
hariansuara.com, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman berpendapat kondisi perekonomian Indonesia masih akan stagnan pada 2020. Artinya perekonomian nasional tidak jauh lebih baik dari tahun 2019 ini. Tentunya, pemerintah akan mempunyai tantangan besar tersendiri dalam mencapai target tersebut.
"Apalagi target pertumbuhan ekonomi yang berada pada tingkat 5,3% dengan mengandalkan konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak utamanya. Padahal kedua indikator tersebut, saat ini (Tahun 2019:triwulan II) masih belum memberikan sinyal yang lebih baik sesuai yang diharapkan. Misalnya saja, target investasi masih belum memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan II. Termasuk juga daya beli yang perlu digenjot lagi, agar konsumsi masyarakat semakin meningkat," tuturnya dalam diskusi online INDEF bertajuk “Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2020: Harapan dan Tantangan”, beberapa waktu lalu.
Selain itu, untuk asumsi kedua, dimana di tengah kondisi eksternal yang masih dibayangi oleh ketidakpastian, apalagi kondisi ekonomi global yang masih unpredictable, perang dagang antara US dan China, akan sangat berdampak terhadap ketercapaian target asumsi ini. Apalagi kondisi nilai tukar terhadap US dollar yang kian tidak mudah dikendalikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai tukar Rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp14.400 per dolar
"Amerika Serikat sangat berat mengontrolnya. Termasuk dalam hal ini perlu kebijakan moneter yang kondusif. Efeknya tentu saja, aliran investasi (capital inflow) yang belum bisa dijamin masuk ke dalam negeri. Selain persepsi dan sentiment pasar terhadap perbaikan iklim investasi masih butuh kondusifitas yang positif. Termasuk juga perlu perbaikan FDI yang perlu effort dalam antara kebijakan moneter yang ekspansif dan juga fiskalnya," tambahnya.
Berikutnya, adalah asumsi ketiga. Dimana Indonesian crude price (ICP) yang diperkirakan 65 US$ per barrel masih bersifat unpredictable. Tentu saja elastisitas harga minyak mentah dunia sangat elastis, dimana sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Tentu angka ini juga masih sangat rentan berubah. Oleh karena itu, untuk asumsi ini sangat rentan terjadinya perubahan-perubahan target ekonomi yang akan dicapai.
Asumsi tersebut berkaitan dengan besaran masih akan berubah. Hal ini jika dilihat hasil perkiraan bahwa pertumbuhan produksi minyak mentah lebih tinggi dibandingkan dengan permintaannya pada tahun 2019. Implikasinya, pergerakan harga sedikit mengalami penurunan. Pertumbuhan produksi ini juga didorong oleh meningkatnya cadangan shale oil oleh AS. Artinya permintaan minyak mentah pada tahun 2020 diperkirakan. Artinya perkiraan permintaan minyak mentah dunia tahun 2019 sebesar 101,7 juta barel per hari, akan meningkat di tahun 2020.
Di sisi lain, produksi minyak mentah tahun 2019 diperkirakan pada kisaran 103,5 juta barel per hari, meningkat dibandingkan dengan produksi minyak mentah tahun sebelumya sebesar 101,3 juta barel per hari.
Berbicara asumsi yang keempat, dimana lifting migas merupakan volume produksi minyak dan gas bumi dari lapangan migas nasional yang dijual atau disalurkan. Lifting migas bersama ICP merupakan dasar perhitungan dalam pelaksanaan anggaran pemerintah, terutama untuk perhitungan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sumber daya alam sektor migas, penerimaan perpajakan di sektor migas, serta transfer ke daerah dalam bentuk Dana Bagi Hasil (DBH) untuk daerah penghasil migas.
Target pada asumsi keempat ini nampaknya lebih rendah dari tahun 2019. Dimana pada 2019, Lifting minyak dan gas bumi diperkirakan mencapai 2,25 juta barel setara minyak per hari (bsmph) terdiri atas lifting minyak bumi sebesar 775 ribu barel per hari (bph) dan lifting gas bumi sebesar 1,25 juta barel.
"Artinya, bahwa asumsi pertumbuhan ekonomi berasal dari lifting migas tahun 2020 lebih rendah dibandingkan tahun 2019. Ini menunjukkan bahwa kontribusi dari lifting ini sangat berat dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Hal ini selain investasi yang masih belum memberikan kontribusi dalam usaha di sektor hulu migas juga perlu upaya yang lebih besar dan kongkrit aktivitas investasi tersebut untuk menjaga keberlanjutan produksinya. Dari kondisi ini, dapat dilihat bahwa keempat asumsi ini, tahun 2020 masih belum akan memberikan kondusifitas pertumbuhan ekonomi yang kian membaik," pungkasnya.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU