Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Startup E-Commerce Berkontribusi Terhadap Naiknya Impor Barang Konsumsi

Ekonomi & Bisnis
05 Aug 2019
Startup E-Commerce Berkontribusi Terhadap Naiknya Impor Barang Konsumsi

hariansuara.com, Jakarta - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan dari sisi neraca dagang keberadaan startup yang didanai asing memperparah defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan sekaligus.

"Startup khususnya yg bergerak dibidang ecommerce berkontribusi terhadap naiknya impor barang konsumsi. Tahun 2018 impor barang konsumsi naik 22% padahal konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 5%. Ini anomali pertama. Data asosiasi ecommerce menunjukkan kecenderungan 93% barang yang dijual di marketplace adalah barang impor. Artinya produk lokal hanya 7%," tuturnya dalam Diskusi Online INDEF "Polemik Investasi Asing di Start Up Unicorn", Minggu (4/8/2019).

"Sementara manfaat keberadaan startup bagi penyerapan tenaga kerja (semi skilled dan high skilled) masih terbatas. Kalau driver online jutaan yang terserap lebih masuk kategori low skilled atau mengerjakan pekerjaan yang sederhana."

Bhima menambahkan, SDM high skilled startup di Indonesia masih dipenuhi dari tenaga kerja asing atau outsourcing ke negara lain. Contoh kasus adalah Gojek dimana pengembangan IT dilakukan sebagian di Kota Bangalore India. Hasil data Glassdoor (update per 26 Juli 2019)  menunjukkan gaji Data Scientist di kantor Gojek Bangalore rata rata 2.1 juta rupee per tahun atau dikonversi ke rupiah setara Rp35.7 juta per bulannya. Jadi bukan masalah upah di India lebih murah dibanding tenaga kerja Indonesia. Permasalahan utama adalah skill SDM di Indonesia belum memenuhi syarat untk berkompetisi di dunia ekonomi digital.

Pada prinsipnya dana asing yang mengalir ke Unicorn punya beberapa kepentingan yang mesti dicermati. Dan itu meliputi integrasi horizontal yakni startup di indonesia digunakan sebagai rantai pasok produk perusahaan lain. Misalnya startup unicorn ecommerce digunakan untuk memasarkan produk Taobao, Alibaba dari China. Integrasi juga termasuk outsourcing SDM IT atau high skilled ke perusahaan afiliasi investor.

Selain itu juga pemanfaatan data pribadi untuk pemasaran atau market intelligences. Dengan gunakan big data mereka bisa petakan perilaku konsumen Indonesia untuk memasarkan produk dari perusahaan lain yangg terafiliasi. Ketergantungan konsumsi pada layanan yang disuntik oleh investor asing. Di transportasi online, kedua operator melakukan promosi dan diskon tak berkesudahan. Bahkan ada yang berani beri 90% diskon dan/atau cashback. Tujuannya agar menciptakan dinding penghalang bagi kompetitor (entry barrier). Jika marketshare sudah mereka kuasai, konsumen tidak ada pilihan lain kecuali memakai produk startup tadi. Iklim Persaingan usaha yang sehat bisa rusak.

Bhima pun menyarankan, pemerintah perlu samakan aturan barang impor di retailer konvensional dan online. Sebelumnya sudah ada beberapa pembatasan produk impor melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112/PMK.04/2018 (PMK 112). Kebijakan tersebut memperkecil nominal ketentuan nilai bebas bea masuk dari USD 100 menjadi USD 75 per hari. Tapi aturan itu belum cukup. Porsi barang impor di ecommerce harus diatur misalnya 70% harus menjual produk yang diproduksi lokal.

"Mendorong dibentuknya agregator untuk menyerap dan memfasilitasi produk produk umkm yang akan dipasarkan ke marketplace. Fungsi agregator meliputi logistik, quality control dan pendampingan. Dan memberdayakan UMKM di 75.000 desa untuk memasarkan produknya secara online dan syukur kalau bisa ekspor. Dana desa yang jumlahnya 70 T per tahun bisa dimanfaatkan untk BUMdes.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X