharapkan, mendorong partisipasi WNI di Pakistan menggunakan hak pilihnya pada 13 April 2019 di KBRI Islamabad. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU