Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]

Muhammad Iqbal: Bupati Hendy dan Wabup Gus Firjaun Tumpuan Terjadinya Industrialisasi Pertanian di Jember 

04 Mar 2021
Muhammad Iqbal: Bupati Hendy dan Wabup Gus Firjaun Tumpuan Terjadinya Industrialisasi Pertanian di Jember 

hariansuara.com, Jember - Pemerintahan Kabupaten Jember di bawah kepemimpinan Kepala Daerah baru, Bupati Hendy Siswanto dan Wakil Bupati MB Firjaun Barlaman tengah bergiat melakukan pembenahan. Dibutuhkan strategi 'extraordinary' untuk menyisir sengkarut benang kusut yang 'extraordinary' di Jember ini. Menyelesaikannya satu per satu.   

Bergulirnya perkembangan dunia politik di Kabupaten Jember menjadi hal yang  menarik untuk ditelisik. Mengingat tak sedikit sengkarut yang menjadi benang kusut, bagaimana kiranya pembenahan bisa dilakukan dengan cepat (akseleratif). Pengamat politik yang juga dosen FISIP Universitas Jember, Dr Muhammad Iqbal, MSi, berbagi gagasan kepada kita semua: 

“Setidaknya ada tiga kebijakan yang saya bilang ‘Luar Biasa’ atau extraordinary yang bisa diambil oleh Bupati Hendy Siswanto dan Wabup Firjaun Barlaman untuk membenahi Kabupaten Jember yang 'extraordinary' kusutnya,” ujar Cak Iqbal, demikian ia kerap ‘membahasakan’ sapaan dirinya. Apakah itu?

Pertama, normalisasi birokrasi seperti misalnya membenahi KSOTK  (Kedudukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja) sesuai prosedur dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kedua, menyusun Raperda APBD 2021 dengan postur yang mendukung visi dan misi pembenahan Jember.

Ketiga, kebijakan luar biasa yang tidak kalah pentingnya adalah mengembalikan hak-hak segenap lapisan masyarakat Jember. Intinya, meningkatkan kesejahteraan, pembenahan infrastruktur, dan melakukan terobosan dalam mengoptimalisasi potensi sumber daya alam, terutama sektor pertanian dan perkebunan. 

“Sudah saatnya Kabupaten Jember bisa berjaya, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kuncinya, membuat kebijakan industrialisasi pertanian dan perkebunan, dari hulu sampai hilir. 

Potensi pertanian dan perkebunan Jember diakui melimpah ruah, didukung kondisi agroklimat yang kondusif. Karenanya, produksi tanaman  kopi (khususnya fine robusta), kakao, tembakau, padi, jagung, kedelai, dan tebu jadi penyumbang kemajuan pertanian di Provinsi Jawa Timur.

Sayangnya, selama ini belum nampak terobosan signifikan yang mampu sejahterakan para petani dan menjadikan Jember sebagai daerah berketahanan pangan.

“Kebijakan eksisting relatif hanya pada hasil produksi primer saja. Belum masif dikembangkan menjadi bermacam industri turunan. Misalnya, jagung hanya dijual sebagai jagung segar. Padahal jagung sangat potensial diproduksi jadi aneka produk olahan ikutan seperti Corn Gluten Meal. Pun derivatnya, semisal industri makanan, tepung, bahkan pakan ternak. Kini saatnya, Bupati Haji Hendy dan Wakil Bupati Gus Firjaun menjadi tumpuan harapan besar untuk perubahan industri pertanian Jember,” ulas Dosen Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat UNEJ lebih lanjut.

Kebijakan industri pertanian yang strategis dari hulu ke hilir ini sangat diperlukan guna menjawab semua tantangan perubahan itu. Pemimpin Jember perlu langkah akseleratif dan sinergis membangun jejaring regional, nasional dan internasional. 

Hanya tiga daerah di Jawa Timur—Kabupaten Jember, Kota Surabaya dan Kota Probolinggo—yang menjadi anggota United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC). Ini Organisasi Pemerintah Kota Internasional Lingkup Asia Pasifik dengan hampir 25 negara anggota di kawasan Asia Pasifik. 

Jember juga jadi produsen tembakau bagi Jerman. Jejaring global ini seharusnya dapat dimaksimalkan untuk kemajuan hasil pertanian Jember dengan kebijakan yang extraordinary alias luar biasa.

Kebijakan extraordinary di sektor pertanian ini harus mampu bersinergi dengan kebijakan pemerintahan pusat dan provinsi serta kondusif untuk investasi industri hulu dan hilir hingga terbukalah pasar domestik dan mancanegara. 

Jika ini terwujud, maka Nilai Tukar Petani dan aneka Nilai Tambah tinggi dengan sendirinya akan naik signifikan. Maka, ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Jember bisa diharapkan dapat terwujud.

Jember Bak Mutiara yang Belum Diasah

Potensi Jember luar biasa. Tadi diulas tentang potensi kaya raya di sektor pertanian dan perkebunan. Andai saja bisa mengelolanya menjadi sebuah industri yang sangat menjanjikan kesejahteraan melimpah. 

Kabupaten Jember ini, ada sebuah ungkapan oleh seorang sosiologi, ibarat mutiara yang belum diasah. Dengan treatment yang tepat, maka mutiara itu akan memancarkan kilaunya yang memesona.

Tidak salah pendapat itu. Karenanya, di Jember bila dicermati dengan seksama, pemerintah provinsi mendirikan Bank Indonesia di sini. Juga ada OJK (Otoritas Jasa Keuangan), BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), LAZISMu (Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah), NU CARE-LAZISNU, rebranding Lembaga LAZIS Nahdlatul Ulama, PNM (permodalan nasional madani), serta banyak  Bank Syariah sangat potensial dioptimalkan menjadi kekuatan ekonomi syariah Jember karena mayoritas penduduknya beragama Islam (98%).

Maka daerah berbasis santri ini sungguh sangat potensial  bisa bergerak bersama dari oleh dan untuk umat Jember, di bawah trust dan amanah yg dipimpin langsung oleh Bupati Haji Hendy dan Wakil Bupati Kyai Haji Gus Firjaun bersama DPRD dan Para Kyai serta kelas menengah muslim Jember. (*) mel/mel      Foto: IST

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X