Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Lifestyle

POH LIPI Tingkatkan Produksi Pertanian dan Penyediaan Pangan Bergizi

Tekno
20 May 2018
POH LIPI Tingkatkan Produksi Pertanian dan Penyediaan Pangan Bergizi

hariansuara.com, Jakarta - Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan teknologi pupuk organik hayati (POH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menyasar berbagai wilayah di Indonesia. 

Teknologi produksi dan aplikasi POH telah disosialisasikan, didesiminasikan, dan dipraktikan kepada sekitar 6.000 masyarakat petani di sekitar 70 pemerintah kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Lalu, produksi pupuk ini sendiri telah mencapai sejumlah 14.000 liter dengan potensi aplikasi kepada lahan seluas 600 hektar dalam satu musim. 

"POH LIPI merupakan pupuk non axenic kultur Rizo-mikroba Pemacu Pertumbuhan Tanaman (RPPT) yang memiliki multi biokatalis dalam menyediakan Nitrogen, Phosfat, Kalium (NPK), zat pengatur tumbuh, dan asam-asam organik yang sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi tanaman dan kesehatan tanah. Formula POH berbasis bahan atau substrat organik lokal yang mudah didapat masyarakat dengan harga terjangkau. Bahan-bahan pembuatan pupuk tersebut, antara lain tauge, gula merah, molase, air kelapa muda, agar-agar, tepung jagung, dan tepung ikan," ujar Sarjiya Antonius, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI dalam keterangan tertulis yang diterima hariansuara.com.

Baca juga: LIPI Simpan Karya dan Data Ilmiah Lembaga Riset Indonesia

Dikatakan Anton, manfaat utama POH LIPI adalah meningkatkan produksi pertanian secara signifikan. Lalu, tanaman yang menggunakan POH lebih tahan hama penyakit dan meningkatkan kualitas biokimia tanah pertanian. Penggunaan POH juga mampu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia 30-50 persen, ujarnya.

Lebih lanjut, Anton menyebutkan bahwa teknologi produksi dan aplikasi POH telah diadopsi secara resmi oleh Kabupaten Malinau, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Bangka, dan Kabupaten Sangihe. Selain itu, juga telah diproduksi secara rutin dan mandiri di berbagai kelompok tani dan praktisi di berbagai wilayah Indonesia lainnya. Teknologi POH telah dilisensikan secara non eksklusif kepada dua perusahaan POH swasta dan dua perusahaan start up POH.

Anton berharap penggunaan pupuk POH yang telah menyebarluas ke masyarakat lewat diseminasi atau sosialisasi lainnya mampu mengubah pola pikir petani akan ketergantungan penggunaan pupuk kimia dan mendorong untuk beralih ke pupuk organik. Dengan penggunaan pupuk organik hayati, maka keberlangsungan kesuburan lahan pertanian di masa depan dapat terjaga dengan baik.

Baca juga: Ini Cara LIPI Jaga Ekosistem Pesisir di Pulau Pari

Di sisi lain, dia menuturkan, penggunaan POH selain meningkatkan kualitas dan kuantitas pangan, juga berdampak ke sosial dan ekonomi kerakyatan masyarakat. Penggunaan pupuk itu mampu menekan biaya produksi, membuat produk pangan lebih bergizi, tidak mencemari lingkungan, serta tetap menjaga kesehatan dan kesuburan tanah.

"Hasil akhirnya adalah peningkatan kualitas dan kuantitas produksi pertanian sehingga mendorong kenaikan penghasilan petani dan menjaga kestabilan produksi pangan nasional, pungkas Anton.(*)

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X