Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Edukator Dana Pensiun di Indonesia Masih Langka

Ekonomi & Bisnis
18 Jul 2019
Edukator Dana Pensiun di Indonesia Masih Langka

hariansuara.com, Jakarta - Negara Indonesia sangat luas. Tapi edukator dana pensiun masih langka. Tidak banyak orang yang mau mendedikasikan diri sebagai “edukator dana pensiun”. 

Edukasi literasi keuangan, termasuk dana pensiun pasti sangat penting. Karena hanya edukasi yang mampu mendidik manusia untuk sadar dan tahu soal cara mengelola keuangan secara bijak. Tentang menggunakan "uang" sesuai kebutuhan bukan keinginan. Apalagi untuk masa pensiun, bagaimana cara kita bisa mempertahankan gaya hidup?

Edukasi dana pensiun boleh dibilang langka. Edukator dana pensiun pun sangat langka di Indonesia. Sementara Survei OJK tahun 2013, menyebutkan bahwa tingkat literasi atau pengetahuan Dana Pensiun hanya 10,9% dan tingkat inklusi atau penggunaan produk dana pensiun hanya 4,6%. Jadi, edukasi dan literasi dana pensiun memang menjadi masalah yang belum mampu dipecahkan. 

Di sisi lain, potensi pasar dana pensiun tergolong masih sangat besar. Karena saat ini ada 50 juta pekerja formal dan 70 juta pekerja informal. Sementara generasi milenial mencapai 60 juta jiwa, bahkan 50% dari milenial saat ini sudah bekerja. Itu semuu menjadi sinyal. Ada "pekerjaan rumah" yang besar untuk memengertikan masyarakat dan pekerja akan pentingnya dana pensiun. 

Konsekuensinya, sangat wajar bila 73% pekerja di Indonesia justru mengalami masalah keuangan di masa pensiun. Bahkan 90% pekerja di Indonesia hari ini sama sekali tidak siap untuk pensiun. 

Realitas di atas menegaskan bahwa edukasi dana pensiun adalah masalah. Edukator dana pensiun pun langka. Logikanya, memang agak sulit industri dana pensiun dapat tumbuh signifikan bila fungsi edukasi tidak optimal.

"Secara prinsip, potensi pasar dana pensiun di Indonesia masih sangat besar. Pekerja formal saja baru 20% yang punya dana pensiun. Sementara pekerja sektor informal dan generasi milenial sama sekali belum tersentuh. Edukasi adalah masalah utama di dana pensiun. Dan edukator dana pensiun yang ada pun terbilang langka" ujar Syarifudin Yunus, Ketua bidang Humas dan Pelayanan Konsumen Perkumpulan DPLK.

Edukasi dana pensiun, secara prinsip sebenarnya bertumpu pada cara memperlakukan uang hari ini untuk masa pensiun. Banyak pekerja yang punya gaji, tapi apakah ada sebagan gaji yang disisihkan untuk masa pensiun, saat tidak bekerja lagi?

Memang, edukasi cara bagaimana orang menggunakan uangnya sendiri terbilang sulit. Atas alasan banyak kebutuhan-lah, untuk biaya anak sekolah-lah, atau bahkan gaya hidup yang sulit ditinggalkan. Boro-boro, berpikir untuk menabung masa pensiun?

Edukasi dana pensiun memang belum massif dan belum berkelanjutan. Edukator dana pensiun pun langka untuk menyuarakan "apa yang kita lakukan dengan uang kita?"; "apa yang kita perbuat dengan gaji hari ini untuk masa depan?".

Memang, di Indonesia, edukasi literasi keuangan seperti dana pensiun menjadi sesuatu yang sangat jarang dilakukan. Edukator dana pensiun, yang seharusnya menjadi "ujung tombak" pun masih langka. Bolehlah dikatakan, kita memang belum serius dan terencana untuk melakukan edukasi dana pensiun kepada masyarakat, kepada pekerja. Pantas bila hari ini, kita seakan masih "tabu" membicarakan keadaan masa pensiun dibandingkan masa kini.

Sementara regulasi dan aturan dana pensiun, dari waktu ke waktu, terus diterbitkan. Bagaimana memahaminya, menafsirkannya, dan mendiskusikannya untuk memiliki program pensiun terbaik? Sungguh, butuh edukasi yang berkelanjutan. Edukasi dana pensiun pun butuh independensi dan objektivitas.

Maka suka tidak suka, edukasi dana pensiun sangat penting dilakukan sekarang. Edukator dana pensiun pun harus mulai diorbitkan dan diperbanyak. Edukator, tentu bukan konsultan dana pensiun, bukan pula tenaga pemasar dana pensiun. Karena edukator dana pensiun adalah orang yang memiliki komitmen untuk memajukan industri dana pensiun dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mau memberikan nasehat yang objektif akan pentingnya mempersiapkan masa pensiun, serta bisa melaksanakan model pengetahuan dan pembelajaran dana pensiun yang substantif dan professional.

Sehingga pada akhirnya, edukator dana pensiun dapat mendorong akselerasi pertumbuhan bisnis dan kepemilikan program dana pensiun secara berkelanjutan. Mempunyai dana pensiun sesuai kebutuhan yang objektif, itulah tugas edukator dana pensiun.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan edukasi dana pensiun, termasuk tingkat literasi dan inklusi keuangan dana pensiun di masyarakat, sangat diperlukan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam mengedukasi masyarakat akan pentingnya dana pensiun. Sehingga dana pensiun dapat dipandang sebagai bagian dari kecakapan hidup (life skills) dan gaya hidup (life style) seseorang.

Apa manfaat dana pensiun? Kenapa orang harus punya dana pensiun? Bagaimana cara memulai dan mengoptimalkan dana pensiun? Semua pertanyaan itu sangat penting dijawab melalui program edukasi dana pensiun, dan edukator dana pensiun bertanggung jawab untuk menjelaskannya kepada publik.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X