
hariansuara.com, Jakarta - Hari ini, 22 Desember, diperingati sebagai Hari Ibu. Hari yang ditandai dengan penghargaan ekstra kepada perempuan mulia yang disapa ‘Ibu’.
Hari Ibu sejatinya tak sebatas merujuk pada peran domestik saja, malainkan menjangkau spektrum yang lebih luas. Hari Ibu adalah kebangkitan perempuan sebagai pribadi dan anggota masyarakat, bagian dari bangsa dan negara.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, pada 20-25 Desember 1928, kaum perempuan se-Nusantara mengadakan Kongres Perempuan Indonesia. Penetapan kongres 22 Desember tersebut menjadi Hari Ibu baru pada 1959 oleh Presiden Soekarno dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden No 316.
Di Hari Ibu yang istimewa ini, hariansuara.com mewawancarai perempuan-perempuan hebat sebagai inspirasi bagi Anda untuk lebih mengaktualisasi dan mengeksplor potensi diri. Kelak dapat menebarkan aura positif di lingkungan maupun masyarakat lebih luas.
Dra Hj Kasih Fajarini: Sebuah Pengabdian dan Perjuangan yang Ikhlas
Istri Bupati Jember, Ir H Hendy Siswanto, ST., IPU mencurahkan waktu dan dedikasinya untuk melayani masyarakat. Selaku Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Jember, ia kerap ke pelosok desa, memotivasi masyarakat untuk bangkit. Utamanya lebih memberdayakan kaum perempuan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

“Bagi kami, para ibu, memilih lelap menidurkan anak-anak, atau memilih ikut membanting tulang bekerja membahagiakan keluarga adalah pengabdian yang ikhlas. Bagi kami, para ibu, keyakinan ini mutlak. Percayalah…,” ujar Kasih Fajarini di akun facebook Pemkab Jember.
Sebagai seorang ibu dan pekerja keras, Kasih Fajarini tak lelah menyemangati seluruh ibu di dunia untuk terus berjuang dan mengabdi. “Selamat Hari Ibu. Semoga berkah Tuhan senantiasa dicurahkan untuk setiap langkah pengabdian dan perjuangan para Ibu.”
Ariyani: Ibu Sekolah Pertama dan Sahabat dalam Suka Duka
Bagi Ariyani, Ketua Majelis Ta’lim Nisaaul Jannah di Griya Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor, Jawa Barat ini, Ibu adalah sekolah pertama, sekaligus sahabatnya dalam suka dan duka.

“Dari saya masih kanak-kanak, Mama mengajarkan untuk selalu berbuat baik kepada orang lain. Siapa saja, meskipun orang itu telah menyakiti kita,” ujarnya kepada hariansuara.com.
Dikisahkannya satu pengalaman bersama Ibu yang sangat disyukurinya. “Saya mengalami Baby Blues Syndrome pasca melahirkan anak pertama. Depresi. Perasaan sedih dan senang campur aduk saat recovery sesudah bersalin. Subhanallah, beratnya. Bisa down kalau sendirian. Bersyukur ada Mama yang selalu menemani saya setiap saat sampai depresi itu terlewati,” lanjut ibu dua anak ini.
Febby F Soerianata: Berkat Ibu, Mencintai Anak Yatim Jadi Lifestyle
Ibu dua anak asal Bandung, Jawa Barat ini kesehariannya sibuk mengurus perusahaan miliknya, PT Soerianata Indo Cipta. Namun, ia selalu sempat menghibur anak-anak yatim.

“Bersedekah dan membantu banyak orang dengan cinta itu menjadi lifestyle aku. Mama mengajarkan aku dari kecil ujtuk selalu menolong orang dan menjadi orang tua asuh bagi anak yatim,” ujar Febby, hangat.
Ibu muda ini sangat mengagumi ibunya. “Mama, my angel. Sangat berarti buatku. Dari Mama, aku mengenal nilai berbagi yang memudahkan dan membahagiakan hidupku. Rasanya hidup dipenuhi rasa syukur.”
Natialia Tjahja: Mengasihi Apa Adanya
Pendiri Maria Monique Last Wish Foundation ini menyerap banyak pembelajaran dari peristiwa yang dilalui dalam hidupnya.
Wafatnya Maria Monique, putri semata wayangnya kala belia, memotivasinya mendirikan yayasan untuk mengenang dan ‘menghidupkan’ cita-cita mendiang. Membuat tersenyum semua orang, termasuk anak-anak yang kurang beruntung di seluruh dunia.

Di antaranya, membagikan kursi roda agar orang ‘bisa’ berjalan. Memenuhi keinginan terakhir, last wish, mereka yang sakit berat. Terakhir, membuat program mendunia, Maria Monique Happy Home, diperuntukkan bagi anak-anak difabel yang membutuhkan penginapan kala melakukan terapi atau berobat.
“I cannot tell a lie. Saya mencintai Mama saya sepenuh hati. I love my Mom with all my heart. Tapi inspirasi saya hanya Tuhan,” ujar Natalia kepada hariansuara.com melalui WhatsApp.
“Buat saya, menjadi ibu penting tak sekadar duniawi, tapi menanamkan kepada putra-putrinya untuk bergantung hanya kepada Tuhan. Kenalkan rasa mengasihi non stop kepada para difabel, orang-orang yang sakit dan menderita,” ujar Natalia, yang merengkuh ibundanya yang sepuh dan mengalami kepikunan.
“Anggota keluarga lain tidak bisa menerima, bahkan memaksakan kehendak mereka agar Mama kembali normal. Tapi, karena inspirasi saya adalah Tuhan, maka saya bisa menerima kondisi Mama, menyayanginya apa adanya dan memperkuat keimanan Mama kepada Tuhan. Meski tidak instan, Tuhan sudah pulihkan ingatan Mama. Kekuatan terbesar di dunia ini adalah bila inspirasi kita adalah Tuhan,” pungkas Natalia.
Bagaimana dengan Anda, perempuan Indonesia yang hebat? Pasti Anda pun bisa menjadi inspirasi bagi semua orang. Tapi, tidak boleh lupa bahagia ya. Sebab, kata orang bijak, sesorang yang hatinya bahagia akan mampu membuat orang lain tersenyum. (*) Melia Hapsarani & AQ Aini/MTS Foto: Pemkab Jember, Dok Pribadi & IST
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU