
hariansuara.com, Jember- Kabupaten Jember memiliki sekitar 650 pesantren, dari yang besar, sedang dan kecil. Haji Hendy dan Gus Firjaun sangat sepakat memberi perhatian khusus kepada pesantren. Mengapa?
“Sebab pesantren, sebagai lembaga pendidikan tradisional sejak berpuluh tahun lalu, memegang posisi kunci dalam melahirkan generasi berilmu sekaligus beriman. Ini tugas yang berat bagi para Kyai. Mendidik dan merawat ribuan anak yang dititipkan orang tuanya untuk belajar. Di rumah, orang tua tinggal menunggu hasilnya. Untuk itu pemerintah daerah wajib membantu pesantren,” ujar Haji Hendy yang diaminkan oleh Gus Firjaun, wakil bupati.
Gus Firjaun sendiri, yang berlatar belakang pesantren, bahkan selama ini mengasuh Pondok Pesantren Ashtra, melihat keberadaan pesantren sangat vital dalam menjaga Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari hal-hal yang mengusik keberadaannya. Untuk itu, pesantren gigih berjuang menghasilkan anak didik yang berilmu sekaligus beriman dan menyematkan merah putih di dada mereka.

Gus Firjaun juga bersyukur pesta demokrasi dapat berjalan aman, damai, dan lancar. Diharapkannya, ini menjadi modal ke depan bagi segenap elemen masyarakat dalam menjalin sinergi, hubungan yang baik antara legislatif, eksekutif dan yudikatif. Yang utama adalah bagaimana bersama-sama semua, insan Jember, saling bergandeng tangan mewujudkan Jember yang maju, makmur, sejahtera, religius dan berkeadilan.
Dukung Kemandirian Ekonomi Pesantren
Bupati-Wakil Bupati Terpilih Jember, Haji Hendy-Gus Firjaun, juga menyadari benar akan potensi ekonomi di balik keberadaan pesantren di Kabupaten yang berada di ujung Timur wilayah Tapal Kuda ini. Keduanya yakin ratusan pesantren ini akan menjadi unit-unit usaha yang luar biasa sumbangsihnya kepada perekonomian makro Jember. Setidaknya, pesantren akan mampu memandirikan diri secara ekonomis.
Secara kapital, pesantren sudah memiliki demand (permintaan) yang besar. Anggota keluarga besar pesantren, yaitu para santri, adalah calon konsumen yang melimpah di ponpes. Tinggal menata bagaimana mempertemukan antara demand-konsumen melalui produk yang dibutuhkan.
Ada sejumlah cara bisa ditempuh. Pertama, masing-masing pesantren mendirikan koperasi secara mandiri. Banyak manfaat bisa dipetik dari koperasi ini. Sesuai prinsip koperasi (Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian), koperasi merupakan unit usaha yang dikelola oleh anggotanya secara sukarela dan terbuka. Pengelolaannya pun demokratis dan transparan. Keuntungan akan dirasakan oleh anggotanya dalam bentuk kesejahteraan di pesantren.

Di sini, anggota koperasi adalah para santri tersebut. Dengan mengelola koperasi, para santri berarti terjun langsung di dunia ekonomi secara praktis. Diharapkan akan tumbuh jiwa dan semangat enterpreneurship atau kewirausahaan di diri mereka. Lulus pesantren, mereka sudah terbiasa proaktif, kaya akan inisiatif sehingga bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. Tidak perlu menunggu adanya lowongan kerja. Bahkan, dengan keuletan tersendiri, usaha mereka maju dan bisa mempekerjakan orang-orang di sekitarnya.
Kedua, pesantren menciptakan produk unggulan dari kearifan lokal yang ada di masing-masing daerahnya. Seperti contoh, Ponpes Al Hasan di Desa Kemiri, Kecamatan Panti. Para santri di sana jago mengelola kopi berkualitas, disamping juga unggul di bidang ilmu astronomi.
”Kebisaan ini bila dikawal oleh para pakar di bidang produksi atau pengolahan kopi, packaging, marketing dan promosi, pasti produk pesantren ini akan menjadi sumber keuangan yang baik bagi pesantren. Dari situ kemudian dapat membangun unit usaha berbasis IT. Pemasaran pun bisa merambah ke nasional, bahkan mendunia. Ini akan luar biasa bagi ekonomi pesantren, sekaligus memajukan perekonomian kabupaten juga,” jelas Haji Hendy.
Bupati Jember Terpilih ini juga melihat di daerah-daerah, pondok pesantren berdiri di tanah yang luas. Banyak lahan yang cukup untuk dikelola menjadi sumber mata pencaharian bagi pesantren. Misalnya, melakukan agrobisnis, budidaya ikan, peternakan dan sebagainya.
“Untuk mewujudkan itu semua orang selalu bicara kendala ketiadaaan modal, fulus. Padahal dalam perekonomian modern sekarang ini banyak sekali celah yang bisa dilakukan untuk membangun usaha. Intinya, kita mau dan semangat untuk maju. Berani menapak satu langkah untuk menyongsong 1.000 kesuksesan yang menanti di depan. Kesuksesan tidak akan diraih tanpa memulai,” papar Haji Hendy, yang bersama Gus Firjaun komit mengawal pesantren menjadi lembaga pendidikan yang maju dan mampu menjawab perubahan jaman.
Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Jember akan bantu memfasilitasi pembentukan koperasi dan unit usaha dengan bersinergi bersama pihak-pihak terkait, di antaranya Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI.
“Pandemi Covid-19 belum berakhir, dan kabar terkini telah terjadi mutasi virus tersebut menjadi SARS-CoV-2, kita tetap menjaga ketat protokol kesehatan. Kenakan masker, cuci tangan dengan sabun dan jaga jarak. Hindari kerumunan.(*) mel/mel Foto: HSC & IST
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU