
hariansuara.com, Jakarta - Saat Anda dan keluarga ingin berwisata ke suatu daerah dengan rute yang jauh, lebih menyenangkan jika menggunakan transportasi umum. Selain bisa mendapatkan suasana yang baru, menggunakan transportasi umum dapat membantu menanggulangi masalah kemacetan di jalan akibat terlalu banyaknya kendaraan pribadi. Namun, ada kalanya terlintas tanya dalam benak, transportasi umum apakah yang paling aman? Apakah bus, kereta api, kapal laut atau pesawat?
Jawaban yang tepat adalah pesawat terbang. Mengapa harus pesawat? Bukankah di berita-berita banyak terjadi kasus kecelakaan pesawat? Untuk menjawab itu semua, simaklah 5 ulasan singkat berikut ini tentang alasan pesawat adalah moda transportasi teraman.
1. Butuh Keahlian Dan Lisensi Khusus Untuk Pilot Menerbangkan Pesawat
Menerbangkan pesawat tidak sesederhana mengemudikan kendaraan lain. Untuk bisa mengendarai mobil atau motor di jalan raya saja Anda harus memiliki SIM A/C, bukan? Pesawat sangat lebih dari itu. Sebelum pilot mendapatkan izin untuk menerbangkan pesawat, apalagi pesawat komersil, diperlukan banyak sekali tahapan.
Pertama-tama, untuk menjadi pilot, Anda harus mendaftar ke sekolah penerbangan atau ground school. Saat pendaftaran sekolahnya pun terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi. Mulai dari lulus SMA, ada batasan minimal dan maksimal umur, memiliki tinggi badan tertentu, memiliki sertifikat kemampuan bahasa Inggris dengan skor tertentu dan sehat secara fisik dan mental. Setelah lolos syarat administrasi, Anda harus melalui beberapa tahapan tes masuk dan tes kesehatan.
Setelah Anda dinyatakan lulus tes masuk, di sekolah pilot ini Anda akan mempelajari ilmu-ilmu seputar pesawat. Misalnya ilmu tentang mesin pesawat, ilmu tentang meteorologi, membaca navigasi untuk flight plan, Radio Telephony, standar internasional menjadi pilot dan masih banyak lagi. Selain teori, calon pilot ini juga akan menjalani simulasi terbang menggunakan simulator lalu praktik langsung di lapangan. Setelah melalui semua fase sekolah penerbangan itu, para taruna/taruni ini akan mengantongi lisensi penerbangan (SPL).
Mengantongi SPL belumlah cukup untuk bisa menerbangkan pesawat layaknya pilot profesional. Dibutuhkan jam terbang dengan jumlah tertentu untuk mendaftar sebagai pilot di sebuah maskapai. Pilot yang baru lulus dari sekolah biasanya telah memiliki kurang dari 500 jam terbang. Level selanjutnya adalah co-pilot yang umumnya membutuhkan jam terbang 500 hingga 2500 jam. Untuk bisa memenuhi jam terbang, bisa dengan magang di maskapai-maskapai kecil.
2. Pesawat Dirancang Dengan Tingkat Keamanan Dan Kehandalan Tinggi
Pesawat pastinya telah didesain sedemikian rupa agar bisa terbang dengan aman di udara. Sistem pengoperasian dan maintenance mesin-mesinnya pun tak sembarangan dan berbeda dengan mesin yang ada pada mobil ataupun motor. Sistem automasi dan kontrol elektronis pada mesin pesawat juga mutakhir. Mesin pesawat bisa bekerja baik pada saat mode normal maupun bahaya atau dalam keadaan terdesak. Misalnya, saat salah satu mesin pesawat mati, maka adanya back up dari mesin lainnya sehingga mesin tidak mati total. Belum lagi dari sistem kelistrikannya. Semuanya telah melewati uji kelayakan dengan standarisasi yang berlaku internasional.
3. Ketatnya Sistem Keamanan Bandara Dan Maskapai
Setelah pesan tiket pesawat di Traveloka dan hendak check in di bandara, Anda pasti akan melewati beberapa petugas. Mulai dari pemeriksaan identitas dan tiket, barang bawaan yang harus melewati pemeriksaan x-ray, badan yang akan diperiksa oleh petugas dengan metal detektor bahkan sebagian bandara ada yang menggunakan anjing pelacak. Belum lagi tersebarnya banyak CCTV di setiap ruangan, alat pemadam kebakaran dan sistem keamanan lainnya di bandara.
Ketika Anda diperbolehkan masuk ke ruang check in, akan ada penimbangan berat barang bawaan yang akan ditaruh di bagasi pesawat. Jika terlalu banyak akan dikenakan biaya tambahan. Selain itu, penumpang juga tidak diperkenankan membawa beberapa barang yang berupa cairan aerosol, obat-obatan tertentu dan lain-lain. Di dalam pesawat pun masih ada aturan keselamatan penumpang yang harus dipatuhi. Contohnya penumpang diharuskan mengubah mode aktif di handphone menjadi mode pesawat. Gelombang sinyal dari handphone itu akan mengganggu sistem komunikasi pilot dan bisa merusak mesin pesawat.
4. Turunnya Angka Korban Kecelakaan Pesawat
Aviation Safety Network telah mencatat bahwa angka kecelakaan pesawat menunjukkan penurunan. Pernyataan ini dilengkapi dengan data dari To70 (lembaga konsultan dari Belanda). Pada tahun 2018, tercatat korban tewas akibat kecelakaan pesawat sebanyak 534 orang. Sementara pada tahun 2019 menurun menjadi 257 jiwa melayang.
5. Pemberitaan Media Yang Terlalu Heboh
Jika ada sebuah pesawat yang terjatuh, semua media seakan-akan berlomba-lomba untuk menyajikan berita terbaru. Berbeda dengan kecelakan mobil atau motor yang tidak semuanya terekspos media. Hal ini akan mempengaruhi stigma di masyarakat bahwa naik pesawat itu rawan kecelakaan. Padahal setiap harinya juga banyak pesawat terbang yang lepas landas di udara.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU