.jpg)
hariansuara.com, Jakarta - Konser tiga kelompok gamelan (Padhang Moncar Group/Gamelan Jawa, Taniwha Jaya/Gamelan Bali dan para mahasiswa) yang berbasis di Wellington bertajuk “Gong Beats” pada ujian akhir mata kuliah gamelan, (3/10/2019) memukau dan menghipnotis ratusan penonton yang memadati Adam Concert Room (ACR), New Zealand School of Music (NZSM), Victoria University of Wellington.
Penonton berdecak kagum ketika para mahasiswa asing yang mengikuti mata pelajaran gamelan selama sekitar 12 minggu lincah memainkan gamelan tanpa melihat notifikasi.
“Kami dalam kurun waktu selama 12 minggu masa perkuliahan belajar sangat keras, selain harus menyerahkan tugas journal untuk setiap pekan dan essay akhir semester, juga harus mampu menguasai tiga gending Jawa untuk ujian akhir, kata Morgan Smith, salah satu penerima gamelan prize untuk best gamelan student malam itu. Gending Ladrang Sumarah laras Pelog Nem, Lancaran Pambuka laras Slendro Manyuro disajikan sangat apik, disusul dengan iringan wayang Lancaran Lumaris Slendro Manyuro disajikan dengan irama cepat dan dinamis.
Para mahasiswa yang dinamai “Performance 250 – Indonesian Gamelan” tahun 2019 sangat terampil unjuk kebolehan memainkan instrument gamelan secara bergantian setiap gendingnya.
“Sungguh luar biasa, mahasiswa maupun warga Selandia Baru mampu memainkan gamelan begitu terampil dan indah” seloroh Koordinator Fungsi (KF) Pensosbud, Adek Triana Yudhaswari yang hadir mewakili Dubes RI untuk Selandia Baru, Samoa dan Kerajaan Tonga, Tantowi Yahya saat menyampaikan sambutan. Adek Yudhaswari juga sampaikan terima kasih kepada staf Fungsi Pensosbud sekaligus Direktur Padhang Monchar, Budi S. Putra yang mengajar gamelan Jawa kepada para mahasiswa dalam waktu singkat dapat terampil bermain gamelan. Menurut Adek melalui diplomasi budaya gamelan ini, jumlah “Friends of Indonesia” di Selandia Baru diharapkan akan bertambah.
Padhang Moncar Group memainkan “Wolak-Walik (Pindah Laras): Ladrang Asmarandana & Pangkur, dan penggalan karya baru musik gamelan “Nusantara Indah – karya Dedek Wahyudi” dan Asmaramurka – karya Nanang Karbito, gending bedayan “Endol-endol minggah gending kalajengaken Lrd Manis Pelog Barang”, sedangkan Taniwha Jaya menampilkan gending “Hujan Mas”. Digelarnya konser gamelan berprada emas Bali dan Jawa membuat atmosfir di Hall pertunjukan NZSM sangat berasa nuansa Indonesia nan megah.
Sajian kolaborasi tiga kelompok yang menyajikan “Sinom Gedong Kunig” yang ditembangkan oleh seluruh mahasiswa diiringi oleh kedua gamelan berasa sangat syahdu menutup konser ujian pada malam tersebut.
Penghargaan dan apresiasi atas ketertarikan serta upaya keras para mahasiswa dalam mempelajari budaya Indonesia khususnya gamelan diberikan kepada dua orang siswa terbaik. Morgan Smith memperoleh Indonesian “Embassy Gamelan Prize” yang disampaikan KF Pensosbud, Adek Triana Yudhaswari. Sedangkan Hannah Brackley, President New Zealand Indonesia Association (NZIA) Wellington menyampaikan penghargaan kepada Lorenz Romuel Arabelo.
Selama 44 tahun NZSM menjadi rumah untuk dua set Gamelan Indonesia yaitu Jawa dan Bali serta menjadikan gamelan sebagai salah satu mata pelajaran. Pada tahun ini terdapat 17 siswa yang belajar gamelan. NZSM juga menyelenggarakan workshop gamelan bagi para siswa tingkat SMP/SMA. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU