
hariansuara.com, Jakarta - Keberadaan Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (MUNASAIN) amatlah penting sebagai media penyadartahuan tentang alam Indonesia yang saat ini mengalami penurunan kualitas lingkungannya, sehingga masyarakat sejak usia dini dapat ikut menjaga lingkungan dan sumber daya alam dan hayati Indonesia. Museum ini merupakan satu-satunya museum tentang sejarah alam Indonesia di Indonesia yang memberikan informasi lengkap dan terkini terkait tipe ekosistem dan sumber daya hayati.
Museum yang merupakan pengembangan dari Museum Etnobotani Indonesia (MEI) itu kemudian direvitalisasi dan diperluas cakupannya menjadi MUNASAIN, yang secara resmi berdiri pada 18 Mei 2016. Upaya revitalisasi museum itu pun telah dilakukan agar pengembangan informasinya dapat lebih baik dan profesional.


Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Prof. Dr. Enny Sudarmonowati sebagai penggagas utama berdirinya museum ini, mengatakan bahwa proses revitalisasi dan pengembangan MUNASAIN dilakukan secara bertahap dari lantai per lantai karena keterbatasan dana. "Namun demikian, sudah ada story line untuk keseluruhan 5 lantai. Ruang introduksi yang di-launching kali ini secara fisik berubah total dari yang semula. Tampilan barunya sudah edukatif, komunikatif, dan interaktif. Walaupun masih perlu dilengkapi lebih banyak multimedia," jelasnya.


Sebagai museum berbasis sains, Enny melanjutkan, MUNASAIN bertujuan untuk memberikan pendidikan berkesinambungan kepada pengunjung. Sebagai museum nasional, museum ini mengenalkan sejarah alam Indonesia, budaya, dan keanekaragaman hayati Indonesia yang menjadi identitas bangsa kepada masyarakat umum khususnya generasi muda.
“Setelah diadakan soft launching pada 31 Agustus 2017 yang lalu, MUNASAIN pun terus melakukan pengembangan, mulai dari tata pamer, program publik, ruang publik, hingga sarana dan prasarana museum," paparnya dalam keterangan tertulis yang diterima hariansuara.com.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU