
hariansuara.com, Jember - Catatan penting masih memanjang tentang sampah, yang membuktikan bahwa sampah tak sekadar limbah.
Memang, bak dua sisi mata pisau. Sampah bisa jadi ‘bom waktu’ yang siap meledak dan menjadi malapetaka bagi manusia. Tetapi juga sampah bisa memberi sumbangsih yang menguntungkan bagi harkat hidup orang banyak.
Prinsipnya, semua tergantung pada cara kita memperlakukan sampah. Bila salah memperlakukannya, sampah dibiarkan teronggok, maka akan sama saja dengan ‘membudidayakan’ bakteri, kuman, dan virus.

Masih ingat tragedi meledaknya gunung sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat 22 Februari 2005? Ada 147 penduduk terkubur di dalamnya. Inilah detak 'bom waktu' yang dibawa sampah jika tak dikendalikan.
Pun, di Jember, sampah jadi masalah yang tak kalah pentingnya dari persoalan ekonomi. Kata Dedi M Nurahmadi, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Jember, seperti dikutip dari DISKOMINFO.JEMBERKAB.GO.ID (20/05/2021), sampah rumah tangga di Jember mencapai 700 ton per hari. Belum lagi sampah dari pasar, pabrik, rumah sakit, mal dan sebagainya.
Itu gambaran saat ini. Mengerikan sekali berpuluh tahun ke depan jika sampah tak segera dikendalikan. Untuk itu, Bupati Hendy Siswanto dan Wakil Bupati MB Firjaun Barlaman sangat antusias segera menangani sampah untuk menyelamatkan masa depan Jember. Dan itu mesti dimulai dari sekarang.
Seribu Manfaat Sampah untuk Masyarakat Jember
Bupati Hendy Siswanto sangat antusias mendengarkan pemaparan Direktur Operasional PT Bio Teknologi Surabaya, Dandi Adi Satria, saat beraudiensi ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember Rabu (19/05/2021) lalu.

Tersimpulkan, sampah bisa dikelola dengan teknologi ramah lingkungan sehingga menghasilkan produk turunan yang positif, bahkan bernilai ekonomis. Pun, ini sudah teruji.
Pertama, pengolahan bioteknologi, sampah rumah tangga bisa menghasilkan kalori yang dapat menggerakkan turbin pembangkit listrik. Kedua, dari sampah juga bisa dimanfaatkan gas metana untuk menghasilkan listrik dan kebutuhan memasak di dapur. Pengolahan bioteknologi salah satu alternatif menjadikan sampah bermanfaat bagi masyarakat.
Surabaya Pertama di Indonesia Mengolah Sampah Jadi Energi Listrik
Sebagai catatan, Kota Surabaya telah mewujudkan hal itu, menjadi yang pertama mengolah sampah menjadi energi listrik. Istilahnya, Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Tepatnya di Benowo, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terbesar di Surabaya.

Sejak dikelola pada 2012 silam, TPA Benowo seluas sekitar 37,4 hektar itu dapat menghasilkan energi listrik sebesar 2 Mega Watt.
Pada Kamis (06/05/2021), Presiden Joko Widodo ke Surabaya untuk meresmikan langsung fasilitas PSEL di TPA Benowo ini. Ia sangatlah apresiatif terhadap gerak cepat Pemerintah Kota Surabaya bisa mengolah sampah mengubahnya menjadi energi listrik. Diminta kepada kota-kota lain mengikuti langkah Surabaya.
Presiden Joko Widodo pada akun instagramnya @jokowi menyebutkan, untuk itu sudah disiapkan payung hukumnya. Antara lain Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
Selain Surabaya, ada 11 kota lain yang ditunjuk di Perpres tersebut untuk menjalankan program serupa: DKI Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, Bandung, Semarang, Surakarta, Makassar, Denpasar, Palembang, dan Manado. (*) sayuti/prabu Foto: diskominfo/jemberkab.go.id, Antara, IST
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU