
hariansuara.com, Jakarta - Hubungan Indonesia dan Jepang telah berlangsung dengan baik selama puluhan tahun terutama dalam bidang ekonomi dan perdagangan. Akan tetapi, ketika terjadi perang dagang antara Amerika Serikat dan China, mengapa pengusaha Jepang tidak memilih Indonesia sebagai negara pilihan relokasi pabrik-pabrik mereka?
Untuk menjawab fenomena tersebut dan sebagai bagian dari citizen diplomacy, para alumni Politeknik Keuangan Negara STAN yang sedang menjalankan studi S2 dan S3 di Jepang menyelenggarakan sebuah Seminar Internasional bertajuk Bridging Indonesia-Japan Relations.
Dalam penyelenggaraan seminar ini, IKANAS STAN Asia Timur berkolaborasi dengan berbagai organisasi masyarakat Indonesia di Jepang yaitu Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), dan Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah. Berperan sebagai sponsor adalah Universitas Waseda dan PT Pertamina (Persero). Acara ini dihadiri oleh puluhan peserta yang merepresentasikan pelajar, mahasiswa, dosen, organisasi masyarakat, perusahaan, dan pemerintah baik dari Indonesia dan Jepang.
Bertindak sebagai keynote speaker, Dr. Irwanda Wisnu Wardhana sebagai Wakil Ketua IKANAS STAN dan Peneliti Badan Kebijakan Fiskal, menyampaikan dinamika sejarah hubungan Indonesia dan Jepang sejak periode Perang Dunia Kedua sampai dengan situasi sekarang. Di masa kini dan masa mendatang, kedua negara dengan keunggulannya masing-masing dapat berkolaborasi dengan lebih lebih baik dalam menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 dan geopolitik kawasan.
Selanjutnya, tiga pembicara seminar menyampaikan ide dan gagasannya untuk meningkatkan hubungan Indonesia dan Jepang. Agar terjadi peningkatan investasi di Indonesia oleh pengusaha Jepang, Dr. Eric Alexander Sugandi menyarankan penyediaan infrastruktur, kepastian hukum, sinkronisasi peraturan pusat dan daerah, dan antikorupsi.
Professor Saki Urushi dari Osaka University of Economics menyoroti kebijakan pajak dan bea cukai untuk hubungan dagang yang lebih baik antara dua negara karena kebijakan perpajakan dapat mempengaruhi hubungan dagang kedua negara. Kedua negara perlu memahami bahwa peraturan pajak international dapat merubah struktur industry khususnya menghadapi tantangan industri digital. Sebagai penutup, Sonny Surachman Ramli sebagai Atase Keuangan pada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo, menyampaikan berbagai program prioritas pemerintah Indonesia terkait peningkatan investasi dan perdagangan untuk memperkuat hubungan Indonesia dan Jepang.
Seminar ini menghasilkan kesimpulan bahwa masih terdapat banyak ruang untuk meningkatkan hubungan baik antara Indonesia dan Jepang baik di berbagai sektor. Diharapkan, pengusaha Jepang dapat meningkatkan investasi ke Indonesia. Di pihak lain, Indonesia harus bekerja keras untuk meningkatkan iklim investasi sehingga investor Jepang memilih Indonesia sebagai destinasi investasi mereka.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU