
hariansuara.com, Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi bersama National University of Singapore (NUS) Singapura melakukan ekspedisi penelitian bersama bertajuk The South Java Deep Sea Biodiversity Expedition (SJADES) atau Ekspedisi Biodiversiti Laut Dalam Selatan Jawa 2018. Ekspedisi yang menggunakan Kapal Riset (KR) Baruna Jaya VIII berlangsung selama 14 hari dan telah dimulai sejak 23 Maret 2018 lalu.
Pelayaran diawali dengan melintasi Selat Sunda di antara pulau Sumatera dan Jawa selama empat hari untuk mulai memasuki kawasan terbuka Samudera Hindia. Alat sampling biota telah memasuki kedalaman hampir 1.000 m dan berhasil membawa berbagai koleksi biota unik dari laut dalam dan berhasil mengoleksi beberapa biota dalam keadaan hidup.
"Meskipun semua peneliti pernah melihat foto-foto biota laut dalam, pada kenyataannya sangat berbeda ketika dapat melihat biota tersebut secara langsung apalagi dengan wujud biota yang begitu unik, bagaikan makhluk asing atau alien dari bawah laut," tutur Dwi Listyo Rahayu, Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI sekaligus Kepala Ekspedisi dari LIPI.
Dwi menjelaskan, pada hari keempat ekspedisi 26 Maret 2018, di perairan antara Selat Sunda dan Samudera Hinda, tim berhasil mengeruk dasar laut sampai kedalaman 1.600 m dan untuk pertama kalinya mendapatkan banyak biota laut yang aneh. Kami berhasil menemukan bintang laut yang jarang ditemukan, timun laut (teripang) raksasa, sponge kaca yang unik, spesies baru kepiting laba-laba, kelomang yang aneh dan mungkin temuan terbaik kami hari itu adalah isopod raksasa sepanjang 30 cm, ungkapnya.
Dwi memaparkan, secara anti-klimaks, keadaan laut semakin tenang dan cuaca semakin membaik di hari kelima ketika tim justru berada di Samudera Hindia. Namun, medan sampling menjadi lebih sulit karena batimetri dasar laut yang lebih kompleks sehingga terkadang peta pun tidak lagi bisa dijadikan acuan.
“Sampling biota dari kedalaman 1.000 m menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Alat sampling biota dan sedimen dasar laut kami beberapa kali gagal memberikan hasil. Tapi kami sudah mengantisipasi hal ini, karena biota laut dalam dari kawasan ini memang belum pernah didapatkan sebelumnya. Boleh dibilang hasil kami tidak terlalu buruk, sampai dengan tanggal 30 Maret 2018, kami telah berhasil melakukan sampling dari 36 stasiun dan hanya tiga diantara gagal," ujarnya.
Dwi menjelaskan, dirinya dan tim ekspedisi telah berhasil menemukan lusinan kelomang yang baru dan tidak diharapkan sebelumnya. Kami bahkan menemukan salah satu spesies yang hidup di kayu lapuk sempat bertelur setelah kami koleksi. Penemuan dari ekspedisi ini luar biasa dan menggembirakan. "Kami telah menemukan banyak spesimen yang tidak kami kira hidup di bawah sana. Semuanya biota yang ada di Indonesia. Semoga kami bisa terus menemukan lebih banyak lagi," ungkap Dwi.
Sementara itu, Peter Ng, Kepala Ekspedisi dari Singapura mengatakan, dirinya sangat mengapresiasi kerja sama tim antara Indonesia dan Singapura dalam ekspedisi kali ini. Tim ekspedisi ini bekerja sama dengan erat, bahkan di hari kedua semuanya telah berjalan dengan baik, ungkap Peter. Ia menjelaskan, koleksi biota yang ditemukan sejauh ini telah meliputi berbagai spesies penting termasuk di dalamnya banyak penemuan pertama dari Indonesia. “Sejauh ini sangat menarik. Saya senang sekali dengan koleksi kepiting dan isopod Darth Vader yang telah kami dapatkan, tutupnya.
Sebagai informasi, tim ekspedisi sampai saat ini masih melakukan penelitian dan ekspedisi untuk menemukan biota laut unik lainnya yang berada di Laut Dalam Jawa Bagian Selatan. Adapun 16 spesies biota laut yang diduga adalah spesies baru yang ditemukan dalam delapan hari ekspedisi, antara lain Bintang Laut Bunga Daisy, Cacing Ice Cream Cone, Teripang Berenang, Kerang Gading, Tiram Laut Unik, Gurita Dumbo, Cumi-Cumi Bermata Juling, Darth Vader Laut Dalam, Udang Darah, Lobster Gergaji, Putri Salju, Dekorator Bawah Laut, Tripod Ajaib, Gigi Taring, Kelomang Eksentrik dan Kota Gelas.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU