
Jakarta – Gubernur DKI petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dinilai tak percaya diri karena akhirnya memilih jalur partai politik. Padahal, sebelumnya Ahok menegaskan ingin berada di jalur independen dengan dukungan Teman Ahok.
Pengamat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro melihat bila Ahok gamang karena tak yakin menang dengan hanya dukungan Teman Ahok. Meskipun secara dukungan, sudah ada tiga parpol di belakang eks Bupati Belitung Timur itu bila ingin tetap di jalur independen. Belum lagi dukungan KTP yang diklaim mencapai 1 juta lebih untuk Ahok
“Lain dulu lain sekarang. Meskipun tadi lebih milih jalur perseorangan,tapi karena tak percaya diri dan gamang dengan dukungan Teman Ahok yang mungkin dinilai tidak menjanjikan kemenangan, maka jadilah parpol pilihannya,” kata perempuan yang akrab disapa Wiwi itu dalam pesan singkatnya, Sabtu (30/7/2016).
Wiwi menekankan niat Ahok memang serius untuk berlaga dan memenangan Pilkada DKI tahun depan. Hal ini terlihat bila Ahok yang sekarang rajin mendekati parpol-parpol pendukungnya. Begitupun dengan aksi Ahok yang sowan ke Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk laporan soal pilihan di jalur politik.
“Berbeda asumsi sebelumnya yang lebih percaya pada jalur perseorangan dan tak tertarik dengan partai. Ahok malah bingung sendiri menentukan pilihannya dan coba mendekati partai-partai untuk memastikan kemenangannya di Pilkada Jakarta,” sebutnya.
Namun, Wiwi mengingatkan bila dalam Pilkada untuk memenangkan hati rakyat tak cukup hanya dengan dukungan parpol. Bukti Pilkada 2012 adalah faktanya. Jokowi yang dipasangkan dengan Ahok dinilai rakyat memiliki integeritas dan lebih meyakinkan ketimbang Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Dukungan banyak parpol dinilai tak menjadi jaminan kemenangan calon.
“Banyaknya partai yang mendukung calon tak selalu berkorekasi positif dengan kemenangan calon. Bahkan calon yang hanya didukung dua partai saja juga bisa menang. Pilkada DKI tahun 2012 menunjukkan hal tersebut,” tuturnya.
Dukungan utama yang harus diperhatikan Ahok adalah masyarakat. Diingatkannya, bila Ahok harus tetap memperhatikan suara dukungan rakyat.
“Ahok lupa bahwa untuk memenangkan hati rakyat tak cukup hanya didukung partai saja. Tapi lebih dari itu didukung rakyat. Pengalaman empirik selama ini menunjukkan peran sosok/calon jauh lebih menentukan ketimbang partai,” sebutnya.
Meski sudah didukung resmi tiga parpol yaitu NasDem, Hanura, dan Golkar, Ahok sepertinya mengisyaratkan masih ingin didukung PDIP. Bila ditambah dengan PDIP, kekuatan parpol di belakang Ahok dipastikan kuat untuk memenangkan Pilkada.
Lantas. adakah kemungkinan PDIP mendukung Ahok di Pilkada DKI 2017. Wiwi menlihat hal ini tergantung dari PDIP terutama Megawati Soekarnoputri. Pasalnya, PDIP merupakan partai idealis yang punya persyaratan tersendiri dalam mengusung parpol. Apalagi mekanisme internal dalam pengusungan calon sudah dilakukan PDIP.
“PDIP partai ideolog tentunya punya persyaratan tersendiri dalam mengusung calon. Pertanyaannya, apakah hanya karena calonnya Ahok sehingga fit and proper test tidak diperlukan lagi?” ujarnya.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU