Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Ingin Jadi Mesin Ekonomi Halal Dunia, Indonesia Harus Punya Rencana Aksi Terukur

Ekonomi & Bisnis
23 Aug 2019
Ingin Jadi Mesin Ekonomi Halal Dunia, Indonesia Harus Punya Rencana Aksi Terukur

hariansuara.com, Jakarta - Indonesia harus memiliki panduan, pegangan terkonsolidasi, dan rencana aksi (action plan) terukur untuk dapat menjadi mesin ekonomi halal dunia. Potensi besar ekonomi halal dapat menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru di 2024.

Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center, Sapta Nirwandar, mengatakan Indonesia mampu menjadi salah satu pemimpin pasar ekonomi syariah karena memiliki modal jumlah penduduk Muslim terbesar dunia.

"Sayangnya, menurut Global Islamic Economy Indicator, di 2018 Indonesia ini masih menempati urutan yang kesepuluh dalam peringkat negara-negara yang menyelenggarakan ekonomi syariah. Dengan memiliki rencana aksi terukur, ditargetkan pada 2024 dapat meningkat ke urutan kelima," kata Sapta Nirwandar pada diskusi bertema "Indonesia Menuju Pusat Ekonomi dan Keuangan Islam Dunia" di The Ritz-Carlton, Kuningan, Jakarta, Jumat (23/8/2019).

Mantan Wakil Menteri Pariwisata itu optimistis target tersebut bisa tercapai bila didukung ekosistem yang kondusif. Dia menyontohkan Malaysia yang menerapkan konsep ekonomi halal pada produksi, layanan, infrastruktur, dukungan pemerintah, dan sumber daya manusia.

"Peluang yang didapatkan bila kita mengembangkan ekosistem industri halal di Indonesia yakni peluang domestik 218,8 miliar dolar AS. Pasar domestik akan tumbuh 5,3% hingga 2025. Peluang Ekspor dalam 249 miliar dolar AS," kata Sapta Nirwandar.

Selain itu, produk substitusi impor 19,5 miliar dolar AS dalam impor produk ekonomi halal. "Industri halal di Indonesia berpotensi untuk menarik investasi asing secara langsung senilai 1 miliar dolar AS dan dapat membuka 127 ribu lapangan pekerjaan baru per tahun. Kita memiliki halal champions antara lain Indofood, Mayora, Garuda Food, Wardah, El Corps dan lain lain," kata Sapta Nirwandar.

Untuk itu, kata dia, dibutuhkan literasi dan edukasi sebagai konsumen negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. "Sayangnya masih belum ada strategi dan kebijakan pemerintah untuk memberikan kejelasan bagi konsumen dan produsen industri halal di Indonesia," ujar dia.

Sebagai contoh wisata halal, belum lama ini ada presepsi soal halal tourism itu ekslusive. Tetapi sebenarnya halal tourism itu extended services, tidak tertutup bagi kaum nonmuslim. Seperti yang dikatakan Bapak Wakil Presiden terpilih KH Ma’ruf Amin yang juga Ketua Majelis Ulama Indonsia (MUI), bahwa bicara wisata halal, yang dihalalkan bukanlah destinasi atau tempat tujuan wisatanya, tapi pelayanannya. 

"Termasuk di dalamnya hotel syariah, restoran syariah dan spa pun harus syariah. Potensi wisata halal di Indonesia sangat luar biasa. Sayangnya, belum ditangani secara serius. Karenanya peranan pemerintah dan pengusaha dalam mengembangkan produk dan jasa halal sangat penting, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Bahkan, wisata halal dapat memberikan manfaat bagi semua pihak," tutur Sapta.

Saat tampil pada pembukaan KH Ma'ruf Amin yang juga Ketua Umum Dewan Pertimbangan Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) menyampaikan sejumlah poin penting ekonomi syariah.  Kemudian, strategi, peluang, dan tantangan menuju masa depan ekonomi syariah di Indonesia. 

Pada sesi diskusi yang digelar IAEI itu tampil tiga pembicara yakni Ketua Umum IAEI yang juga Menteri Bappenas RI Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.  Kemudian, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah, dan Adiwarman Azwar Karim dari Karim Consulting. (*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X
X