Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Defisit Migas Belum Bisa Dihindari Indonesia

Ekonomi & Bisnis
29 Jul 2019
Defisit Migas Belum Bisa Dihindari Indonesia

hariansuara.com, Jakarta - Defisit migas pada dasarnya tidak bisa dihindari oleh Indonesia,  manakala kebutuhan migas jauh lebih tinggi dibandingkan produksi, khususnya sejak tahun 2008 hingga saat ini.  Puncaknya pada tahun 2014 yang lalu dimana defisit migas mencapai 13,4 milyar dollar AS dan pada Januari-Juni 2019, defisit tersebut mencapai  4,78 milyar dollar AS.  Jumlah periode ini dibandingkan dengan periode Januari-Juni 2018 yang sebesar  5,61 milyar dollar AS atau telah turun 14,88 %.  

Demikian paparan Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)  dalam diskusi online INDEF, Minggu, (28/7/2019) dengan tema, "Problem Defisit Migas dan PR ke Depan".

Meski demikian, Tauhid menambahkan melihat perkiraan kebutuhan bulanan yang besar maka diperkirakan defisit migas hingga akhir tahun 2019 akan tumbuh diatas 10 milyar dollar AS.  Ini artinya bahwa defisit ini akan semakin terus terjadi sepanjang produksi migas  tetap rendah, sementara kebutuhan terus meningkat dengan semakin besarnya pertumbuhan penduduk, baik pemanfaatannya untuk kendaraan bermotor, rumah tangga maupun industri.

"Apabila dilihat lebih dalam lagi maka impor migas hanya menyumbang sebagian kecil total impor.  Sepanjang tahun 2014 hingga 2018,  impor migas  rata-rata menyumbang komponen impor secara kesuluruhan rata-rata sebesar 17,35 %.  Bahkan pada periode Januari-Juni 2019,  komponen impor migas hanya menyumbang  13,24 %.  Ini artinya komponen non migas yang paling besar peranannya dalam struktur impor Indonesia atau dengan kata lain,  impor non migas paling banyak menyumbang defisit transaksi berjalan.  Meskipun menurun namun tetap saja hal ini akan memiliki pengaruh dalam menguras cadangan devisa," tuturnya.

Perkembangan impor migas ini lebih dominan pada nilai impornya ketimbang volume impornya.  Hal terlihat bahwa volume impor tetap pada angka 49-50 juta ton pada periode 2013 hingga 2018 namun nilai impornya sangat bervariasi dimana pada tahun 2013, nilai impor berada pada 45,26 milyar dollar AS menjadi 29,8 milyar dollar AS(2018). " Ini artinya bahwa faktor harga minyak mentah (USD/barrel) dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menjadi faktor penentu naik turunnya nilai impor yang pada gilirannya menjadi faktor penentu defisit migas dapat melonjak naik maupun turun, seperti terlihat dalam gambar dibawah,"tambahnya.

Dengan demikian,  apabila pada tahun 2019 diproyeksikan harga minyak mentah hanya bergeser sebesar 66-67 US$/barrel dengan volume impor yang stabil pada kisaran 50 juta ton maka nilai impor migas pada tahun 2019 akan mencapai 47-48 milyar dollar AS atau naik sedikit dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 47,04 milyar dollar AS.

Tauhid mengatakan untuk menekan defisit tersebut, diluar soal harga ICP dan nilai tukar dollar,  maka salah satu kuncinya adalah meningkatkan produksi dalam negeri dan mengurangi impor.  Pertama, peningkatan produksi tampaknya masih butuh waktu panjang mengingat lelang blok migas dalam periode 2015-2016 tidak ada yang laku sementara tahun 2017-2019 telah laku 16 blok dengan metode gross split.  Namun demikian,  seluruh blok tersebut baru akan bisa berproduksi minimal 7 tahun sejak eksplorasi dimulai.  Apalagi belum tentu seluruh blok tersebut dapat menghasilkan mengingat terdapat peluang gagal juga.

Namun demikian, jangka menengah adalah mengembangan refinery plant mengingat hampir sebagian impor migas kita (25-26 juta ton) dalam bentuk hasil minyak olahan.  Artinya,  kita punya peluang dari ekspor minyak mentah kita yang berkisar 15 juta ton dapat diolah didalam negeri ketimbang di ekspor kemudian masuk ke dalam negeri dalam bentuk hasil minyak olahan.  Termasuk mengolah kurang lebih 17 juta ton impor minyak mentah.   Karena itu,  perlunya pemerintah serius menangani ini mengintat refenery unit (RU) yang dimiliki Pertamina masih terbatas, baik yang berada di Dumai, Plaju, Cilacap, Balikpapan, Balongan dan Kasim.

Kedua adalah mengurangi impor, salah satunya solar.  Tentu saja penghentian impor solar juga salah satu kunci, termasuk penggunaan biodesel B30 untuk ke depannya.  Namun ini akan berhasil apabila  industri juga turut mendukung,  seperti peralihan industri ataupun kendaraan otomotif yang adapat adaptif menggunakan B30 tersebut mengingat tidak semua mesin dapat menggunakan B30.  Jangan sampai B30 digunakan namun terlampau mahal investasi untuk mesin-mesin baru.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X