Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Sedia Payung Sebelum Resesi dengan Cara Ini

Ekonomi & Bisnis
09 Sep 2019
Sedia Payung Sebelum Resesi dengan Cara Ini

hariansuara.com, Jakarta -  Fadhil Hasan, Ekonom Senior di INDEF, mengatakan ancaman pelemahan ekonomi dunia dimulai tanda-tandanya dari ekonomi AS.  Untuk hal ini, perlu diperhatikan beberapa faktor.  Pertama, ekonomi mengalami ekspansi yang cukup panjang, bahkan terpanjang, yakni selama hampir 10 tahun (2009-2019).  Biasanya ekspansi berjalan selama 7-8 tahunan, sering disebut siklus bisnis.  Jadi besar kemungkinan ekspansi ini akan segera berakhir. 

Kedua, ada fenomena menarik yakni apa yang disebut inverted yield, yakni imbal hasil obligasi AS bertenor jangka pendek lebih tinggi dari imbal hasil obligasi jangka panjang. Hal ini terjadi karena orang melihat dalam jangka panjang, prospek ekonomi tidak begitu bagus, makanya obligasi jangka panjang lebih rendah.  Fenomena ini juga terjadi tahun 2007, dan 3 bulan kemudian ekonomi AS memasuki masa resesi.

Fadhil  mengatakan fenomena tersebut ditambah dengan policy behaviour dari trump, yang sangat unpredictable sehingga menciptakan uncertainty, terutama kaitannya dengan perang dagang dengan China. Jadi itu dua faktor penting dari ekonomi AS yang akan menimbulkan dampak terhadap ekonomi dunia.

Sudah barang tentu, ekonomi di berbagai negara (China,EU, Japan, Korea, dan lainnya), juga akan memberi dampak. Adanya perlambatan ekonomi di berbagai negara  ditambah lagi dengan faktor menurunnya volume perdagangan dunia, dan menurunnya harga komoditas akan besar dampaknya terhadap negara-negara yang export oriented economy termasuk Indonesia.

"Bagaimana Indonesia?  Kita pernah mengalami krisis dalam skala besar (1998), atau yang lebih kecil (2008), atau berbagai shock (taper tantrum, 2013), kecuali krisis 1998, Indonesia berhasil melalui krisis tersebut relatively dengan baik.  Alasannya kita belajar dari krisis tahun 1998, dan melakukan reformasi berbagai kebijakan fiskal dan moneter serta sektoral setelah itu, sehingga lebih resilien terhadap berbagai krisis atau shock yang terjadi," tuturnya dalam diskusi INDEF bertema, "Antisipasi Ancaman Resesi Ekonomi", Minggu, (8/9/2019).

Jika krisis terjadi, sambung Fadhil, maka skalanya akan lebih besar, sekali lagi jika berbagai negara tidak melakukan langkah-langkah antisipatif bahkan mengeluarkan kebijakan yang counter productive (seperti currency war, kebijakan protektif, inward looking policy, dan seterusnya).

"Respon Indonesia, seharusnya sedia payung sebelum hujan, dimulai dari sekarang melakukan langkah-langkah kongkrit yang antisipatif.  Berikut beberapa langkah yang perlu diambil. Pertama, melakukan reformasi struktural secara lebih fundamental terutama terkait dengan aturan dan perizinan, seperti; penurunan restriksi perdagangan (tarif dan non tarif), perizinan FDI harus direlaksasi, peraturan pemerintah daerah yang memberatkan ekonomi juga harus dihilangkan," katanya.

Kedua, melanjutkan pembangunan infrastruktur secara lebih terarah dan terencana sehingga membawa dampak ekonomi lebih signifikan. Ketiga, genjot ekspor habis-habisan, dengan menghilangkan berbagai restriksi dan promosi besar2an dengan target market yang terukur.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X