
Jakarta - Material bata ringan (hebel) semakin dicari untuk membangun atau merenovasi bangunan atau rumah. Namun, bata merah masih diburu dan tetap tak tergantikan untuk membuat bangunan lebih kokoh. Lebih untung pakai hebel atau bata merah?
Arsitek Rizky Artando mengatakan bata merah tetap menjadi primadona di tengah gempuran hebal dan batako. Selain lebih mudah didapat, bata merah dianggap lebih bisa membuat bangunan lebih kokoh.
“Ada anggapan seperti itu. Tapi, hebel juga kuat dan dianggap bisa tahan gempa bumi. Tergantung selera pemilik rumah atau pengembang bagaimana konsep bangunannya,” kata Rizky.
Dia menjelaskan kelebihan penggunaan bata merah bisa diterapkan dalam desain ukuran ruang kecil. Dibandingkan hebel, tentunya memakai bata merah bisa lebih mudah. “Ukurannya yang kecil memudahkan penggunaannya,” sebutnya.
Selain itu, dalam memasang bata merah juga hampir semua orang bisa kalau terbiasa. Tanpa perlu keahlian khusus sudah bisa mengaplikasikan bata merah ke dalam struktur bangunan. Perekatnya cukup semen dan pasir.
Material bata merah dianggap pas untuk struktur rumah karena tak menyerap panas. “Tahan cuaca dingin juga,” ujarnya.
Namun, bata merah juga ada kelemahanya. Salah satunya bata kurang rapih dalam pemasangannya sehingga perlu keahlian dalam pengacian dinding. Ketebalan acian dengan pemasangan bata yang kokoh akan membuat struktur bangunan terlihat kokoh.
Kekurangan lain dalam bata merah yaitu cenderung boros dalam penggunaan material perekatnya.
“Cenderung boros dalam penggunaan material perekatnya.Ukuran yang kecil tapi tak merata juga menjadi kendala dalam penggunaan bata,” sebutnya.
Rizky menambahkan saat ini bata merah sudah banyak dengan cetakan mesin pabrik. Cetakan pabrik ini agar kualitas bata lebih merata dari ukurannya. Berbeda dengan manual, hasil cetakan pabrik dengan pembakaran lebih kuat.
“Bata merah hasil pabrikan lebih rapih karena rata ukurannya. Kekuatannya pun sama dengan bata merah hasil cetakan rumahan,” jelasnya.
Sementara, untuk hebel saat ini menjadi trend untuk membangun dan merenovasi rumah. Tak hanya rumah, perkantoran atau area gedung juga banyak menggunakan bahan material ini. Kelebihan yang pasti dimiliki hebel yaitu memilki ukuran yang sama sehingga membentuk dinding yang rapih.
Dengan ukuran panjang hampir 60 cm, tinggi 25 cm, dan tebal 15 cm, hebel cukup mudah dalam pemasangannya.
“Berat yang lebih ringan juga bisa memperkecil beban dalam struktur bangunan,” jelasnya.
Selain itu, dengan hebel, waktu pemasangan material lebih cepat dan efisisen ketimbang bata merah. Material ini cocok bagi yang ingin merenovasi rumah dengan mengejar waktu.
Dalam hebel, tak perlu plesteran yang tebal, karena hebel sudah punya ketebalan material.
“Hebel bagus dalam kedapan suara. Praktis, tidak boros dalam material,” tuturnya.
Untuk bahan perekat, hebel berbeda dengan bata merah. Pemasangan hebel mesti dengan semen instan. Dalam pemasangannya juga diperlukan keahlian yang lebih sulit daripada bata.
“Perekatnya beda sehingga pemasangannya juga agak lebih sulit dibandingkan bata,” jelasnya.
Kekurangan penggunaan hebel yaitu banyak sisa yang tak terpakai sehingga terkesan mubazir. Pecahan hebel yang pecah untuk dipakai kembali perlu kesesuaian kebutuhan. Maka, jika bangunan selesai, namun sampah pecahan hebel banyak akan menjadi sayang.
Karena ukuran yang lebih besar maka harga hebel lebih mahal dibandingkan bata merah. Kalau ingin membeli pun mesti dalam jumlah besar. Tidak bisa membeli dengan jumlah satuan yang kecil.
“Hebel biasanya harus dibeli dalam jumlah banyak. Adanya juga di material, toko bahan bangunan,” tuturnya.
Rizky mengingatkan penggunaan hebel dan bata merah tergantung selera pemilik rumah. Kedua bahan meterial ini dinilai sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. (*) Lia Andani
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU