
Jakarta - Reshuffle Kabinet Kerja jilid II dilakukan Presiden Joko Widodo pada akhir Juli. Hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) merilis sebagian masyarakat kecewa dengan beberapa putusan soal reshuffle.
Salah satunya pencopotan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Kebijakan Jokowi ini dinilai tak tepat. Rilis survei ini terkait "Seberapa optimiskah publik terhadap kinerja, program, dan kebijakan Jokowi-Jusuf Kalla pada tahun kedua?.
"Publik menilai reshuffle yang dilakukan bisa bantu pemerintahan Jokowi atasi persoalan. Tapi, dari survei, publik melihat bila reshuffle terhadap menteri Anies Baswedan tidak tepat," kata peneliti CSIS Arya Fernandes dalam paparan survei di kantor CSIS, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (13/9/2016).
Selain Anies, publik juga menyoroti kebijakan Presiden Jokowi yang melakukan reshuffle terhadap menteri lainnya. Pencopotan Menko Kemaritiman Rizal Ramli dinilai juga kurang tepat. Begitupun Menko Polhukam Luhut Panjaitan dan Menteri ESDM Sudirman Said.
Dijelaskan Arya, rincian hasil survei terkait ketidak puasan pencopotan menteri adalah Mendikbud Anies Baswedan (40,4 persen publik menilai tidak tepat), Menko Kemaritiman Rizal Ramli (22,7 persen tak tepat), Menko Polhukam Luhut Panjaitan (20,1 persen tak tepat), Menteri ESDM Sudirman Said (19,6 persen), Menpan RB Yuddy Chrisnandi (18,5 persen), Menteri Agraria Fery Mursyidan (18,1 persen), Menteri Desa dan PDT Marwan Djafar (16,7 persen).
Kemudian, berikutnya ada Kepala BKPM Frank Sibarani (16,0 persen), Menteri Perindustrian Saleh Husin (15,0 persen), Menkeu Bambang Brodjonegoro (14,5 persen), dan Mendag Thomas Lembong (13,1 persen).
Untuk kepuasan publik terhadap kinerja Kabinet Kerja jilid I, 56 persen puas terhadap jajaran menteri pembantu Presiden Jokowi. Tapi, kepuasan kinerja Kabinet Kerja jilid I mengalami penurunan dibandingkan kepuasan terhadap kinerja pemerintahan yaitu 66 persen.
Adapun terhadap perombakan kabinet jilid II, publik optimis, reshuffle kali ini bisa memberikan hasil lebih baik. Publik optimis reshuffle jilid II akan membuat pemerintahan Jokowi lebih baik.
"Perombakan kabinet jilid II memunculkan optimisme akan pemerintahan yang lebih baik yaitu dengan angka 71 persen. Sementara 26 persen pesimis reshuffle jilid II tidak mampu. 3 persen tidak tahu," jelasnya.
Dalam metode ini, survei dilakukan pada tanggal 8-15 Agustus 2015 dengan 1000 responden dari 34 provinsi secara acak atau random sampling.
Responden dalam survei ini merupakan masyarakat yang sudah 17 tahun lebih atau sudah memiliki hak pilih. Survei ini memiliki margin of error sebesar 3,1 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU