
hariansuara.com - Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di Radisson Blu Hotel, Doha akhir Mei lalu, tempat digelarnya Asian Masters Weightlifting Competition (AMW) 2025.
Atlet Indonesia Sahari Thatcher berhasil mengukir prestasi yang membanggakan. Ia meraih medali emas dalam kompetisi Angkat Besi internasional kategori 49 Kg Umur 50-54 tahun. Sekaligus, ia berhasil memecahkan rekor Master Dunia untuk Kelas Clean and Jerk.
"Bangga dan terharu mendengar lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Saya bertanding 29 Mei 2025 pukul 17.00 waktu Doha, diikuti 141 peserta dari 10-15 negara di Asia, diantaranya Pakistan, Afghanistan, India, United Arab Emirates, Kuwait, Singapura, dan Filipina. Sedangkan dari Indonesia, hanya saya," ujar Sari, sapaannya, kepada hariansuara.com.

Pada kompetisi Kelas 49 kg dan umur 50-54 tahun itu, hasil pengangkatan Sari Snatch 48 Clean and Jerk itu 64 kg total 112. Untuk prestasi itu, Sari keluar sebagai pemenang pertama berhak beroleh medali emas, dan memecahkan rekor dunia untuk kelas Clean and Jerk.
"Sesampai di Tanah Air saya mendapat kabar dari panitia, bahwa saya Female Best Lifter," imbuh Sari. "Namun, di balik kemenangan itu saya sedih sekali, tidak ada press yang mengetahui kompetisi ini. Saat lagu Indonesia Raya di kumandangkan, saya hanya menangis sendirian. Bersyukur ada suami saya, Colin Thatcher, yang selalu support saya."

Lama di Afrika Selatan, Tetap Merah Putih
Lahir sebagai Warga Negara Indonesia, dalam perjalanan takdir, Sari berjodoh dengan Colin Thatcher, pria yang menikahi dan memboyongnya ke Afrika Selatan. Bermukim selama delapan tahun di Negara Nelson Mandela, sebelum kemudian tinggal di Bali satu-dua tahun terakhir.
Angkat Berat adalah passion Sari. Sejak menikah, ia mulai menekuni cabang olahraga yang terbilang berat untuk postur tubuhnya yang mungil. Sang suami menjadi supporting system yang luar biasa, sehingga bakat dan potensi Sari sebagai weightlifter terus berkembang.
Diketahui, Sari mulai menekuni angkat besi pada 2017. Usianya sudah tak muda lagi. Namun, karena cintanya pada cabang olahraga ini, sejumlah prestasi berhasil ditorehnya.
Sebut saja, di kejuaraan Dunia Barcelona (2018) ia meraih medali silver untuk W45 umur 45-49 tahun. Setahun kemudian, 2019 di Kejuaraan Dunia di Montreal, Canada Sari menyabet Gold medal dan World Record untuk Masters di kelas yang sama.
Saat dunia dilanda pandemi Covid-19, semangat berlatih Srikandi asal Indonesia ini tak jua surut.
Sari menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia di Virtual World Masters Weightlifting Championship 2021, dan meraih medali emas. Sekaligus mendapatkan 3 World Records Unofficially untuk kelas 45 kg umur 50-54 tahun.

Setahun kemudian, kembali Sari meraih Medali Emas, dan memecahkan rekor dunia di kejuaraan Dunia Orlando, Florida, Amerika Serikat kategori kelas 45 kg umur 50-54 tahun.
Best Female Lifter Internasional dari Indonesia
Atlet Angkat Besi Sari mendedikasikan kiprahnya di angkat besi untuk Indonesia yang dicintainya. Merah Putih tetap berkibar di dadanya.
Catatan yang membanggakan, Sari dua kali meraih penghargaan dari South Africa Master Weightlifting Federation (SAMWF) pada 2019 dan 2020 sebagai Best Female Lifter.
"Ini hadiah yang paling berharga untuk Indonesia, dan diberikan saat menyambut HUT RI ke-76. Sebagai warga negara Indonesia, kebahagiaan tak terkira ketika bendera merah putih berkibar dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan di hadapan mata dunia," ujar Sari lagi, terharu.
Di Afrika Selatan sendiri nama Sari sudah tidak asing lagi karena prestasinya di angkat besi. Itu lantaran ia sering menjuarai dan meraih penghargaan angkat besi, sehingga pers di sana menjulukinya sebagai 'Dynamite in Small Package' alias Si Kecil Cabai Rawit.
Tidak keliru julukan itu, padahal untuk mengukir prestasi internasional angkat besi itu butuh modal yang harus dibayar. Sari relatif berjuang sendiri. Bersyukur Sang Khalik mengirimkan suami yang mendukungnya tanpa batas, baik berupa support moral, material maupun finansial.
Seperti pertandingan baru lalu di Doha Asian Masters Weightlifting Competition, Sari berharap mendapat dukungan dari pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) maupun Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI). Namun, ia harus merogoh kocek sendiri, mulai dari biaya registrasi 150 dollar AS, tiket pesawat, akomodasi dan sebagainya.
"Saya sudah ikhtiar, seperti seminggu sebelum berangkat ke Doha mengikuti AMW, dua kali saya kirim email ke KBRI Doha Qatar untuk meminta supporting WNI di sana, tapi tidak ada response. Sedih saya," curhat Sari, kemudian berkabar ke salah satu pengurus PABSI di Jakarta.
Namun, usai kejuaraan, PB PABSI baru menjelaskan situasinya. Ia gembira dan bangga dengan prestasi Sari. Namun di Indonesia belum ada organisasi yang mewadahi Kelas Master (veteran usia 35 tahun ke atas) seperti halnya International Weightlifting Federation (IWF). Jadi, untuk event internasional, yang dikirim hanya Youth, Junior & Senior yang sebagian besar dibiayai oleh KEMENPORA. (*) MTS Foto: Dok. Pribadi
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU