
hariansuara.com, Jakarta - INDEF mencatat perang dagang antara Amerika Serikat-Tiongkok merugikan mereka sendiri, namun bisa menguntungkan bagi negara yang mampu memanfaatkan situasi. Hal ini terlihat dari hasil simulasi Global Trade Analysis Project (GTAP) yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok berkurang masing-masing 0,16% dan 0,42%. Namun keuntungan yang diperoleh Indonesia tidak seoptimal keuntungan yang diperoleh negara lain, hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya bertambah 0,01%.
Untuk menghadapi perang dagang AS - Tiongkok Indonesia perlu menerapkan beberapa strategi. Diantaranya melakukan ekspansi pasar dan penguatan pasar regional dengan cara perluasan pasar ke negara-negara dagang nontradisional (Afrika & Eropa Timur) dan negara-negara yang teridentifikasi terdampak perang dagang. Indonesia pun bisa menjadi penyuplai barang substitusi bagi negara tujuan ekspor.
Selain itu penguatan pasar regional dengan pemberian nilai tambah yang tinggi kepada produk-produk ekspor tujuan Asia Tenggara, pemberian fasilitas pembiayaan, peminjaman, dan asuransi misalnya penurunan atau pembebasan bea keluar/ekspor, kebijakan pengendalian impor dengan cara menaikkan tarif bea masuk impor produk yang berdampak besar terhadap neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan. Memberikan insentif fiskal dengan memberi peluang bagi industri dalam negeri melalui kebijakan perpajakan yang memberikan kepastian, keamanan, dan kenyamanan.
"Dalam jangka panjang, pemerintah terus mengusahakan pembangunan infrastruktur yang tepat sasaran. Tujuan utamanya adalah menjadikan barang Indonesia lebih kompetitif. Logistik Indonesia masih kalah jauh (Ranking 46) dibanding negara ASEAN lainnya." tulis siaran pers INDEF yang diterima hariansuara.com, Rabu, (28/11).
Selain itu, infrastruktur masih perlu dikembangkan akan tetapi harus tepat sasaran agar dapat mengurangi biaya logistik baik dalam negeri maupun internasional. Optimalisasi peran lembaga penelitan dan peningkatan investasi (anggaran R&D) sebagai jalan mengoptimalkan inovasi produksi barang dalam negeri yang bernilai tambah tinggi dan mampu bersaing dengan barang luar negeri.(*)
(Foto: Ilustrasi / Foreign Policy Journal)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU