.jpg)
hariansuara.com, Jakarta - Sebuah penelitian menunjukkan supernova yang terjadi 2,6 juta tahun lalu telah memicu perubahan iklim dan memicu kepunahan massal hewan laut besar termasuk Megalodon.
Adrian Melott, profesor emeritus fisika dan astronomi di Universitas Kansas, mengatakan mungkin ada satu atau serangkaian supernova terjadi sekitar 150 tahun cahaya jauhnya dari Bumi.
Supernova adalah ledakan dari suatu bintang di galaksi yang memancarkan energi lebih banyak daripada nova. Peristiwa supernova ini menandai berakhirnya riwayat suatu bintang dan supernova melontarkan unsur-unsur tertentu ke ruang angkasa.
Melott yang memimpin penulisan makalah yang diterbitkan di Astrobiology ini mengatakan tiga jenis endapan dasar laut, termasuk besi-60 isotop, memberikan bukti tentang waktu dan jarak supernova. "Tidak ada cara lain bagi besi-60 untuk sampai ke Bumi selain dari supernova," katanya.
Tim Melott telah melakukan penelitian tentang ini selama sekitar 15 tahun.
Energi supernova yang menyebarkan lapisan besi-60 di seluruh dunia juga menyebabkan partikel-partikel yang disebut muon yang menghujani Bumi, menyebabkan kanker dan mutasi, terutama pada hewan yang lebih besar.
"Kami memperkirakan tingkat kanker akan naik sekitar 50 persen untuk ukuran manusia. Dan semakin besar Anda, semakin buruk. Untuk gajah atau ikan paus, dosis radiasi semakin meningkat," katanya.
Supernova 2,6 juta tahun lalu bisa mungkin terkait dengan kepunahan megafaunal laut di batas Pliocene-Pleistocene, di mana 36 persen genera diperkirakan punah.
"Muon berenergi tinggi dapat mencapai kedalaman lautan dan menjadi agen kerusakan biologis yang relevan dengan meningkatnya kedalaman," katanya.
"Salah satu kepunahan yang terjadi 2,6 juta tahun yang lalu adalah Megalodon," kata Melott. "Kita bisa berspekulasi itu mungkin ada hubungannya dengan muon. Pada dasarnya, semakin besar makhluk itu akan semakin besar peningkatan radiasinya."(*)
(Foto: Megalodon / Youtube)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU