
hariansuara.com, Jakarta - Industri ritel akan menjadi yang tercepat di antara industri lain dalam hal mengadopsi kecerdasan buatan (AI), kata Deborah Weinswig, CEO dan pendiri konsultan ritel dan teknologi AS Coresight Research.
"Ritel akan mengadopsi teknologi AI tercepat dalam tiga tahun ke depan," tutur Weinswig dalam diskusi panel tentang revolusi kecerdasan buatan di National Retail Federation (NRF) 2019 Big's Show. "Karena tingkat adopsi AI oleh industri diperkirakan 54 persen selama tiga tahun ke depan."
Penerapan itu melampaui tingkat adopsi di perbankan, manufaktur, dan perawatan kesehatan, yang sebagian besar telah memanfaatkan teknologi canggih dalam beberapa tahun terakhir.
Weinswig merujuk pada data, mengatakan industri ritel menempati peringkat pertama dalam pengeluaran di AI dengan 3,4 miliar dolar AS pada 2018, diikuti oleh 3,3 miliar dolar AS untuk industri Perbankan.
Dia mengatakan AI telah menggarisbawahi aspek-aspek utama ekosistem ritel, termasuk komunikasi, optimisasi, inventaris yang dirasionalisasi dan pemgalaman ritel dengan teknologi yang paling banyak diadopsi termasuk penalaran berbasis aturan, pembelajaran mesin, pemrosesan bahasa, dan visi.
Menurut Weinswig, AI telah membantu pengecer meningkatkan pengalaman pelanggan tanpa menambah staf, berkat smart chatbots yang mampu menanggapi permintaan pelanggan sampai analisis data untuk memprediksi preferensi pelanggan dan membuat rekomendasi.
"Penetapan harga dinamis yang diberdayakan oleh AI memungkinkan pengecer tidak hanya menetapkan harga yang tepat untuk produk mereka, tetapi juga untuk mengubah harga dengan cepat sebagai respons terhadap persaingan dan permintaan," katanya.
"Raksasa e-commerce China JD.com mengaitkan pertumbuhan bisnis ritel lintas batas dengan teknologi AI dan kemitraan strategis dengan Google, Tencent dan Walmart, "kata Hui Cheng, kepala penelitian robotika, Pusat Penelitian dan Pengembangan Silicon Valley JD.com.
Dia mengatakan AI telah memungkinkan perusahaan untuk mencapai pengiriman yang sama atau hari berikutnya dan mendapatkan fleksibilitas memenuhi ratusan juta pesanan selama puncak penjualan.
Selain itu, solusi AI berbasis data juga memungkinkan JD.com membuat prediksi permintaan yang akurat, pengembangan produk baru, penempatan inventaris yang optimal, dan transportasi.
"AI tidak hanya otak, tetapi juga tangan, mulut dan kaki dan semuanya termasuk di antaranya jantung (untuk bisnis ritel)," katanya.
Weinswig mengatakan China menjadi negara teratas, diikuti oleh Amerika Serikat, dalam pengeluaran untuk teknologi AI dari 2017 hingga 2022, karena investasi besar-besaran, kehadiran perusahaan teknologi besar seperti Tencent dan Alibaba, kebijakan pemerintah yang mendukung dan sejumlah besar data berdasarkan populasi yang besar.(*)
(Foto: Ilustrasi / Istimewa)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU