Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Thoriq dan Para Karibnya Cermati Kualitas Paslon, Lalu Baru Tentukan Bupati-Wakil Bupati Jember Pilihan Hati

Politik & Pemerintahan
29 Nov 2020
Thoriq dan Para Karibnya Cermati Kualitas Paslon, Lalu Baru Tentukan Bupati-Wakil Bupati Jember Pilihan Hati

harianusara.com, Jember - Masyarakat Jember semakin cerdas dan tahu apa yang terbaik untuk dirinya dan Jember secara keseluruhan. Mereka tak lagi mudah terbius dengan PHP (pemberian harapan palsu—Red) berupa janji-janji manis yang tak teruji. Setidaknya demikianlah situasi masyarakat kini, seperti tercuat dari demo gabungan guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) pada Selasa (24/11) lalu, kemudian beraudiensi ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jember di Jalan Kalimantan Nomor 86, Jember.

Pun halnya Thoriq (37), wiraswastawan asal Tegal, Jawa Tengah yang kini bersama istrinya, Ismi (35), dan putranya (10) telah menjadi penduduk Jember. Kepada hariansuara, Ketua Paguyuban Arek DAM dan Ketua Republik Ngapak Jember ini sempat nyaris mendukung salah satu pasangan calon (paslon) pemimpin Jember. Namun, ia sepakati bersama sekitar 300 anggota paguyuban untuk mencermati dulu masing-masing paslon di Pilkada 2020. Setelah itu baru memutuskan untuk menjatuhkan pilihan paslon mana yang sreg di hati.

“Mulai 17 Maret 2020, kami semua terus memelototi ketiga paslon yang ada. Sempat riuh penilaian masing-masing terhadap ketiga paslon. Bahkan mereka nyaris mendeklarasikan dukungan ke salah satu paslon. Tapi kemudian, setelah mencermati Debat Publik Putaran I dan II di KJTV Surabaya, saya pribadi sangat puas dengan jawaban dan pemaparan visi misi Paslon nomor urut 2, Haji Hendy dan Gus Firjaun. Jawaban-jawaban keduanya sangat bisa diterima. Seperti masyarakat lainnya, saya pribadi pun mengharapkan adanya perubahan kesejahteraan di Kabupaten Jember,” kata empunya nama panjang Thoriq Putra Sedayu. 

“Visi misi mereka akan bisa membenahi Jember sampai ke pelosok-pelosok. Bagi wiraswasta, pedagang kaki lima (PKL) seperti saya, jelas ini memberikan peluang-peluang. Kami nilai Haji Hendy Siswanto-Gus Firjaun sangatlah pantas memimpin Jember sebagai Bupati-Wakil Bupati 2021-2025. Kami berharap jalan utama di lingkungan kami juga dibangun, karena masih tanah dan pasti licin serta becek bila hujan. Serta masih saja ada yang mandi di tempat penampungan air terbuka. Saya rasa tidak selayaknya ini dilakukan ya. Semoga juga bisa dibantu benahi nantinya.”

Dengan runtut Thoriq mengurai sebab-akibat. Katanya, bila infrastruktur telah terbangun di Jember sampai ke perbatasan, maka antardaerah akan terhubung. Tidak ada lagi lokasi-lokasi yang terisolasi. Petani, karyawan, pelajar dan PKL seperti dirinya, akan bisa berniaga, bekerja, berwisata dan meluaskan sayap usahanya. Perekonomian akan menggeliat. Thoriq berharap perbaikan infrastruktur itu juga meluas sampai ke lingkungan pemukiman warga yang mayoritas belum tersentuh pembangunan jalan.  

Jember Kampung Halaman Kedua  

Tujuh tahun lalu Thoriq merantau dari Tegal ke Jember bersama Ismi, istrinya, untuk buka usaha. Dilihatnya, kabupaten di Tapal Kuda Jawa Timur ini punya universitas negeri. Menurutnya, kabupaten seperti inilah, perputaran ekonominya berjalan pesat. 

“Benar saja, pada awal menetap, perekonomian di Jember lancar. Alhamdulillah, usaha kami ada perkembangan. Masyarakatnya juga baik, religius, cukup kondusif sehingga kami semangat mengadu nasib di sini. Kami buka usaha sebagai pedagang kaki lima (PKL),” lanjut Thoriq.

Namun, pada tiga tahun terakhir, perekonomian terasa bergerak lambat. Sebagai pedagang yang merintis usaha di Jember dari awal, ia  merasakan sekali perubahan itu. Namun, tak pernah ia mengenal istilah mutung. Bahkan ia juga membesarkan hati teman-teman seperantauan Jawa Tengahan untuk terus semangat berikhtiar.  

Rumahnya di kawasan DAM, lingkungan Kalikotok, Karangrejo, Sumbersari pun kerap dirujuk teman-teman. Ibarat jadi posko. Hampir setiap hari tak pernah sepi dari teman-teman yang ingin berdiskusi. Para pemuda sekitarnya, hampir satu RW, juga suka berkumpul di rumahnya. Berdiskusi, rembugan dan mencari solusi untuk membangun lingkungan yang nyaman, kompak dan maju. 

“Anak-anak muda di tiga RT di sini juga senang kumpul di DAM atau terminal pintu air yang posisinya di tengah-tengah. Mereka pasti kumpul. Kami pun menyatu, lalu membuat Paguyuban Arek-arek DAM. Tiga RT bersatu di sini. Kegiatan kami biasanya saling sharing, berbagi aspirasi dan inspirasi. Termasuk  menggali inisiatif bagaimana kami bisa memperbaiki kondisi di lingkungan tempat tinggal kami,” lanjut Thoriq, simpatik.

Semisal, di tempat tinggalnya itu air menjadi problem tersendiri di masyarakat. Dua bulan jelang Pilkada lalu, kampungnya mendapat bantuan dari pemerintah untuk memasang PDAM. Bebas biaya pasang, tapi masing-masing keluarga tetap bayar untuk penggunaannya. Sayangnya, PDAM ini tidak lancar. Apa yang Thoriq dan warga setempat lakukan? Mereka berembug, mencari solusi bareng-bareng, lalu mengambil keputusan yang disepakati bersama. 

“Kami putuskan membangun tandon air agar masyarakat bisa mendapat air bersih. Dari tandon itu dialirkan ke tempat warga. Biaya listriknya diambil dari iuran bulanan warga. Masalah terselesaikan, semua senang bisa berkontribusi, sama-sama bertanggung jawab akan kondisi lingkungannya dan bisa tersenyum gembira.”

Ditambahkan Thoriq, sebagai pendatang di lingkungan tersebut, wajib hukumnya bagi dia menjadi warga yang baik dan memberi kebaikan bagi sekitarnya. Caranya, dengan aktif memberi andil di kegiatan positif warga. Dengan begitu akan terciptalah lingkungan yang guyub dan menyenangkan untuk ditinggali. Warga setempat hampir 50% berdagang, tetapi ada juga yang kuli bangunan, buruh pabrik, tukang las, atau pun sales marketing. Meski penghasilan masih kecil, mereka bahagia.

Harapan: Penertiban Lahan untuk PKL  

Penataan PKL di Kabupaten Jember agaknya masih menjadi persoalan. Di tepian luar Jember, bahkan sampai ke alun-alun, PKL ini kerap tak tertata rapi sehingga merusak pemandangan. Thoriq sendiri sering mendengar keluhan sulitnya mendapatkan tempat untuk berdagang. Ada lahan kosong, tapi begitu mau menaruh gerobak untuk berjualan di sana, tiba-tiba didatangi orang yang meminta uang sewa yang cukup tinggi. Padahal tanah itu bukan milik sesiapa. Masalah alokasi untuk berdagang ini kiranya pemerintah daerah kelak bisa menertibkannya.

“Kami sangat mengharapkan Haji Hendy dan Gus Firjaun untuk benar-benar membenahi Jember, seperti slogannya Wes Wayahe Mbenahi Jember. Dengan kedewasaan dan pengalaman Haji Hendy dan Gus Firjaun di bidang masing-masing, saya sangat yakin keduanya akan bisa memimpin Jember dengan lebih baik dan masa depan Jember pun lebih sejahtera,” ujar Thoriq, berseri. (*) mel/mel    Foto: Dok Pribadi

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

1

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X