Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Ekspor Indonesia Belum Berkontribusi Optimal untuk Perekonomian

Ekonomi & Bisnis
24 Jun 2019
Ekspor Indonesia Belum Berkontribusi Optimal untuk Perekonomian

hariansuara.com, Jakarta - Perlambatan ekspor dan defisit neraca perdagangan menjadi hal penting yang perlu segera disikapi secara serius.

Ahmad Heri Firdaus, Peneliti INDEF, mengatakan dalam konteks pertumbuhan ekonomi, ekspor Indonesia hingga saat ini belum mampu memberikan kontribusi yang optimal untuk perekonomian. Hal ini terlihat dari kontribusi ekspor Indonesia terhadap PDB yang masih relatif kecil (20,19%) dan cenderung mengalami penurunan. 

Sementara, negara-negara lain di ASEAN seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam menunjukkan hal sebaliknya. Ekspor Malaysia berkontribusi sebesar 71% terhadap PDBnya, sementara ekspor Vietnam memberikan kontribusi 101,6% terhadap PDBnya. Artinya ekspor Vietnam lebih besar dari PDB-nya.

"Dalam persaingan global, ekspor Indonesia pun kurang terlihat taringnya Jika melihat peranan Indonesia dalam percaturan ekspor dunia pun masih terlihat rendah. Peringkat ekspor Indonesia di dunia hanya menempati posisi 29, dengan pangsa hanya 0,9% terhadap total ekspor dunia. Sementara China menempati posisi tertinggi dengan kontriusi sebesar 13% terhadap total ekspor dunia," tuturnya di Jakarta, Minggu, (23/6/2019).

Di ASEAN, Indonesia masih tertinggal dengan Singapura, Vietnam, Thailand dan Malaysia. Pangsa ekspor Indonesia di dunia juga terlihat stagnan di kisaran 0,9%. Sementara  pangsa ekspor Vietnam di dunia terlihat mengalami peningkatan dari 0,8% di 2014 menjadi 1,4% di 2018.

"Sebagai negara G20, sepertinya hal ini sangat ironis. Lemahnya ekspor Indonesia tentu menimbulkan konsekuensi terhadap nilai neraca perdagangan. Setelah pada 2018 lalu Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan terbesar sepanjang sejarah (US$ -8,57 miliar), sepertinya pada 2019 ini belum banyak mengalami perubahan, setelah pada Januari – April 2019 Indonesia masih mengalami deficit sebesar US$ 2,56 miliar," tambahnya.

Lantas apa penyebab sulitnya ekspor Indonesia terakselerasi dan berkontribusi lebih besar terhadap PDB?

Heri mengatakan negara tujuan ekspor Indonesia masih relatif terbatas pada beberapa negara tradisional ekspor. Hal ini karena kurang agresifnya Indonesia dalam melakukan penetrasi pasar ekspor.

Keputusan Indonesia dalam melakukan FTA dengan beberapa negara/regional tidak didahului persiapan dan strategi yang optimal. Ada beberapa FTA yang akan segera diimplementasikan, sejauh apa persiapan yang telah dilakukan?

Lanjut Heri, ketergantungan ekspor Indonesia pada komoditas, yang rentan terhadap gejolak perubahan harga.  Kurangnya daya dukung untuk menciptakan produk ekspor yang bernilai tambah tinggi dan berdaya saing di pasar global dan tentu masih terdapat penyebab lainnya.  Pelemahan ekspor dan membengkaknya defisit neraca perdagangan perlu segera disiasati dengan berbagai bauran kebijakan, beberapa strategi jangka pendek diantaranya, FTA jangan hanya diarahkan ke negara maju tapi lebih penting ke negara-negara berkembang dan low-income yang prospek bagi pasar barang Indonesia (kareba negara berkembang juga relatif minim Non Tariff Measures). Sebagai contoh FTA di Kawasan Afrika terlambat diinisiasi, sehingga produk Indonesia kurang bisa bersaing. Beberapa Negara Afrika menerapkan bea masuk hingga 40% terhadap produk impor-non FTA. Perjanjian kerjasama pembebasan bea masuk ke Srilanka, dan Bangladesh untuk ekspor produk transportasi (kereta api dan pesawat udara) bisa mempercepat penetrasi produk Indonesia. 

Heri menambahkan, peran KBRI dan atase perdagangan di setiap perlu dioptimalkan dan lebih berorientasi pada peningkatan kinerja perdagangan. Menjalankan fungsi sebagai market intelegent, untuk mengidentifikasi kebutuhan produk, identifikasi selera konsumen di negara tujuan, hambatan perdagangan hingga jaringan distribusi di negara tujuan ekspor.

"Disarankan adanya kontrak antara Presiden dengan para Duta Besar, misalnya minimum per tahun harus hasilkan pertumbuhan ekspor non-migas 10-20%. Ada reward dan punishment sehingga fungsi Dubes optimal untuk meningkatkan ekspor, bukan sekedar ceremonial,"tuturnya.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X
X