
hariansuara.com - Berita menggembirakan, Indonesia memiliki energi panas bumi (geothermal) kedua terbanyak di dunia setelah Amerika. Tak kurang dari 40% cadangan geothermal di jagat raya ini ada di Tanah Air kita.
Namun, sejauh ini, kelimpahan energi geothermal ini belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Per Desember 2020, baru menghasilkan sekitar 23.965,5 Mega Watt (MW) atau sekitar 24 Giga Watt (GW). Sedangkan Amerika, produksi energi listrik geothermal mereka telah mencapai 30.000 MW.
Pemerintah, diketahui, sebulam lamanya (28/1 - 28/2/2022) telah melakukan penawaran terkait Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (WPSPE) Panas Bumi di kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Luas WPSPE tersebut 3.180 Ha dengan potensi cadangan geothermal sebesar 85 MWe.

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Dr Fahmy Radhi, MBA, mendukung sekali rencana penggarapan geothermal untuk pemasokan energi listrik. Bahkan penggarapan geothermal sepatutnya diprioritaskan. Toh cadangan energi geothermal di inti bumi Indonesia begitu melimpah.
“Kelebihan lainnya, dibandingkan bahan bakar fosil seperti batu bara, panas bumi itu sumber energi bersih yang melepaskan sedikit gas rumah kaca. Jadi, eco friendly, papar Fahmy sambil melanjutkan,
"Geothermal atau panas bumi salah satu energi baru tergantikan (EBT). Tepat sekali timing-nya kala negara-negara dunia, termasuk Indonesia, sepakat melakukan transisi ke energi hijau, mengganti energi fossil ke EBT. Karenanya, bagus sekali bila penggarapan geothermal diprioritaskan,” ujar Fahmy lagi.
Kelebihan lain geothermal, ketersediaannya continuous, terus menerus, 24 jam. Sementara energi surya, bayu (angin), dan hydro (air) yang sifatnya intermiten/berselang.
Kenapa Geothermal Masih Minim Digarap?
Sejumlah faktor selama ini menjadi sebab investor kurang tertarik menggarap geothermal di Indonesia. Seperti minyak dan gas bumi, jelas Fahmy, panas bumi harus dieksplorasi. Biaya investasinya besar, sementara harga pokoknya masih lebih mahal dibandingkan batu bara. Karenanya, pilihan jatuh pada bahan bakar fossil tersebut.
Di samping itu, dibutuhkan aplikasi teknologi tinggi. Belum lagi lokasi yang akan menjadi titik eksplorasi geothermal umumnya jauh di hutan. Sementara jalan tidak ada. Berarti investor harus membangun infrastruktur, dan ini membuat perhitungan investasi jadi membengkak. Sebagai investor, tentu mereka mencari margin yang lebih agar memberi keuntungan.
Dibutuhkan Dukungan Pemerintah
Untuk mendorong pemanfaatan geothermal, Fahmy menjelaskan lebih lanjut, dukungan pemerintah sangatlah dibutuhkan. Pemerintah mesti memfasilitasi dengan kemudahan-kemudahan. Di amtara seperti menyiapkan infrastruktur menuju ke lokasi geothermal. Kemudian, memberikan berbagai insentif, terutama fiscal insentive agar cost investasi menjadi rendah.
“Jangan mematok tarif insentif. Sebaliknya, buat kesepakatan bersama dalam penentuan tarif insentif tersebut sehingga pembayarannya sesuai dengan kemampuan PLN. Bila tidak, harga jualnya akan mahal, dan lagi-lagi dibebankan kepada rakyat.
Tawaran pemerintah kepada para investor untuk menggarap geothermal di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat disambut baik banyak pihak. Pertama, mengeksplorasi panas bumi berarti mendukung proses transisi Indonesia ke sumber energi bersih dan EBT.
Kedua, membuka lapangan kerja. Ketiga, memberikan kontribusi pemasukan bagi pendapatan daerah. Keempat, memicu kegiatan ekonomi lain di sekitar eksplorasi geothermal. (*) Sayuti/MTS Foto: Photo by Jason Blackeye on Unsplash, photo by Fusun Tut on Unsplash. photo by Fusun Tut on Unsplash dan Dok Pri.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU