
hariansuara.com - Siapa tak kenal PH alias Parni Hadi? Wartawan senior, sekaligus penggagas Dompet Dhuafa, lembaga filantropi Islam selama 30 tahun berdayakan kaum dhuafa. Yang sangat menarik dari sosok 'Eyang' Tokoh Pers satu ini, di usia 75 tahun tetap tangguh, terus kreatif berkarya, bahkan melahirkan terobosan yang menjembatani perkembangan era digital sekarang.
Di tengah para sahabat tokoh pers Indonesia dan pejabat negeri ini, PH meluncurkan “Buku Audiovisutorial: #Semangat75 Upaya Bangun Hidup Sehat” di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, Kamis (26/10).

Ini sesuatu sekali, komentar hadirin ketika itu. Sebab buku PH ini menyuguhkan inovasi dalam kemasannya. Multimedia dikawinkan, audio (radio), visual (televisi) dan editorial (teks di media cetak) sehingga lahirlah istilah Audiovisutorial.
Buku terbitan Digdaya Dinamika Publika (DDP) ini menjadi jembatan bagi lintas generasi dan usia. Memungkinkan buku ini asik dilirik dan dikunyah oleh generasi analog hingga digital, dari milenial sampai para lansia.

Pembaca cukup memindai QR Code di tiap poin tulisan pada buku. Terpampang berbagai hobi, upaya dan sikap seorang Parni Hadi menjadi tetap sehat dan bersemangat sehingga senantiasa tangguh mengisi hari-hari anugerah dari Sang Maha Pencipta. Nasihatnya bagi semua:
"Fungsi organ terus menurun seturut usia. Berdamai, terima konsekuensi menua. Syukuri apa yang telah, sedang dan akan terjadi. Semampunya terus bergerak, sebab gerak adalah tanda kehidupan. Bergerak sesuai usia, dan passion. Gerak utama dan pertama saya, berpikir, membaca dan menulis," ujar PH mengenai latar belakang lahirnya buku tersebut.
Parni Hadi tetap Parni Hadi yang menggelora semangatnya. Bolehlah kini ia melangkah ditemani dengan tongkat Mojo Kukung, kayu dari Flores dan dihiasi ornamen Majapahit. Tetapi suaranya tetap bak orator, menggelegar. Tambah lagi, tongkat Kukungnya sesekali ikut 'bicara', naik teracung.
Kreativitas tak Kenal Limitasi Usia, juga Jadi Legasi
Catatan dari para sahabat Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa pada sesi peluncuran mengafirmasi hal itu. Direktur LPDS Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), Kristanto Hartadi, mengungkapkan kekagumannya, "Di usia 75 tahun Mas Parni masih tegar. Fisik boleh lemah, tapi kreativitas tidak."
Sementara Dr Ninik Rahayu, Ketua Dewan Pers Indonesia, mengaku terinspirasi, sekaligus mengajak semua untuk hidup sehat. Menjadi sehat adalah kunci untuk bisa berbuat banyak hal.

"Memasuki usia 50 tahun, seseorang boleh memikirkan legasi yang akan ditinggalkannya. Umur 75 tahun adalah saat seseorang sedang senang-senangnya menikmati pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Yang sangat menarik, oleh Pak Parni Hadi, hal ini dituangkan dan dikemas dalam sebuah buku," ujarnya, simpatik.
Apa saja kegiatan seorang Parni Hadi untuk tetap sehat, produktif, bahkan menyemangati sesama dan memberi manfaat melalui Dompet Dhuafa yang diinisiasinya pada 1993?
Segera peroleh “Buku Audiovisutorial: #Semangat75 Upaya Bangun Hidup Sehat”, scan QR Code dan dapatkan jawabannya. (*) MTR Foto: @rizamuthohar Rizq/Dompet Dhuafa
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU