
hariansuara.com - Majelis Ta'lim Nisaaul Jannah kembali menggelar kajian pekanan di Musholla Darul Izzah di Griya Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor Rabu (7/10/2026). Para ibu yang hadir menyimak dengan seksama kupasan dari Ustadzah Hj. Eem Marpuah tentang kajian "Membersihkan Hati dari Racun Ghibah & Penyakit Hati". Topik yang sejatinya sebuah fenomena kehidupan sehari-hari di sekitar kira.
Perilaku ghibah identik dengan bergosip, bisik-bisik atau istilahnya 'ngomongin orang'. "Ah, cuma ngomong doang kok," kata si pembawa kabar burung. Ghibah pun dianggap hal yang lumrah, biasa, remeh dan sepele. Benarkah sesederhana itu?
Ustadzah Hj Eem Marpuah mengungkapkan sejatinya ghibah (menggunjing) adalah dosa besar yang berdampak sangat buruk bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Tilik Surat Al-Hujurat Ayat 12, Allah SWT secara tegas melarang berghibah, berburuk sangka (su'udzan) dan mengorek-ngorek kesalahan orang lain (tajassus).

"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya," demikian perumpamaan yang Allah buat terhadap amat buruknya dosa ghibah itu. Apa ya definisi ghibah itu?
Kemudian pada Hadits Riwayat Muslim Nomor 2589 tertulis penjelasan Rasulullah tentang batasan ghibah kepada para sahabat. "Ghibah ketika kamu menceritakan tentang saudaramu sesuatu yang tidak disukainya.” Sahabat bertanya, "Bagaimana kiranya yang dituduhkan itu benar?" Rasulullah menjawab, "Jika yang kamu katakan itu benar, maka kamu telah mengghibah. Dan jika tidak benar, maka kamu telah melakukan buhtan (fitnah/dusta)."
Dosa ghibah itu tak hanya berdampak buruk bagi kehidupan pelaku di dunia, melainkan juga mengantarnya ke azab yang berat di akhirat. Dalam peristiwa Isra' Mi'raj, Rasulullah SAW menceritakan kesaksiannya melihat satu kaum yang memiliki kuku terbuat dari tembaga sedang mencakar-cakar wajah dan dada mereka sendiri. Malaikat Jibril menjelaskan, kaum itu adalah orang yang suka memakan daging manusia, karena perbuatannya menggibah dan mencaci kehormatan orang.
Ghibah Sebabkan "Bangkrut" Dunia Akhirat
Jadi teringat tausiyah Ustadz Adi Hidayat di satu kesempatan. Disampaikannya, "Konsekuensi dosa ghibah sangat serius dan menyebabkan kerugian besar bagi pelakunya. Mulai dari gugurnya pahala amal kebaikan yang dialihkan (Muflis) kepada orang yang dighibahinya, kemudian ancaman siksa kubur dan neraka, serta ancaman dibongkarnya aib si pelaku oleh Allah SWT."
Bahkan, imbuh UAH, tatkala pahala amal kebaikan pelaku ghibah habis sebelum menutupi, ia akan ditimpakan dosa dari orang yang dighibahinya. Itulah sebabnya, ghibah kerap disebut sebagai pencuri amal kebaikan, bahkan bisa menyebabkan seseoarang bangkrut di akhirat.
Hati-hati Ghibah Digital/Virtual di Era Media Sosial
Selain dilakukan secara verbal, pada era media sosial sekarang ini, ancaman ghibah justru lebih massif, dan jebakan dosanya lebih luas dan abadi, karena rekam jejak digital itu tetaplah ada.
Coba kita tilik gadget kita. Setiap saat, pada kolom komentar di media sosial terus saja berseliweran sindiran, ejekan, membuka aib seseorang, menyebarkan meme yang menertawakan kekurangan atau kesusahan orang lain. Belum lagi, membicarakan kejelekan orang di luar pengetahuannya dalam grup media sosial. Jangan salah lo, ikut nimbrung menyimak postingan, lalu menambah ikon terkikik untuk meriuhkan postingan ghibah termasuk melakukan ghibah.
Ghibah digital/virtual justru jauh lebih berbahaya. Pasalnya, jejak digital di dunia maya berupa tulisan, postingan, atau komentar akan sulit dihapus total. Selama materi ghibah itu masih bisa diakses, maka dosanya akan terus mengalir.
Pun, skala penyebaran digital yang masif mampu menjangkau jutaan netizen di jagat maya. 'Transaksi" dosa ghibah pun menjadi unlimitted. Bukan tidak mungkin, pada akhirnya menyebabkan bangkrut di akhirat. Pahala dari amal kebaikan dan ibadah yang dikumpulkan di dunia akan dioper ke orang yang dighibahi.
Hal lain yang patut dipertimbangkan adalah informasi yang tersaji di medsos kerap "dibumbui medok" yang belum tentu sesuai fakta atau realita. Jadi, bisa menyeberang dari ghibah menjadi fitnah (buhtan) yang lebih mengerikan dosanya.
Detoksifikasi Hati Bersih dari Racun Ghibah
Selagi Allah masih memberi kesempatan hidup, yuk stop ghibah! Apa yang harus dilakukan jika sudah telanjur melakukannya?
Ustadzah Hj. Eem Marpuah memberi cara yang efektif untuk membuang racun ghibah dan penyakit hati lainnya dari dalam diri kita. Pertama, sibukkan diri dengan urusan sendiri. Seperti nasihat Rasulullah SAW, "Di antara kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya." (HR. Tirmidzi).
Kedua, ganti ruang gosip dengan ruang zikir. Jika jemari sudah gatal ingin mengetik komentar atau lisan sudah siap bergosip, segera alihkan dengan istighfar.
Ketiga, tumbuhkan sifat qana'ah, yaitu merasa diri cukup dengan apa yang ada. "Bahagia itu tidak terletak pada seberapa banyak yang kita miliki atau seberapa tinggi pandangan orang terhadap kita, melainkan seberapa lapang hati kita menerima ketetapan-Nya. Mari kita bersihkan hati, luruskan niat, dan jadikan sisa usia kita penuh dengan obrolan yang membawa kita ke surga, bukan ke dalam murka-Nya," jelas Ustadzah Eem.
Terkait ghibah digital/virtual, kita simak juga nasihat Ustadz Adi Hidayat dalam suatu ceramahnya, yaitu membiasakan diri untuk selalu memverifikasi data atau info yang masuk. Jangan langsung share, kirim-kirim, tetapi cek kebenarannya. Boleh jadi berita itu hoax.
Penting pula memikirkan dampak dari tiap kata dan kalimat yang kita ketik. Pasalnya, di akhirat kelak kata-kata, pendengaran, penglihatan, dan perbuatan manusia di dunia harus dipertanggungjawabkan di pengadilan Allah. Tilik perintah Allah dalam sejumlah surat di dalam Al Quran, di antaranya Al-Isra' Ayat 36, Al-Muddassir Ayat 38, Al-Zalzalah Ayat 7–8, dan An-Nahl Ayat 93.
Manusia sifatnya lemah. Siapa pun bisa terjatuh dalam dosa ghibah. Untuk itu, Allah mengingatkan agar terus melatih diri menjaga lisan. Yang terpenting lagi, jangan pernah putus mengharap rahmat dan ridho Allah.
Pada QS. Al-Hujurat Ayat 12 Allah memerintahkan kita semua untuk bertobat, bertakwa kepada Allah SWT dan tanamkan dalam diri bahwa Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (*) MTS Foto: Dok. MT Nisaaul Jannah
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU