
hariansuara.com - Bersyukurnya Indonesia, di Papua terdapat Taman Nasional (TN) Lorentz yang diakui dunia sebagai World Heritage Site atau Situs Warisan Dunia. Sejak 1999, World Heritage Convention UNESCO mengeluarkan putusan tersebut karena kualitas luar biasa yang dimiliki konservasi alam terbesar di Asia Tenggara ini.
“Taman Nasional Lorentz berada di atas lahan seluas 2,5 juta hektar dengan keanekaragaman hayati yang melimpah ruah,” demikian disampaikan Kepala Balai Taman Nasional Lorentz, Acha Anis Sokoy, S.Hut kepada hariansuara.com melalui saluran telepon.

Di sana ada 670-an jenis burung, 240-an mamalia, 359 reptil dan 150 lebih amfibi, Papuan Singing Dog, plus kupu-kupu cantik yang merupakan sebaran spesies di dalam ekosistem yang lengkap dan unik. Sebarannya ke laut, dataran rendah sampai gunung yang tinggi.
“Terdapat juga spesies jenis endemik yaitu Dendrolagus Mbaiso, kanguru pohon yang menjadi ikon pada PON XX lalu. Mamalia bertubuh besar serta berwarna hitam dan putih ini hidupnya di kisaran 2.500 - 3.500 meter di atas permukaan laut (mdpl),” lanjut Pak Acha, sapaannya.

Di samping itu, kekayaan flora TN Lorentz adalah nothofagus, pohon purba yang fosilnya merupakan kekayaan hayati dominan di pegunungan tengah pada ketinggian antara 1.500 dan 2.800 meter.
Pun terdapat habitat Cyathea sp atau dikenal sebagai flora endemik pakis purba yang bentuknya menyerupai pohon. Tumbuh di ketinggian 2.800 - 3.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan masuk di sub zona pegunungan atas. Pun, Phylocladus hypophyllus atau kayu sina yang di Indonesia hanya ada di Papua dan Sulawesi.
Satu catatan istimewa, TN Lorentz satu dari hanya tiga wilayah tropis di dunia yang memiliki gletser atau salju abadi. Itu di Puncak Cartenz Pyramid atau di Puncak Jaya, gunung tertinggi di Indonesia. Tempat lainnya, Gunung Kilimanjaro di Afrika dan Gunung Huascaran di Peru, Amerika Latin.
Keberlanjutan TN Lorentz untuk Anak Cucu
Satu fakta, dunia mengakui Taman Nasional Lorentz sebagai World Heritage Site atau Situs Warisan Dunia. Pengakuan ini membuktikan kawasan TN Lorentz memiliki nilai penting bagi konservasi keanekaragaman hayati secara global. Indonesia tentu bangga dan bersyukur karenanya.

Tak bisa sekadar bertepuk tangan gembira karenanya. Tetapi sebagai anak bangsa, kita semua bertanggung jawab dan peduli akan keberlanjutannya demi anak cucu, generasi penerus pemilik masa depan.
Selama ini TN Lorentz dikelola pemerintah. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) yang menginduk ke Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLH) mengelola dengan sumber dana dari APBN dan APBD.
“Sejak lama TN Lorentz dikelola pemerintah bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), di antaranya World Wild Fund for Nature (WWF) dan Blue Forest,” urai Acha.
Namun, pada 2019 dan 2020 belum ada lagi dukungan tersebut. Pengelolaan murni bersumber pada APBN dan APBD. Kehadiran LSM diakui sangat bermakna dalam mengelola kawasan konservasi LN Lorents seluas 2,5 juta hektar dengan kondisi geografis yang sangat sulit dan belantara yang masih perawan.
“LSM yang intens menjalin kerja sama sejak 1980-an sampai 2006 adalah WWF Indonesia Program. Kami berterima kasih sekali. Bahkan dengan itu TN Lorentz sampai memiliki fasilitas daya dukung yang sangat lengkap,” tambah Acha.
Sejak 2015 WWF melakukan konsorsium dengan beberapa LSM di USAID Lestari. Mereka mendukung pembuatan program perencanaan. Sebab, dengan pengakuan WHC UNESCO atas TN Lorentz itu, harus didukung dengan perencanaan yang baik untuk bisa melakukan efetivitas pengelolaan.
Sudah dilakukan reviu terhadap zona pengelolaan mulai 2015-2020. Ditimbang perkembangan yang ada, pemekaran di Provinsi Papua. Kini ada 260-an desa tercakup di dalam kawasan konservasi alam ini.
“Menjadi keunikan, sekaligus kelebihan tersendiri. Luasan ekosistem yang lengkap, uniknya suku-suku asli yang telah menetap di TN Lorentz jauh sebelum ditetapkan sebagai kawasan konservasi alam. Suku-suku ini menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Serupa dengan Suku Baduy di Taman Nasional Halimun Salak atau Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka hidup dengan kearifan lokal yang terus terjaga,” jelas Acha lebih lanjut.
10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi
Menilik lengkapnya ekosistem di kawasan TN Lorentz, Ditjen KSDAE yang dinakhodai Ir Wiratno, M.Sc mengeluarkan 10 Cara Baru Mengelola Kawasan Konservasi pada 2018 lalu.
Intinya, mengutamakan keberadaan masyarakat asli di TN Lorentz jadi jangkar utama dalam mengelola kawasan hutan dan konservasi dewasa ini dan untuk masa datang. Masyarakat jadi subyek yang dihormati hak asasi manusianya, serta dihormati nilai budaya dan adat yang disandangnya.
Lintas Eselon I dan Kementerian mesti terintegrasi dalam kolaborasi yang solid. Kepemimpinan multilevel hadir, sigap menerapkan reward dan mentorship (penghargaan dan pendampingan). LN Lorentz menjadi organisasi pembelajar, lengkap dengan aplikasi teknologi IT. Mengambil keputusan berdasarkan data dan mekanisme saintifik (Scientific Based Decision Support System) dan manajemen yang profesional (Resort (Field) Based Management).
“Tim di TN Lorentz hanya 70-an orang. Menangani konservasi alam seluas 2,5 juta mustahil dilakukan tanpa kerja sama dan dukungan dari banyak pihak. Pun, tanpa IT akan sangat sulit menjangkau seluruh cakupan wilayah TN Lorentz,” urai Acha, sambil melanjutkan,
“Ending dari konservasi adalah menyejahterakan manusianya. Teman-teman di Konsorsium USAID membantu kami menyusun perencanaan di zona sampai penyusunan RPJT-nya (jangka pendek, menengah, panjang). Persis seperti tertuang dalam UUD ’45 Pasal 18 maupun UU RI No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 67.”
Sebagai putra Bangsa, Anda tertarik bersumbangsih menjaga keberlanjutan Balai Taman Nasional Lorentz di Papua untuk anak cucu? Taman Nasional Lorentz, silakan klik www.tamannasionallorentz.menlhk.go.id. Atau akses akun instagram official @btn_lorentz. Untuk lebih jelasnya, kontak di +62 821-9313-3616. (*) MTS Foto: Taman Nasional Lorentz
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU