
hariansuara.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp.15.000 beberapa waktu lalu. Gerakan Aku Cinta Rupiah pun sayup muncul di permukaan, alih-alih salah satu cara membuat rupiah perkasa kembali.
Gerakan Cinta Rupiah bukan perkara baru didengungkan. Perihal Gerakan Aku Cinta Rupiah (GACR), seperti dikutip dari artikel Tirto, Gerakan Aku Cinta Rupiah Yang Gagal Atasi Krisis Ekonomi 1998, (5/9), dicetuskan oleh Advokat senior Amir Syamsuddin di Jakarta pada Desember 1997.
Amir Syamsuddin kala itu mengajak kolega-koleganya dari kalangan advokat, pengacara praktik, juga pengusaha untuk ramai-ramai menjual dolar dan mengambil rupiah. Inspirasi Amir datang dari gerakan serupa yang lebih dulu terjadi di Korea Selatan. Amir terharu melihat pelajar di Korea Selatan, yang meski hanya mempunyai beberapa dollar, rela melepas dollar itu, sebagai lambang kecintaan pada mata uangnya, won.
Gerakan moral itu kian populer setelah Siti Hardijanti Rukmana, putri sulung Presiden Suharto pada tahun 1998 ikut dalam gerakan ini. Bahkan Penyanyi cilik Indonesia, Cindy Cenora pun sampai merilis lagu Aku Cinta Rupiah seiring dengan maraknya gerakan ini.
Pertanyaannya apakah gerakan Aku Cinta Rupiah ini efektif sekarang dilakukan?
Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif INDEF, mengatakan gerakan cinta rupiah bisa saja efektif jika yang melakukan hal tersebut adalah orang-orang konglomerat yang punya banyak simpanan dollar.
"Artinya kalau yang melakukan gerakan cinta rupiah para peternak dollar dan konglomerat yang menukarkan rupiahnya bisa akan efektif. Kalau hanya masyakarat biasa, jelas belum tentu semuanya punya dollar untuk ditukarkan," tuturnya kepada hariansuara.com, beberapa waktu lalu. " Tapi jangan sampai pergi ke bank justru ingin membeli dollar bukan menukarkannya."(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU