Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Lifestyle

ITS Siap Pasarkan Mesin Cetak Braille Pertama Karya Anak Bangsa

Tekno
24 Nov 2017
ITS Siap Pasarkan Mesin Cetak Braille Pertama Karya Anak Bangsa

 

 

hariansuara.com, Surabaya -  Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengujicobakan mesin cetak huruf Braille hasil karya tim dosen dari Fakultas Teknologi Elektro (FTE) di sekolah luar biasa (SLB) Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) di Jalan Gebang Putih, Surabaya, Kamis (23/11).

 

Mesin cetak Braille (Braille Embossers) ini merupakan mesin pencetak huruf Braille, yakni aksara yang digunakan para penyandang tunanetra untuk membaca. Sehingga hasil cetakannya pun berbeda dengan printer pada umumnya, karena huruf yang dicetak berbentuk timbul. Mesin yang dapat mencetak 1.200 halaman per jam ini dikembangkan oleh tim dosen dari FTE ITS dengan tim inti yang beranggotakan tiga orang, yakni Dr Tri Arief Sardjono ST MT (ketua tim), Ir Tasripan MT, dan Ir Hendra Kusuma MEngSc.

 

Tim ITS sebenarnya telah menggarap riset mesin cetak Braille ini sejak tahun 2012 lalu saat masih menjadi Jurusan Teknik Elektro di bawah Fakultas Teknologi Industri (FTI). Mesin cetak Braille ini merupakan pengembangan dari mesin cetak dari Norwegia yang telah dimiliki oleh sejumlah SLB di Indonesia yang kondisinya sudah tidak layak.

 

“Tim dari ITS saat itu diminta oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk membantu memperbaikinya,” jelas Tri Arief Sardjono dalam keterangan humas ITS dikutip hariansuara.com, Jumat, (24/11).

 

 

Akhirnya tahun 2014, ITS berhasil membuat prototype hasil pengembangan mesin cetak Braille dari Norwegia tersebut menjadi lebih baik lagi dalam beberapa fiturnya. INi juga merupakan mesin cetak Braille karya anak bangsa Indonesia yang pertama ada. Karena di Indonesia, sampai saat ini tidak ada perusahaan manufaktur mesin cetak Braille.

 

“Tahun 2015, ITS berhasil mendistribusikan tiga prototype mesin ini ke SLB di Jayapura, Ambon, dan Pangkal Pinang,” paparnya.

 

Saat ini, kata Arief, ITS telah diamanahi oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dalam Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) dan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dikdasmen Kemdikbud untuk membuatkan masing-masing satu prototipe dengan bantuan dana Rp 390 juta per mesin. Selain bertugas untuk membuat prototipe, ITS pun memperbaiki mesin dari Norwegia tersebut.

 

“Prototipe mesin cetak Braille karya tim kami ini telah mencapai TKT 7 (Tingkat Kesiapterapan Teknologi 7), sehingga sudah siap untuk hilirisasi ke industry,” ujar mantan Ketua Jurusan Teknik Elektro ITS ini.

 

Arief menandaskan bahwa mesin ini sudah berskala industri dan siap untuk diproduksi secara massal. Melalui Corporate Social Responsibility (CSR), diharapkan Braille Embossers ini dapat diproduksi dan dipasarkan ke masyarakat. Mesin cetak Braille karya ITS ini dirancang dengan komponen suku cadang 85 persen produk Indonesia.

 

Sehingga harga diharapkan lebih terjangkau meski tidak untuk ukuran personal, mudah dioperasikan dan dirawat serta kompatibel dengan sistem operasi komputer modern. Ke depan mesin tersebut akan dihibahkan ke SLB-SLB untuk mempermudah pembuatan soal-soal ujian, buku baca sekaligus mendukung gerakan literasi. “Mesin ini membutuhkan investor, mesin ini tidak akan dimiliki secara personal karena harganya yang relatif mahal jika untuk ukuran personal,” ungkapnya.

 

Mesin Cetak Braille keluaran ke-4 ITS ini, menurut Arief, juga sudah ditunggu-tunggu oleh SLB di Indonesia, sedangkan mesin keluaran ke-5 akan rilis Desember mendatang. “Ada lima SLB yang sangat membutuhkan mesin ini, dan ada 50 SLB senter yang harus melayani lebih dari 1.000 SLB sekitarnya,” tambah dosen itu.

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X