
hariansuara.com - Keadaan terus berkembang dari terjadinya insiden memilukan di Stadion Kanjuruhan di Kepanjen, Malang, Jawa Timur Sabtu malam (1/10/2022). Usai tanding Arema FC vs Persebaya Surabaya dengan score 2-3, disusul dengan getirnya 127 orang tewas dan ratusan orang luka-luka.
Berbeda dari umumnya kerusuhan akibat suporter yang anarkis, di Kanjuruhan justru mereka yang terkorbankan. "Aremania merasa jadi korban kesewenang-wenangan aparat," ujar Ahmad Ghozali kepada hariansuara.com.
Selama 35 tahun menjadi supporter Arema FC, katanya, kejadian kali ini yang paling getir, memilukan. Pria berusia 48 tahun tersebut salah satu Koordinator Lapangan (Korlap) Aremania dan juga Ketua Koordinator Wilayah Klayatan, Kota Malang.
Ghozali mengiringi kiprah Arema FC, dari berjuang hingga menorehkan sejarah di dunia persepakbolaan di Tanah Air. Klub kesayangan dan kebanggaan masyarakat Malang, Jawa Timur ini tercatat dua kali berturut-turut meraih gelar juara Piala Presiden pada 2019 dan 2022.
Tahu-tahu Aremania Ditendang, Dipukul dan Gas Air Mata Merangsek
"Dari lokasi tribun VIP bagian selatan, saya lihat dari dekat kejadian malam itu. Begitu usai pertandingan, memang Aremania turun ke lapangan. Mereka ingin protes, sekaligus membesarkan hati para pemain Arema FC kesayangan mereka. Bukan untuk rusuh. Toh tim Persebaya sudah masuk ruang ganti semua," kata Ghozali lagi.
Tahu-tahu aparat memukul, menendang dan sebentar kemudian stadion penuh asap. Gas air mata ditembakkan secara membabi buta, ke tribun penonton. Di sana para penonton, ada orang tua membawa anaknya yang masih bocah.
"Saya sangat mengecam kesewenangan aparat. Bukannya mendengar dulu suara Aremania yang turun ke lapangan itu, tahu-tahu malah memukul dan menendang. Yang paling kami kecam, penembakan gas air mata. Hal ini harus diusut tuntas dan tegas siapa yang memerintahkan dan juga pelaku penembakan itu," imbuh Ghozali, sambil menegaskan,
"Supporter Aremania tidak sedang mabuk ya, atau pembuat onar dan kerusuhan seperti suara berseliweran di luar. Justru Aremania yang jadi korban kesewenangan aparat."
Saat berita ini ditulis, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sudah mengambil tindakan. Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat dicopot, digantikan Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Putu Kholis. Pun, sejumlah Komandan Brimob Polda Jatim juga diganti. (*) Abidin/MTS Foto dan tangkapan layar: @ghozali_ak
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU