
hariansuara.com, Jember (7-dc.com) – Bisnis kuliner merupakan salah satu aktivitas ekonomi yang paling menjanjikan, karena perputaran uangnya sangat cepat. Namun, risikonya juga besar.
Nah, dalam membangun bisnis kuliner, dibutuhkan trik tertentu agar memangkan persaingan yang sangat kompetitif sekarang ini. Di antaranya, memastikan menu masakan yang disajikan adalah spesial, lokasi dibuat menarik yang dapat mengundang orang datang.
Memiliki sebuah warung atau kedai kuliner tidak pernah tebersit di benak tiga pemuda asal Jember, Jawa Timur. Mereka adalah Andi Tepenk, Fredi dan Hendra Setiawan. Ketiganya punya hobi sama, yakni otomotif dan tergabung dalam Klub mobil Volks Wagen (VW) Combi.
Ketiga pemuda ini mendesain mobil VW Combi mereka menjadi warung makanan. Selain unik, mobil mereka ini juga dapat dipakai untuk jualan sehari–hari. Alhasil, kehadiran mereka mudah diingat jika kebetulan bertemu mereka di jalan.
Hendra menceritakan, awal mulanya menjalankan bisnis kuliner menggunakan VW Combi atau istilah kerennya Food Truck. Ia tidak mematok target apa pun, selain hanya berjualan makanan pada acara–acara tertentu misalnya saat ada pertemuan anggota klub VW Combi, acara komunitas bikers, pentas seni di sekolah dan sebagainya.
Dari sana, ia terpikir untuk serius terjun ke bisnis kuliner. Dengan VW Combi, dia pun bisa berkeliling memasarkan dagangannya.Ingin ikut coba?
Mobil kita, ya warung kita”, kata ketiga pemuda ini berbarengan.
Mereka juga mengaku lebih nyaman dengan bisnis kuliner semacam ini, karena tidak khawatir kena gusur oleh petugas tramtib maupun bayar sewa kontrak tempat.
Ia melanjutkan, karena menggunakan mobil, maka mesin mobil harus rutin diservis secara berkala. Ketiganya tak ingin VW Combinya sering mogok dan boros bahan bakar. Ini pasti bisa mengganggu kelancaran bisnis.
Bagaimana sajian dagangannya? Walaupun sama-sama menekuni bisnis kuliner, mereka menawarkan menu makanan dan minuman berbeda satu dengan lainnya.
Fredi khusus menjual sosis dan bakso bakar, burger, hotdog, roti bakar dan minuman. Andi Tepenk semangat dengan jualan makanan rumahan, menjual makanan rumahan seperti nasi goreng, mie rebus dan berbagai minuman ringan.
Sementara Hendra punya makanan berbasis rice bowl dengan berbagai macam variasi menu, mulai dari nasi tongkol suwir, nasi daging sapi lada hitam, nasi ayam kecap yang dikemas dalam Paper Cup yang tahan panas.
“Untuk makanan, istri saya yang memasak. Kalau (membuat) minuman saya sendiri, istilahnya semua homemade,” ujar Hendra pada hariansuara.com. Harga yang terjangkau dibandrol berkisaran 5 sampai 20 ribu rupiah.
Biasanya mereka keliling berjualan menjelang saat istirahat makan siang. Konsumennya berasal dari kalangan remaja, mahasiswa hingga orang kantoran.
“Empat hari sekali atau lima hari sekali menunya pasti ganti, maksimal empat menu per hari,” kata Hendra.
Salah satu pelanggan setianya, Abdul Rahman (35), mengatakan senang bisa menikmati makan siang dengan menu yang berbeda setiap harinya.
“Bosan kalau makan di kantin kantor, menunya itu-itu saja. Food truck menunya ganti setiap hari. Yang penting lagi, kita bisa order via media sosial. Kalau teman–teman saya pengin ikutan makan siang bareng, kami bisa minta food truck ngetem di depan kantor kami,” jelas Abdul.
Buat kalian yang ingin mengelola bisnis kuliner dengan tampil beda, ada baiknya mencontoh mereka. Menarik bukan? (Liputan eksklusif Deni Romdoni)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU