Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Soal Defisit Neraca Dagang, CIPS: Pengendalian Impor Perlu Disikapi Hati-Hati

Ekonomi & Bisnis
19 May 2019
Soal Defisit Neraca Dagang, CIPS: Pengendalian Impor Perlu Disikapi Hati-Hati

hariansuara.com, Jakarta -  Defisit neraca dagang Indonesia pada April 2019 merupakan yang tertinggi sejak April 2013, dimana angka defisit mencapai USD 2,5 miliar. Adapun angka impor tercatat naik sebesar 12,2% dan ekspor turun sebesar 10,8%. Hasil minyak mendominasi defisit perdagangan, yaitu sebesar USD 1,32 milliar.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan faktor internal dan eksternal berperan dalam capaian neraca perdagangan saat ini. Faktor internal yang dimaksud di sini adalah masih dominannya komoditas mentah sebagai komoditas utama ekspor Indonesia. Komoditas ini, walaupun konsisten mendorong ekspor, namun rentan terhadap perubahan harga sehingga tidak bisa terus menerus diandalkan.

Selain itu, ketegangan tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China juga menjadi sentimen negatif dalam perdagangan internasional. Semua negara yang bermitra dengan AS dan Tiongkok, termasuk Indonesia, pasti terdampak dari adanya eksalasi perang dagang beberapa waktu terakhir ini.

“Solusi dalam jangka pendek yang paling efektif dan selalu digulirkan adalah dengan mengendalikan impor. Hal ini sebenarnya lumrah dilakukan karena untuk mendorong peningkatan nilai ekspor. Selain itu, perlu proses transformasi di sektor industri yang cukup memakan waktu dan disertai juga dengan perubahan berbagai macam regulasi yang memberikan insentif pada para pengusaha untuk meningkatkan nilai jual produknya,” ungkapnya dalam siaran pers CIPS belum lama ini.

Namun dalam mengendalikan impor, lanjutnya, perlu kehati-hatian karena impor Indonesia saat ini masih didominasi oleh impor bahan baku dan barang modal, yang notabene diperlukan untuk proses produksi dalam negeri. Beberapa waktu yang lalu, pemerintah menggulirkan aturan tarif impor untuk berbagai macam barang konsumsi. Jenis impor barang konsumsi ini sebenarnya relatif kecil apabila dibandingkan dengan impor bahan baku dan impor barang modal. Namun tentunya mengendalikan dua jenis impor lain dapat berpengaruh terhadap kinerja sektor industri dan manufaktur nasional.

“Sehingga pada akhirnya, walaupun pengendalian impor ini adalah solusi jangka pendek yang dapat diandalkan, tentunya hal ini tidak bisa selama-lamanya digunakan untuk mengatasi defisit neraca perdagangan. Diperlukan pendekatan yang lebih struktural seperti perubahan regulasi yang sifatnya meningkatkan daya saing industri dalam negeri untuk bisa meningkatkan nilai jual barang ekpsornya,” tandasnya.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X