Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Mengantar Indonesia Transisi ke Energi Hijau

Nasional
09 Jan 2022
Mengantar Indonesia Transisi ke Energi Hijau

hariansuara.com, Jakarta - Beberapa hari ini sempat bergulir spekulasi terkait penggantian susunan direksi di Perusahaan Listrik Negara (Persero). Di antaranya, penggantian pejabat tersebut karena sebabkan krisis batu bara sebagai energi primer di PLN.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, tak mengiyakan. Katanya, penggantian direksi dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) adalah hal biasa. Toh krisis batu bara bukan hal baru, bahkan sejak Januari 2021 sudah ada. 

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, melihat alasan penggantian Direksi PLN lebih karena kurangnya upaya yang bersangkutan dalam menurunkan penggunaan batu bara di PLTU PLN. 

“Kegagalannya di situ. Tidak ada perubahan akan besaran kebutuhan energi batu bara. Sementara Presiden Joko Widodo mengharapkan dilakukan terobosan untuk mengalihkan energi kotor (batu bara) ke energi bersih yang ramah lingkungan,” demikian jelas Fahmy kepada Harian Suara.

Dosen ekonomi UGM tersebut melihat harapan besar dengan diangkatnya Darmawan Prasodjo, Ph.D menggantikan Zulkifli Zaini selaku Direktur Utama PLN. Pun, Hartanto Wibowo menjadi Direktur Energi Primer menggantikan Rudy Hendra Prastowo.

Hemat Fahmy, “Saya perkirakan Dirut Darmawan Prasodjo dan Direktur Energi Primer Hartanto Wibowo masih muda dan berani melakukan inovasi-inovasi teknologi, investasi ke arah energi baru yang terbarukan (EBT). Terlebih Dirut Darmawan berlatar belakang Doktor lulusan Amerika di bidang ekonomi energi. Sangat diharapkan dapat melakukan terobosan-terobosan.”

Restu untuk melakukan terobosan-terobosan itu, tambah Fahmy, tampaknya sudah didapat sesuai kebijakan Presiden Joko Widodo. Secara normatif, Dirut PLN bisa mengimplementasikan kebijakan mewujudkan transisi ke energi hijau sesuai harapan pemerintah. 

Transisi ke Energi Hijau 

Usai mengikuti Change Conference of the Parties (COP26) di Glasgow, Skotlandia, pemerintah Indonesia menyatukan langkah dengan negara-negara di dunia untuk menyelamatkan lingkungan dan menjaga keseimbangan dalam beraktivitas ekonomi. 

Indonesia punya banyak pekerjaan rumah, di antaranya, mengurangi penggunaan emisi karbon. Caranya, mengganti energi fossil dengan energi substitusi yang bersih (energi baru yang terbarukan/EBT). 

“PLN telah berikhtiar untuk itu seperti memanfaatkan energi surya, energi air dan energi angin (bayu). Namun, dibanding energi batu bara, kapasitas energi substitusi itu masih terbatas. Sementara, tidak bisa terus-menerus 24 jam. Jadi, harus dikembangkan teknologinya bila ingin ‘memensiunkan’ batu bara. Memang teknologinya lebih mahal daripada batu bara,” kata Fahmy.

PLN, harap Fahmy, Direktur Energi Primer baru melakukan percepatan-percepatan untuk makin memberdayakan EBT. Pada akhirnya, bisa mengurangi ketergantungan terhadap energi fossil. Batu bara, misalnya, diketahui sebagai penyumbang emisi terbesar penyebab krisis iklim dunia. (*) Surya/MTS         Foto: Dok Pri & IST

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X