
hariansuara.com, Jember – Dalam kurun empat tahun terakhir, kondisi Jember semakin karut marut. Bak benang kusut, masalah demi masalah melilit Kabupaten yang belakangan beroleh predikat ‘fantastis’ sebagai Kabupaten Terniskin di Provinsi Jawa Timur.
Mengapa ini bisa terjadi? Padahal kabupaten berpenduduk 2.440.714 jiwa (Biro Pusat Statistik, 2018) itu memiliki sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang potensial. Pun, kearifan lokalnya.
Tilik saja, bagaimana Jember sampai disebut sebagai Kota Tembakau, karena hasil buminya ini berkualitas tinggi sehingga bisa menembus pasar luar negeri. Juga sebutan Kota Karnaval, yang menyiratkan insan-insan Jember itu kreatif dan bertalenta. Belum lagi musik patrol, kesenian khas Jember yang atraktif hingga kuliner suwar-suwir yang menginternasional.
“Maju tidaknya suatu daerah banyak ditentukan oleh beberapa faktor. Salah satunya faktor kepemimpinan. Seorang kepala daerah bisa berhasil membawa daerahnya maju apabila ia mampu mengaktualisasi diri sebagai seorang pimpinan, sekaligus seorang tokoh,” jelas HM Satib, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Partai Gerindra kepada hariansuara.
Dilanjutkannya, seorang pimpinan disebut berhasil apabila ia mampu mendelegasikan tugas atau perintah/instruksi secara efektif dan anak buahnya menjalankannya dengan disiplin. Lebih baik lagi apabila ia menjadi panutan bagi orang-orang di daerahnya. Secara moral, ia memiliki nilai lebih di antara masyarakat lainnya.
“Ini yang disebut sebagai ketokohan seseorang. Ketokohan ini sifatnya bukan pemberian, melainkan hasil dari ikhtiar diri dalam membentuk karakternya. Misalnya, ia sering berbuat kebaikan kepada orang lain tanpa meminta imbalan apa pun. Inilah sebuah nilai ketokohan. Jember menjadi terpuruk seperti sekarang, tak lain akibat kepala daerahnya tidak memahami dua unsur ini: pimpinan dan ketokohan,” lanjut legislator senior dari Partai Gerindra ini
HENDY SISWANTO & GUS FIRJAUN PEMIMPIN JEMBER MASA DEPAN
HM Satib yang lama berkecimpung di dunia politik selalu mengamati dan mencermati Jember dan masyarakatnya secara detail. Menurutnya, Jember ke depan butuh figur yang memiliki faktor ketokohan dalam dirinya.
“Kualitas ketokohan ini ada pada figur pasangan calon bupati-wakil bupati Jember 2021-2024 H Hendy Siswanto-Gus Firjaun atau KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman,” katanya.

Seorang Hendy Siswanto, urainya lagi, untuk ukuran Jember, figur yang sudah tidak asing lagi. Sejak bertahun-tahun lalu, ia amat sering berbuat bagi masyarakat. Beberapa kali ia ditawari untuk mencalonkan diri sebagai bupati Jember, tapi ia tak jua hendak mengikuti Pilkada.
Pun, Gus Firjaun. Ia sudah cukup lama off dari dunia politik, kata HM Satib. Putra bungsu Rais Aam PB Nahdlatul Ulama, (alm) KH Achmad Shiddiq, ini memilih konsentrasi di dunia pesantren, membina akhlak para santri didiknya.
"Baru kali ini Hendy Siswanto terpanggil mencalonkan diri sebagai bupati. Itu tak lain karena ia tak tega melihat Jember, tanah kelahirannya, jadi terpuruk mengenaskan. Jember yang begitu ia banggakan jadi tertinggal dari kabupaten-kabupaten lainnya di Jawa Timur," lanjut HM Satib.
Gus Firjaun sebagai calon wakil bupati, juga baru mau terjun ke politik mendampingi Hendy Siswanto karena keprihatinan yang sama. Dengan dukungan dan restu dari para kiai, ia pun mau mengikuti Pilkada 2020 sebagai calon wakil bupati Hendy Siswanto. Sejatinya, prinsipnya sama, yakni berniat karena Allah untuk menyelamatkan Jember dari keterpurukan. Jember harus bangkit!
“Hendy Siswanto yang sudah teruji berbuat untuk masyarakat, didampingi Gus Firjaun, mengajak seluruh elemen masyarakat bekerja bersama-sama membangun Jember. Melakukan perubahan menuju Jember yang lebih baik, persis seperti semangat yang tertuang dalam slogan, Wes wayahe mbenahi Jember,” tandas HM Satib.
Untuk itu, HM Satib mengajak warga masyarakat Jember untuk mencari pemimpin yang mau hadir di kala masyarakat membutuhkan. "Jangan sekali-kali memilih pemimpin yang mau hadir di tengah masyarakat ketika pemimpin itu sedang membutuhkan dukungan dari warga masyarakat,” pungkas HM Satib, sungguh-sungguh. (*) hab/roh Foto: IST & HSC
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU