
hariansuara.com, Jakarta - Andry Satrio Nugroho, Peneliti INDEF, mengutarakan efek yang ditimbulkan oleh Belt and Road Initative (BRI) terhadap perdagangan dan industri Indonesia.
Dalam hal konteks ekonomi, kata Andry, BRI merupakan investasi China yang utamanya dalam bentuk infrastruktur di jalur sutra. Harapannya, produk yang dihasilkan oleh China dan program inisiasi industrialisasi China (Made In China 2025) dan 13th 5 year development program mereka dapat berjalan dengan baik. China melakukan apa yang disebut sebagai manifestasi reglobalisasi di tataran ekonomi.
"Dalam hal ini, ke depan China tidak perlu khawatir dalam distribusi barang yang mereka hasilkan karena infrastrukturnya sudah terkoneksi dari negaranya menuju Eropa dan Asia, bahkan hingga ke Afrika. Kerjasama secara luas (comprehensive) Indonesia dengan China melalui BRI sebenarnya sudah muncul dari 2013, dan secara resmi dimulai pada 2015, ketika kedua pihak menandatangani joint statement pada tahun tersebut,"tuturnya.
Dalam Joint Statement tersebut, beberapa proyek disebut diantaranya pengembangan KEK Bitung dan beberapa KEK lainnya, Kereta Cepat Jakarta-Bandung, pengoperasian tahap 1 PLTU 10,000 MW, hingga partisipasi dalam proyek lima tahun listrik 35,000 MW.
China sendiri merupakan mitra dagang utama Indonesia, yang mana frekuensi dari perdagangan antara kedua negara ini tertinggi diantara mitra dagang lain, mencapai US 72,6 miliar di 2018.
Komoditas utama yang diimpor oleh Indonesia dari China adalah peralatan elektronik, mesin dan besi baja. Sementara yang ekspor oleh Indonesia adalah produk sawit dan Batubara.
Dengan karakteristik komoditas yang diekspor oleh Indonesia tersebut, Indonesia mendapatkan keuntungan ketika terjadi perang dagang antara China dan Amerika Serikat, dimulai dari 2017. Permintaan ekspor produk sawit dari Indonesia ke China meningkat drastis. Tidak hanya CPO tetapi juga seluruh turunannya.
"Sawit sebagai jantung perekonomian kita cukup tertolong oleh upaya pembelian yang dilakukan oleh China, meski kita lihat bahwa pembelian sawit ini juga terdampak oleh beberapa negara-negara yang menerapkan tarif impor hingga ban produk sawit, dari India, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat," tuturnya.
Dari segi industri, KEK yang cukup pesat perkembangannya di Indonesia saat ini adalah KEK Morowali. KEK Morowali menjadi pusat hilirisasi nikel terbesar di Indonesia saat ini. Kontribusi ini tidak lepas dari China dan BRI-nya. Tidak hanya perusahaan tetapi juga tenaga kerja asing berasal dari China.
"Sebagai informasi, nikel adalah bahan baku baterai. Baterai dari handphone yang kita pakai saat ini hingga EV (Electronic Vehicle) atau mobil listrik. Selama 10 tahun ke depan, dibutuhkan 1,3 juta ton nikel,"katanya.
China dengan ekspansi teknologinya mengharapkan investasi nikel di Indonesia mampu memenuhi kebutuhannya dan dapat menekan biaya sehingga produk-produk elektronik yang dihasilkan tetap kompetitif dibandingkan yang lain.
Andry memprediksi efek yang akan terjadi melalui kerjasama terutama pembangunan proyek BRI terutama dari segi industri di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa pintu masuk BRI adalah Medan. Beberapa kesepakatan pembangunan proyek meliputi Pelabuhan Kuala Tanjung, Kota Bandara Kualanamu, dan KEK Sei Mangkei. Investasi akan masuk dari segi transportasi hingga kawasan industri.
"Indonesia kesulitan menawarkan KEK kepada investor asing, di dalamnya termasuk KEK Sei Mangkei. Padahal KEK ini merupakan KEK strategis dengan fokus pada hilirisasi sawit,"tuturnya.
KEK ini baru dua perusahaan asing besar yang memiliki tenant di sini, Unilever dengan Pabrik Oleochemical dan juga Shimizu Corporation yang mengembangkan biomass. Banyak permasalahan yang dialami oleh KEK ini, mulai dari janji insentif yang tidak ditepati hingga bahan baku sawit yang justru sulit didapatkan.
Masuknya China ke dalam KEK ini diharapkan dapat melakukan hilirisasi sawit di dalam negeri sehingga ke depan kita tidak bergantung pada ekspor sawit mentah atau produk turunan yang rendah.
Namun, Andry mengatakan, tentu perlu waspada bahwa bisa saja hirilisasi sawit bisa saja tidak terjadi dan justru memberikan kesempatan bagi China untuk mengeruk peluang mendapatkan CPO dengan harga terjangkau dari Indonesia. Perlu diingat, ke depan akan terjadi peningkatan penyerapan CPO Indonesia oleh China.
Risiko lainnya adalah karena yang digalakan dan digencarkan adalah model kerjasama B2B. Sejak 2012, 40 perusahaan BUMN China sudah menyetujui mengambil peran di dalam kontestasi BRI. Mereka akan head-to-head dengan BUMN. Maka dari hal tersebut, ke depan risiko kerugian yang akan ditanggung langsung oleh BUMN pengolahan sawit seperti PTPN III. Kemungkinan terburuk adalah KEK ini akan menjadi milik China dengan penguasaan secara menyeluruh hingga pada tahap operasionalnya yang saat ini dikuasai oleh anak perusahaan PTPN III yaitu PT Kinra.
"Ini juga belum menghitung TKA yang akan masuk seiring dengan masuknya investasi dari China ke KEK Sei Mangkei yang mana seharusnya tenaga kerja yang terserap bukan dari China namun dari daerah Sei Mangkei, Simalungun, Medan dan sekitarnya. Kita harus belajar dari kasus KEK Morowali," pungkasnya.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU