
Jakarta - Fungsi Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan menyebabkan peningkatan jumlah bangunan di Jakarta dari masa ke masa. Selain itu, pertambahan jumlah penduduk dan urbanisasi semakin menambah ancaman pada kondisi Jakarta, terutama bawah permukaannya.
“Peristiwa seperti runtuhnya Jembatan Sarinah sepanjang 40 meter pada 1981 mengindikasikan bahwa aspek lingkungan bawah permukaan Jakarta harus menjadi pertimbangan dalam penataan wilayah,” kata Robert M Delinom, Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI dilansir dari siaran pers LIPI, Selasa, (30/8/2016).
Robert menambahkan, peristiwa instrusi air laut ke dalam air tanah dan sumur penduduk di kawasan Jakarta Utara juga menjadi alasan mengapa aspek lingkungan harus diperhitungkan dalam menata Jakarta.
“Penelitian yang sudah dilakukan menunjukan bahwa pengaruh penurunan muka air tanah, pengaruh beban bangunan dan sedimen muda di Jakarta Utara memicu keamblasan tanah,” ungkap Robert.
Menurutnya, selain menyebabkan kerusakan gedung, keamblasan tanah juga memperlebar daerah genangan banjir dan rob yang pada akhirnya memengaruhi kualitas air tanah dangkal pada beberapa tempat di Jakarta Utara. Selama ini, penelitian yang ada masih sedikit mengulas mengenai kondisi air bawah permukaan Jakarta secara terintegrasi dan multiperspektif.
“Perubahan iklim global, pembangunan industri, dan pertambahan penduduk dapat berdampak pada kondisi bagian bawah permukaan Jakarta,” lanjutnya.
Tak hanya itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan pula menunjukan kondisi sosial ekonomi juga menjadi konsekuensi dalam kondisi lingkungan bawah permukaan Jakarta. “Dari aspek sosioekonomi, kondisi lingkungan bawah ditentukan oleh faktor penduduk, kebijakan, dan pemanfaatan teknologi infrastruktur dalam pengembangan kota,” ungkapnya.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU