Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Pertemuan Bersejarah Insinyur Indonesia dan Belanda di Den Haag, Belanda

Nasional
27 Sep 2022
Pertemuan Bersejarah Insinyur Indonesia dan Belanda di Den Haag, Belanda

hariansuara.com - Senin (26/9/2022) di Den Haag, Belanda terjadi pertemuan bersejarah antara insinyur Indonesia dalam Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan insinyur Belanda yang tergabung dalam organisasi Koninklijk Instituut Van Ingenieurs (KIVI).

Bertempat di Kantor Pusat KIVI, pertemuan tersebut membuka lembaran sejarah tentang infrastruktur di Indonesia. Bisa dibilang, para insinyur Belanda sebagai cikal bakal pembangunan berbagai infrastruktur di Indonesia. Hingga detik ini, karya mereka berupa infrastruktur pelabuhan, perkeretaapian dan jalan raya masih kita gunakan dan nikmati.

Demikian Widoyoko, Ketua organisasi profesional di bidang transportasi di Belanda, Indonesia Transportation Forum (ITF), yang menggagas pertemuan tersebut, menuliskan langsung dari Belanda. Berikut kupasannya lebih lanjut:

Erat Terkait Belanda dan Indonesia dalam Sejarah Perkeretaapian

Napak tilas ke Abad 19, profesi insinyur langka dan mulia di masyarakat, sementara dunia membutuhkan begitu banyak insinyur. Di bawah naungan kerajaan, insinyur Belanda pun mendirikan KIVI. Mereka aktif mengembangkan infrastruktur di Belanda, juga berkiprah membangun infrastruktur di Indonesia.

Terkadang, pembangunan infrastruktur di Indonesia justru lebih maju daripada di Belanda sendiri. Sebut saja, elektrifikasi jalur Kereta Api di Batavia (Jakarta) sudah diterapkan pada 1925 dengan beroperasinya lokomotif listrik dan KRL. Ternyata di Belanda sendiri, Nederlandse Spoorwegen (NS) baru kemudian, pada 1948, mengoperasikannya. 

Kemudian, memasuki awal Abad ke-20, para insinyur di Hindia Belanda meliputi bidang teknologi beragam. Ditandai pada 1913 berdiri organisasi insinyur perairan (waterstaat ingenieurs), lalu pada 1919 organisasi insinyur pertambangan (mijn ingenieurs). Selanjutnya, pada 1920 berdiri Technische Hoogeschool di Bandung atau THB (sekarang ITB) yang melahirkan para  insinyur di berbagai disiplin ilmu.

Pada 1932 di Hindia Belanda, ketika itu, didirikan KIVI Groep Nederlandsch Indië, kepanjangan dari organisasi KIVI di Belanda. Ada 1.100 insinyur perairan dan pertambangan melebur di dalamnya. Mereka juga menerbitkan majalah De Ingenieurs in Nederlandsch Indië, yang berganti nama menjadi De Ingenieurs in Indonesia saat Indonesia Merdeka.

Diharapkan Berlanjut ke Kerja Sama di Masa Depan 

Adalah Presiden Ir Soekarno yang menghimpun para insinyur asli bangsa Indonesia. Pada 1952 Ir. H Djoeanda Kartawidjaja dan Ir. R. Rooseno Soerjohadikoesoemo diperintahkan mendirikan Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Secara institusi, hubungan keduanya tetap baik. Bahkan beberapa anggota KIVI seperti Ir. R.A.D. Loven tercatat sebagai Guru Besar Jurusan Perkeretaapian di TH Bandung pada 1954.  

Pada tahun 2022 ini, PII HUT ke 70 dan KIVI merayakan hari jadinya ke 175, ITF menginisiasi pertemuan dua organisasi yang menaungi para insinyur di kedua negara. PII diwakili oleh Dr. Ir. Hermanto Dwiatmoko, MStr, IPU, ASEAN Eng, yaitu Ketua Bidang Perkeretaapian PII dan Ketua Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (MASKA). Adapun KIVI diwakili oleh General Manager, Miguel Delcour BEng, MScBA, ECBS.   

Pertemuan yang mengusung tema Development of Railway Technology – Indonesia, itu dibuka oleh Wakil Duta Besar RI, Freddy Panggabean. Dilanjut dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai landasan kerja sama di masa depan.

Di hadapan 25 insinyur yang hadir, Hermanto Dwiatmoko membawakan kupasan tentang Keselamatan Perkeretaapian di Indonesia. Ia juga sempat memperkenalkan buku barunya, Indonesian Railway Safety. Dilanjut dengan Nugroho Widiyanto dari PT Len Industry, perusahaan di segala bidang industri, termasuk memproduksi sistem persinyalan dan kontrol perkeretaapian. 

Dari KIVI, Mr Bas Bollinger membawakan makalah tentang perkembangan ERTMS (European Rail Traffic Management System) di Belanda. ERMTS sistem standard pengaturan persinyalan dan kecepatan di seluruh Eropa oleh berbagai operator KA. Jadi, safety dan interoperability-nya lebih terjamin.  

Kemudian Mr. Erland Tegelberg mempresentasikan tentang Preventive Maintenance, dan dilanjut oleh Mr. Rene Peusens tentang Pengaruh Iklim Terhadap Keselamatan Perjalanan KA. Perubahan cuaca global mengakibatkan kondisi cuaca ekstrim di Belanda, sehingga pada musim panas, rel bisa bengkok. Bahkan kali lain, rel bisa terendam banjir besar yang merusak konstruksi jalan rel.   

Diharapkan, dari pertemuan ini dan presentasi yang dilakukan, mencerahkan pengetahuan tentang perkembangan teknologi perkeretaapian di Indonesia dan Belanda. Pun, terjalin kerja sama di bidang teknologi antara kedua negara. (*) Sayuti/MTS    Foto: Widoyoko & Krisna Amir Hamza

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X