Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Internasional

Lubarto, Orang Rusia Asal Banyumas

Kabar KBRI
18 Jul 2020
Lubarto, Orang Rusia Asal Banyumas

hariansuara.com, Moskow - M. Wahid Supriyadi, Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus kemarin menerima Lubarto Sartoyo, seorang pria dengan ayah asli Banyumas, Jawa Tengah. Perawakannya kecil untuk ukuran Rusia. Walaupun bapaknya asli Indonesia, namun Lubarto belum pernah ke Indonesia. 

Berbilang tahun silam, ayahnya, Sartoyo, adalah mahasiswa eks ikatan dinas yang beroleh kesempatan kuliah ilmu hokum di Rusia pada 1961 di Peoples’ Friendship University of Russia (RUDN University) atau Universitas Patrice Lumumba. Terakhir, Sartoyo berprofesi sebagai lawyer. 

Selain Sartoyo, banyak juga mahasiswa Indonesia peraih beasiswa dikirim Bung Karno ke Uni Soviet untuk belajar di berbagai perguruan tinggi. Beberapa sumber mengatakan, ada sekitar 2.000 orang. Mereka belajar teknik permesinan, kedirgantaraan, nuklir, teknologi nano, hukum, ekonomi dan sastra.

Kepada hariansuara, Dubes Wahid mengatakan, ia pernah bertanya ke mereka, selama belajar, ada indoktrinasi tentang ideologi komunis. “Mereka kompak menjawab, tidak ada. Itu hanya untuk orang lokal sampai tingkat SMA, sementara di perguruan tinggi mereka khusus belajar terkait bidang ilmunya,” tutur Dubes. 

“Kondisi Indonesia saat itu memang lagi kacau. Mereka takut pulang karena banyak yang langsung dipenjara, bahkan terbunuh. Mereka menolak disebut komunis, dan kebanyakan mengaku sebagai Sukarnois. Akibat dari itu, mereka kehilangan kewarganegaraannya (stateless), dan tidak boleh bepergian sejauh lebih dari 30 km. Mereka juga tidak berani menulis surat kepada keluarganya di Indonesia, khawatir bisa memperburuk kondisi mereka. Praktis hubungan mereka terputus selama 30-an tahun dengan Indonesia. Beruntung ada Reformasi sehingga mereka bisa berkunjung ke Indonesia sejak saat itu.”

Ketika terjadi peristiwa G 30 S PKI, sebagian besar dari mereka melarikan diri ke negara-negara Barat, terbanyak di Belanda, juga negara Eropa Timur seperti Chekoslovakia, Romania, Hongaria dan lain-lain. Yang tinggal di Uni Soviet diperkirakan antara 15-20 orang saja. Saat ini hanya ada sekitar 4 orang yang masih hidup. Yang paling aktif satu orang, Profesor Sudaryanto, yang memang datang belakangan, pada 1964. Beliau profesor ekonomi dan mengajar di Universitas Koperasi di Moskow, aktif di gerakan diaspora.

LUBARTO RINDU TANAH LAHIR LELUHUR

Lubarto, sekitar 50 tahun, memiliki tiga gelar master, di bidang ekonomi dan hukum, bisnis administrasi dan strategi pemasaran. “Saya masih melakukan kontak dengan saudara-saudara saya di daerah Banyumas, dengan memanfaatkan google translate,” aku Lubarto kepada Dubes Wahid. Maklum Lubarto tidak bisa berbahasa Indonesia, dan Bahasa Inggrisnya pun terbatas. 

Lanjut Lubarto lagi, “Selama ini saya mendengar tentang Indonesia dari Bapak. Saya merasa dekat kembali dengan Indonesia setelah mengikuti Festival Indonesia beberapa kali, dan mulai melakukan kontak dengan para pengusaha Indonesia. Kebetulan saya sekarang bergabung dengan Asosiasi Ekspor dan Impor yang diprakarsai oleh kantor Walikota Moskow.”

Dubes Wahid di sejumlah kesempatan telah beberapa kali mendorong Lubarto untuk berkunjung ke tanah leluhur orang tuanya, sekaligus menjadi jembatan penghubung bisnis antardua negara. “Saya katakan kepada Lubarto, dia orang yang sangat tepat. Walaupun telah mendjadi warga negara Rusia, bapaknya adalah asli Indonesia. Sekarang ini Indonesia sudah sangat terbuka untuk kaum diaspora, apa pun latar belakangnya,” kata Dubes Wahid yang pada pertemuan 16 Juli kemarin sengaja menemui Lubarto untuk berpamitan terkait berakhirnya masa tugasnya bulan ini. 

“Saya memberikan cindera mata berupa gunungan, dengan harapan dia tidak akan melupakan asal-usulnya. Kali ini dia berjanji akan datang ke Indonesia dengan misi bisnis sambil menengok tanah leluhurnya di daerah Banyumas. Saya usulkan dia bertemu dengan pejabat di Banyumas, menjalin dengan pegusaha lokal dan dapat menjadi ‘Duta’ Banyumas di Rusia,” papar Dubes Wahid lebih detail, “Dia pun menyambut baik ide itu. Keinginannya untuk pergi ke Indonesia semakin mantap. Kebetulan setiap tahun Kementerian Perdagangan bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri menyelenggarakan acara pemeran dagang terbesar Trade expo Indonesia di bulan Oktober.”

Dubes Wahid sempat bertemu dengan ayah Lubarto, Sartoyo, pada saat perkenalan dengan masyarakat di KBRI awal April 2016. Dengan memakai kursi roda, dia mendekati Dubes Wahid dan memperkenalkan diri berasal dari daerah Banyumas. “Saya pun akhirnya berbicara dengan Bahasa Jawa ala Banyumasan (ngapak). Dia menyambutnya dengan semangat, karena jarang sekali ketemu orang Jawa yang bisa ngomong ngapak.” 

Sartoyo gembira sekali. “Hampir lupa ngapak saya, untung Pak Dubes dari Kebumen. Kita jadi sering-sering ngomong ngapak,” tiru Dubes Wahid atas ucapan Sartoyo ketika itu. Sartoyo pun terlihat penuh suka cita. Di pecinya tersemat pin bendera Indonesia dan Rusia serta lambang garuda. Sartoyo mengakui sebagai Sukarnois. Suratan takdir, Sartoyo meninggal pada 2017 karena penyakit komplikasi yang dideritanya.

Menurut Dubes Wahid, sebenarnya banyak generasi kedua dan ketiga dari keluarga diaspora semacam almarhum Sartoyo. Selama ini mereka tidak pernah datang atau berkumpul dengan orang Indonesia. Maklum, karena kondisi, mereka pun menjadi warga negara Rusia dan tidak dapat lagi berbahasa Indonesia. Mungkin juga orang tuanya tidak pernah bercerita tentang Indonesia, mengingat hal itu bisa menjadi trauma tersendiri buat bagi mereka.

FESTIVAL INDONESIA PELIPUR RINDU KEPADA INDONESIA

Semenjak diselenggarakan Festival Indonesia Agustus 2016, diaspora di Rusia mulai muncul dan bahkan datang di upacara peringatan HUT RI. “Saya selalu ngobrol dengan mereka, dan saya melihat dari ekspresi mereka tidak ada tanda-tanda rasa ‘benci’ terhadap Indonesia. Kenyataannya, memang mereka benar-benar sudah menjadi ‘orang’ Rusia. Sewaktu pertama kali bertemu di acara festival di Hermitage Garden, merekalah yang pertama kali memperkenalkan diri, bahwa ayahnya berasal dari Indonesia. Namun kebanyakan tidak tahu ayahnya berasal dari mana.

Dubes Wahid bangga melihat diaspora dapat membaur dengan kalangan Indonesianis yang sebagiannya sudah sangat senior, seperti terlihat pada festival yang diselenggarakannya pada 10 Desember 2019. Dari 45 undangan yang disebar KBRI Moskow, ujar Dubes, hadir sekitar 90 orang. Ini luar biasa, sekaligus membanggakan, mengingat sekitar 75% berasal dari generasi muda, baik dari masayarakat lokal, mahasiswa pecinta Indonesia, kawin campur maupun generasi kedua dan bahkan ketiga dari diaspora seperti mendiang Sartoyo. Bahkan ketika itu hadir mahasiswi di tingkat College dari keluarga kawin campur. Ia berpidato dalam Bahasa Indonesia yang lumayan bagus, walaupun dengan sedikit dialek Rusia.

“Empat tahun empat bulan saya bertugas di Rusia. Jarak tidak membuat kendala bagi hubungan negara dan rakyat kedua negara. Saya senang, wisatawan Rusia meningkat hampir 100% dari sekitar 80 ribu di tahun 2016 menjadi hampir 160 ribu di tahun 2019. Demikian juga wisatwan Indonesia yang berkunjung ke Rusia meningkat dari sekitar 5 ribu di tahun yang sama menjadi sekitar 30 ribu di tahun 2018," ujar Dubes Wahid yang akan mengakhiri masa tugasnya untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus pada Juli 2020. 

"Tidak sulit menemukan boneka matryoska di Rusia yang bergambar Presiden Sukarno dan Presiden Jokowi di pusat belanja souvenir terkenal Ismailovo. Pedagang di sana bahkan ada yang bisa berbahasa Indonesia. Spasibo Rusia.” (*) Dubes M Wahid Supriyadi/mel, Foto: Dok Pribadi

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X