
hariansuara.com, Islamabad - Tarian adalah puisi. Setiap gerak adalah kata penuh makna. Bahasa tubuh menjadi perlambang percakapan. Gerak tari seperti sebuah dialog, bisa dibangun dengan hangat. Melalui kreasi imajinasi gerak, perbedaan yang ada terasa berpadu, diguar menjadi sebuah harmoni. Perbedaan dua budaya pun menjadi sebuah rahmat, dan pertemuannya menemukan berkah.
Makna ini ditampilkan dengan apik oleh gerakan tari Keni S. Soeriaatmadja, Feriyal Amal Aslam. Dua penari kawakan dari dua akar budaya berbeda, Indonesia dan Pakistan. Berkolaborasi membawakan sebuah drama tari alegoris “From Java to Indus”. Tarian sejak awal melambangkan proses interaksi serta dialog kedua bangsa yang intens.
Di beberapa segmen digambarkan proses belajar untuk saling mengenal, memberi dan menerima. Pada fragmen penutup, keduanya menarikan “Garuda in Mohenjodaro”, wujud kebersamaan dan saling memahami yang menjadi puncak pemaknaan perjalanan hubungan dua bangsa beda budaya tersebut. 
Pada bagian lain digambarkan pula tentang kedua negara dan bangsa yang pernah sangat dekat ini berupaya menata kembali persahabatan yang terlupakan. Mereka juga ingin kembali bersama, merangkul dunia untuk menjadi lebih baik. Sub tema sendratari “Dance Journey: Indonesia, Pakistan and the World” mengisahkan niat yang ingin dibangun tersebut.
“From Java to Indus” yang dipertunjukkan di Islamabad Art Festival (IAF) 2019 pada 18-30 November 2019 itu berangkat dari kegundahan Dubes RI Iwan Suyudhie Amri. Indonesia sebagai negara bangsa yang pernah sangat dekat dengan Pakistan, saat ini kurang dikenal oleh generasi mudanya. “Pertunjukan tari ini menjadi bukti keinginan Indonesia untuk kembali dikenal di Pakistan serta upaya merajut jalinan kedekatan kedua bangsa itu melalui kerjasama di segala bidang, khususnya seni dan budaya,” Dubes Iwan menekankan. 
Diinisiasi oleh KBRI Islamabad pada November 2017, drama tari diawali dengan proses diskusi dan kemudian diwujudkan dalam workshop di dua kota Islamabad dan Bandung. Keni Soeriaatmadja, penari Bali terkemuka asal Bandung dan Feriyal Aslam penari sekaligus antropolog Pakistan meramu dialog dua budaya dengan kreatif dalam “Garuda in Mohenjodaro”.
Diramu dalam kombinasi gerak lentur tari klasik Legong Bali dan hentakan ritmis gaya tari Kalakshetra Bharatanatyam, “Garuda in Mohenjodaro” mengisahkan perjalanan seorang penari Pakistan yang berkesempatan bertemu dengan burung Garuda Indonesia. Persahabatan keduanya tumbuh seiring dengan kemampuan untuk membuka diri dan saling memahami.
Proses kreatif hingga proses akhir pertunjukan sendratari “From Java to Indus” juga melibatkan mahasiwa Indonesia di Islamabad yang membawakan seni beladiri Pencak Silat, dan tari Merak oleh remaja penari dari KBRI Islamabad, serta dukungan penampilan sejumlah penari kawakan Pakistan. 
Penonton dari kalangan diplomatik, pencinta seni dan masyarakat umum memenuhi Auditorium Pakistan National Council of the Arts (PNCA) Islamabad yang berkapasitas 400 tempat duduk. Mereka mengagumi penceritaan “From Java to Indus” dan harmoni yang dihasilkan oleh gerakan seluruh penari.
Keikutsertaan Indonesia dalam penyelenggaraan IAF 2019 menandai nilai penting persahabatan kedua bangsa. Mendorong partisipasi aktif KBRI Islamabad di IAF 2019, Dubes Iwan menegaskan, “Keberadaan IAF ini patut diapresiasi karena mendorong terciptanya dialog seni multidisiplin dari berbagai budaya, dan menginspirasi kalangan penikmat seni dan budaya. Festival juga menjadi media yang efektif untuk menjalin hubungan antarmasyarakat serta budayanya.” (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU